Perseteruan Abadi dengan India

2, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (2)

BERBEDA dengan tradisi di Indonesia yang suka memasang foto presiden dan wakil presidennya dalam ruangan di kantor-kantor, di Pakistan justru dipasang foto dua orang tokoh yang bukan presiden, atau perdana menterinya saat ini. Tapi dua orang tokoh sejarah mereka: Muhammad Ali Jinnah dan Muhammad Iqbal. Yang pertama adalah pendiri Republik Islam Pakistan, satunya lagi adalah pujangga terkenal yang ikut memotivasi Jinnah dalam memerdekakan Pakistan.

Ali Jinnah memang identik dengan sejarah kontemporer Pakistan dan ia digelari dengan quaid-i-zam, pemimpin besar. Meski kecewa berat terhadap sikap tokoh-tokoh Partai Kongres India dan pukulan yang menghantam dari berbagai sudut, namun Ali Jinnah tidak bisa bertahan lama ber-uzalah di London, Inggris. Sebagai seorang nasionalis, panggilan "bumi pertiwi" selalu menggema di telinganya. Karena itu, pada 1934 ia pulang ke India.

Setibanya di tanah air yang dicintainya, Ali Jinnah diminta kembali untuk memimpin Liga Muslimin. Kali ini, ia diangkat menjadi ketua tetap partai umat Islam tersebut. Untuk membawa Liga Muslimin ke arah kejayaan, Ali Jinnah mengubah gaya kepemimpinannya.

Apabila sebelumnya, ia hanya berorientasi kepada kaum elite, hartawan, pegawai tinggi, dan kaum cendekiawan, kini ia menggalang kekuatan rakyat banyak. Sebelumnya, walaupun Liga Muslimin adalah partai Islam, namun hubungan partai ini dengan kaum muslimin awam hampir tidak ada. Wilayah operasional partai ini, hanya kalangan atas dengan menggalang kelompok elite muslim India.

Pada 1937, Liga Muslimin mendapat kesempatan ikut pemilihan umum daerah. Namun, suara yang diperoleh partai ini sangat tipis, bahkan di daerah-daerah yang mayoritas muslim pun Liga Muslimin mengalami kekalahan dari Partai Kongres. Akibatnya, tidak ada seorang pun tokoh Liga Muslimin yang diangkat menjadi menteri di daerah.

Menteri-menteri yang diangkat, adalah tokoh-tokoh nasionalis Partai Kongres. Kalaupun ada tokoh beragama Islam yang diangkat menjadi menteri, tokoh itu adalah tokoh muslim dari Partai Kongres, bukan dari Liga Muslimin.

Kenyataan pahit ini tidak hanya memukul Liga Muslimin, tetapi juga membawa partai ini makin dikucilkan dalam percaturan politik di India. Partai Kongres makin menganggap remeh Liga Muslimin. Hal ini terlihat, antara lain ketika Nehru, pemimpin Partai Kongres, menyatakan bahwa hanya ada dua kekuatan politik di India, yaitu Partai Kongres dan Pemerintah Inggris. Ini berarti Liga Muslimin tidak diperhitungkan sama sekali.

Sikap Nehru tidak cuma sampai di situ. Ia juga secara transparan menunjukkan sikap politik diskriminatif terhadap umat Islam. Posisi umat Islam yang minoritas makin terjepit. Kenyataan ini pada akhirnya membangkitkan kesadaran kaum muslimin India, untuk menyusun kekuatan baru.

Mereka sadar, apabila terus berpangku tangan dan tidak bersatu, mereka akan semakin tersudut dan eksistensi mereka makin terancam.

Pada sisi yang lain, Sir Muhammad Iqbal menulis surat kepada Ali Jinnah yang mengingatkan, bahwa organisasi politik tidak akan mendapat dukungan mayoritas massanya, apabila organisasi itu tidak menjanjikan perbaikan-perbaikan dan terpenuhinya kebutuhan dan aspirasi mereka.

Usaha-usaha menggalang kekuatan umat Islam pun dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kegiatan ini ternyata membawa hasil yang menggembirakan. Kaum muslimin, terutama di daerah-daerah mayoritas muslim, mulai memperhatikan Liga Muslimin.

Secara perlahan tapi pasti, mereka akhirnya mendukung partai ini dan mengakui sebagai satu-satunya partai umat Islam untuk memperjuangkan kepentingan mereka di seluruh India. Dukungan mengalir tidak saja dari kalangan bawah, tetapi juga dari para menteri di wilayah mayoritas Islam. Mereka mulai menjalin kerja sama dengan Ali Jinnah, seperti perdana menteri Punjab, Bengal dan Sind.

DERASNYA dukungan yang mengalir kepada Liga Muslimin makin memperkuat keberadaan partai ini. Kenyataan tersebut ingin dimanfaatkan Ali Jinnah untuk, sekali lagi, berunding dengan golongan nasionalis di Partai Kongres dengan harapan Liga Muslimin mendapat tempat untuk ikut serta menentukan masa depan India.

Namun perundingan itu selalu gagal. Golongan nasionalis India tetap tidak mengakui Liga Muslimin sebagai satu-satunya organisasi politik umat Islam India.

Setelah berbagai usaha untuk menjalin kerja sama dengan Partai Kongres tidak berhasil, Ali Jinnah sadar bahwa kepentingan umat Islam India tidak bisa lagi dijamin melalui perundingan-perundingan. Harapan agar kepentingan umat Islam dapat terjamin secara konstitusional, tercantum di dalam Undang-undang Dasar India yang akan disusun sudah pupus.
Kepercayaannya terhadap Partai Kongres telah hilang, kesimpulan yang diambilnya adalah — sebagaimana dicita-citakan Sir Muhammad Iqbal — kepentingan umat Islam India hanya bisa terlindungi, apabila mereka memiliki negara sendiri yang terpisah dari umat Hindu.

Untuk merealisasi ini, Liga Muslimin harus bekerja keras dan Ali Jinnah pun mulai mengatur strategi perjuangannya. Pada tahun 1940 diadakan rapat tahunan Liga Muslimin di Lahore. Rapat yang dipimpin langsung oleh Ali Jinnah ini, melahirkan sebuah resolusi yang dikenal dengan nama "resolusi Lahore".
Isinya antara lain: Pertama, sebagai suatu bangsa, umat Islam India memerlukan tanah air yang terpisah untuk hidup sebagaimana layaknya suatu bangsa yang bebas dan terhormat, dan sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Kedua, daerah yang berpenduduk mayoritas Islam dan yang secara geografis berdampingan, seharusnya menjadi sebuah negara baru. Negara ini diberi nama Pakistan.

Sebagai tindak lanjut dari resolusi ini, Liga Muslimin menetapkan tujuan perjuangannya adalah mewujudkan negara Pakistan itu dalam kenyataan. Langkah-langkah kearah itupun mulai disusun dan berbagai aktivitas dilakukan.

Resolusi Lahore dan penetapan tujuan perjuangan Liga Muslimin tersebut, ternyata membawa pengaruh besar terhadap kaum muslimin di berbagai lapisan. Dukungan dari umat Islam makin mengalir deras. Bahkan, sejumlah tokoh muslim yang sebelumnya bergabung dengan Partai Kongres, meninggalkan partai ini untuk bergabung dengan Liga Muslimin.

Dukungan tidak hanya diberikan oleh warga masyarakat dan tokoh-tokoh Islam, tetapi juga dari organisasi Islam lain yang ada di India, sehingga Liga Muslimin semakin bertambah kuat.
Kenyataan ini membawa perubahan pandangan terhadap tokoh-tokoh Partai Kongres. Mereka mulai memperhitungkan kekuatan baru Liga Muslimin. Karena itu, pada 1944 mereka bersedia mengadakan perundingan dengan Liga Muslimin tentang aksi bersama terhadap Inggris.

Namun perundingan ini tidak menghasilkan apa-apa, karena perbedaan pandangan di antara kedua belah pihak mengenai masa depan India sangat tajam. Kedua belah pihak, akhirnya kembali ke "markas" masing-masing tanpa membawa kesepakatan berarti.
Sementara itu, apabila di dalam resolusi Lahore tentang negara Pakistan belum begitu jelas, maka kini Ali Jinnah mempertegas bagaimana wujud negara Pakistan yang diperjuangkan oleh Liga Muslimin.

Menurutnya, negara ini meliputi enam daerah yaitu daerah perbatasan Barat Laut, Bulukhistan, Sindi, dan Punjab di sebelah barat serta Bengal dan Assam di sebelah timur. Jumlah penduduk muslim di daerah-daerah tersebut, 70 juta jiwa yang merupakan 70 persen dari jumlah penduduk. Pemerintahan di daerah-daerah itu akan berada di tangan umat Islam dengan tetap mengikutsertakan umat nonmuslim sesuai persentasi penduduk mereka masing-masing di tiap daerah.

Makin jelasnya konsep tentang negara Pakistan membawa Liga Muslimin makin populer, sehingga lahir sebuah slogan yang meluas di kalangan masyarakat Pakistan ka Matlab Kiya, la Ilaha Ilallah (Pakistan merupakan tuntutan. Tidak ada Tuhan selain Allah).

Pada 1946 dilaksanakan kembali pemilihan umum. Kali ini suara yang diperoleh Liga Muslimin melonjak drastis, jauh dibanding pemilu 1937. Seluruh kursi yang disediakan untuk golongan Islam di Central Assembly (dewan pusat), dapat direbut oleh Liga Muslimin.

Kemenangan ini merupakan kemenangan besar dan gemilang. Kemenangan yang membawa Liga Muslimin naik ke puncak kejayaan, dan pada akhirnya mampu mewujudkan cita-cita, yaitu lahirnya negara Pakistan yang merdeka. [G!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: