Lahore, Taman Sejarah Islam

1, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (1):

PENGANTAR – Selama dua pekan mulai 19 Februari 2001, saya berada di Pakistan untuk mengikuti International Training Session. Bersama 14 orang lainnya dari berbagai profesi yang terpilih sebagai LEAD (Leadership for Environment and Development) associate, saya bergabung dengan 140 peserta lain dari 25 negara di Lahore University of Management Sciences. Training ini merupakan sesi internasional pertama bagi LEAD Cohort 9 (angkatan kesembilan) dan masih akan mengikuti berbagai sesi nasional dan sesi internasional berikutnya selama dua tahun ini. Berikut beberapa carik catatan saya tentang kunjungan tersebut:

SENIN malam 19 Februari 2001, pukul 19.30 (dua jam lebih awal dari WIB), pesawat Singapore Airlines SQ 153 mendarat dengan mulus di Lahore International Airport, Pakistan. Setelah terbang selama enam jam dari Singapura, kilatan-kilatan lampu dari bumi Pakistan di malam hari seolah menyambut kedatangan kami.

Ada sedikit kekuatiran juga dalam diri kami begitu sampai di Pakistan. Selama ini, media barat sering mempersepsikan Pakistan sebagai negara yang tidak aman, sering terjadi kudeta, tempat berkeliarannya teroris,  bom di mana-mana, dan segala macam biang masalah lainnya. Benarkah demikian?
Yang jelas, sejak malam itu, saya mulai mencatat kejutan-kejutan yang dijumpai. Kesan kita sebelum dan sesudah berada di Pakistan nampaknya akan jauh berbeda…
Begitu menginjakkan kaki di bandara Lahore tersebut, saya agak terkesima juga: bandara internasional? Rasanya kok bandara-bandara domestik di Indonesia masih lebih bagus dari ini? Konstruksi bangunannya boleh dikatakan biasa saja, apalagi sudah sangat tua. Tapi, berbeda dengan sejumlah bandara domestik di Indonesia, lalu-lintas orang luar biasa ramai di sini. Pesawat yang datang dan pergi frekuensinya cukup tinggi, mungkin setiap satu jam ada.

Saking ramainya, sehingga belum cukup tertampung oleh bandara yang tidak begitu luas ini. Buktinya, pesawat kami harus menunggu setengah jam dulu begitu mendarat, karena ada pesawat lain yang mau take-off. Setelah itu, baru kemudian menuju ke landasan parkir.

Ternyata, bukan ukuran bandara yang menjadikannya bandara internasional atau tidak, tapi tingkat kebutuhan orang terhadap kawasan tersebut. Bandara Lahore mungkin biasa-biasa saja, tapi karena banyak orang asing yang berkunjung ke sini, baik untuk bisnis atau pendidikan, akhirnya bandaranya harus bisa mengakomodasi bandara internasional.

Meskipun secara fisik bandaranya biasa-biasa saja, tapi jangan salah sangka, kaliber bandara internasional memang pantas dilekatkan padanya. Petugas-petugas di bandara ini cukup profesional, segala sesuatu bisa diselesaikan dengan cepat, counter keimigrasiannya cukup banyak sehingga dengan cepat dapat memproses setiap orang asing yang masuk.

Aroma bahwa Pakistan saat ini dikuasai oleh sebuah pemerintahan militer pasca kudeta sejak setahun yang lalu, langsung terasa ketika kami melihat begitu banyak petugas keamanan bertugas di bandara ini. Tampangnya rada-rada sangar juga: berkumis dan berjenggot lebat sambil menyandang senjata api. Tapi mereka cukup ramah juga, helpful, dan menyapa “Assalamualaikum…”.

Kami dijemput oleh Javeed Afzal, salah seorang panitia di sana, dan bus langsung membawa kami menuju tempat penginapan.

Melewati jalan-jalan di kota Lahore, rasanya tak jauh beda dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Bandung atau Bogor. “Anda beruntung saat ini berada di Lahore, karena saat ini sedang diadakan Spring Festival,” ujar Javeed, LEAD Cohort 7.

Dan memang, sungai yang berada di tengah kota sudah ‘didandani’ dengan berbagai lampu dan berbagai dekorasi. Berbagai pasar malam juga digelar di sejumlah sudut kota. Meriah sekali Lahore di malam hari.

Akhirnya kami sampai di Lahore University of Management Sciences (LUMS), di kawasan Lahore Cantt. Sebuah kampus megah yang berarsitektur ala Inggris dengan fasilitas sangat lengkap dan canggih. Di sinilah, International Training Session akan diadakan dan sekaligus penginapan bagi para pesertanya. “Silahkan check-in dulu, istirahat, dan segera mampir ke Executive Dining Room untuk makan malam. Associate lain yang datang lebih awal sudah berada di sana,” ujarnya lagi.

Rombongan LEAD Indonesia termasuk yang datang tepat waktu, yakni pada malam sebelum acara dimulai – rombongan lain, karena alasan ketersediaan flight, ada yang datang besoknya, ketika acara sudah dimulai.
LEAD Indonesia datang full-team. Ke-15 Indonesian associate itu didampingi oleh M.S Kismadi (National Program Director) dan Taufik Alimi (Academic Coordinator).

Mereka adalah: Fetty Fajriati (penyiar RCTI Jakarta), Swari Utami Dewi (Lembaga Pembela Hak Sipil dan Politik UNIFEM), Rachmawati S. Djembarmanah (dosen ITENAS Bandung), Nosi Lestariwati (Manajer HRD The Club Store), Yulia Indawardhani Lubis (Grameen Bank Replica NGO, Medan), Anjelita Malik (Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah), Laode Asmar Parsan (PT Industri Kapal Indonesia, Makassar), Semiarto Aji Purwanto (Dosen Antropologi FISIP UI), Budi Putra (wartawan Mimbar Minang), N. Imamsjah Roesli (PT National Gobel), Joko Roesmanto (Pusat Penelitian Gula, Pasuruan), Susi Sarumpaet (Dosen Unila), Suryaningsih Farianto (Konsultan PT Spektra Megah Semesta), Jarot Wahyudi (dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) dan Chandra Wirman (konsultan PT Pama Persada Nusantara, Jakarta).

LAHORE adalah kota kedua terbesar setelah Karachi (bekas ibukota), dan kemudian baru Islamabad — ibukota saat ini. Kota dengan jumlah penduduk  5,5 juta jiwa ini dijuluki kota Metro Kultural karena mewarisi berbagai macam peninggalan kebudayaan Hindu dan Islam. Sebelumnya, kota ini bernama Lohwar, Lohor dan Lahoure.

Terletak di sepanjang Sungai Ravi, Lahore juga dikenal sebagai ‘city of gardens’ (kota taman). Lahore menjadi ibukota Punjap sejak Pakistan memisahkan diri dari India, 1947, sebagai Negara Islam.

Puncak kejayaan kawasan ini terjadi pada masa Dinasti Mughal (1326-1707). Pada masa ini, Lahore memang menjadi alternatif utama bagi para raja, yakni Raja Akbar, Jehangir, Shah Jahan dan Aurengzeb untuk berdomisili, ketimbang Delhi atau Agra.

Lahore memang menyimpan berbagai situs Sejarah Islam. Banyak orang yang datang ke Lahore untuk mempelajari arsitektur Mesjid Badshahi (Raja Aurengzeb), Taman Salimar (Raja Shah Jahan), dan Royal Fort (Raja Akbar).

Tak salah kalau orang datang ke Lahore untuk belajar. Kota ini memang kota yang nyaman, cool dan ramah bagi para pelajar dan mahasiswa. Tak heran kalau para raja di zaman dahulu sangat betah berada di kota ini. [G!]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: