Kudeta Militer yang Sukses

3, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (3):

KAWASAN ini selalu menghangat, karena terlibat perebutan wilayah Kashmir dengan bekas 'induk semangnya', India. Pakistan semula memang bagian dari India. Pada 1947 memisahkan diri karena mayoritas (97%) dari 133,5 juta penduduknya beragama Islam, mendapat perlakuan tak adil dari pemerintah India yang didominasi ummat Hindu. Pada1968, Pakistan juga dilanda kerusuhan internal antara wilayah barat dengan timur.

Di sini India mendukung Pakistan Timur, hingga pada 1972 wilayah itu menjadi negara tersendiri dengan nama Bangladesh. Pakistan meliputi wilayah seluas 803.940 km2 dengan ibu kota Islamabad. Wilayahnya berbatasan dengan Afghanistan dan Cina di utara, Laut Arab dan India di selatan, Iran di barat dan Bangladesh di timur. Peradaban Pakistan bermula dari lembah Sungai Indus yang menjadi satu dari empat pusat peradaban dunia. Kerajaan Gandhara diperkirakan sudah berdiri di sana pada tahun 3500 SM.

Selanjutnya wilayah ini menjadi daerah taklukan Persia dan Romawi. Hindu masuk pada abad ke-3 SM dan berpengaruh kuat. Namunkemudian memperoleh perimbangan saat Islam masuk ke sana pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Pada abad ke-8, kekuasaan Islam di sana sangat terorganisasi hingga berhasil mendirikan kesultanan di New Delhi. Namun kesultanan itu diambil alih Dinasti Moghul pada abad ke-16. Kekuasaan dinasti keturunan Timur Lenk ini berakhir di tangan Inggris pada 1757.

Lebih dari seabad, wilayah tersebut dikuasai Inggris. Tuntutan untuk memisahkan diri dari India yang dimotori Muhammad Ali Jinnah mengkristal pada 1940 dengan dibentuknya Liga Islam. Baru pada 1947 Pakistan diakui menjadi negara tersendiri sebagai dominion dalam Persemakmuran Inggris. Selain dalam masalah Kashmir yang berlarut hingga kini, Pakistan dan India sempat terlibat perebutan wilayah Punjab dan Bengal.

Penduduknya terbilang multietnis, terlihat dari keragaman bahasa pengantar yang digunakan seperti Urdu, Punjabi, Shindhi dan Pasthun. Namun keragaman itu disatukan oleh kesamaan agama yaitu Islam. Pemilu pertama digelar 1977, namun berakhir dengan ketidakpuasan partai oposisi. Ini karena partai yang berkuasa pimpinan Zulfikar Ali Buttho menguasai sampai 155 dari 200 kursi parlemen. Konflik politik memaksa Bhutto memerintah secara diktator.

Krisis politik terus berlanjut hingga Kepala Staf Angkatan Darat, Jendral Zia ul-Haq mengambil alih kekuasaan. Ia menghukum gantung Bhutto dengan tuduhan telah membantai lawan-lawan politiknya. Zia ul-Haq berkuasa lebih dari 10 tahun hingga pada 17 Agustus 1988 tewas karena pesawat yang ditumpanginya meledak.

Ini memudahkan jalan bagi Partai Rakyat Pakistan pimpinan Benazir Bhutto, puteri Ali Bhutto, untuk berkuasa. Pada masanya, Pakistan dikenal sebagai pendukung perjuangan Mujahiddin Afghanistan.

Militer kembali berkuasa setelah kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Nawaz Sharif. Keberadaan Pakistan di wilayah yang kerap diguncang konflik, memaksanya memperkuat militer. Pakistan termasuk satu dari sedikit negara dunia ketiga yang memiliki reaktor nuklir dan rudal-rudal berhulu ledak nuklir. Kekuatan militer ini dibangun atas kerjasama dengan Cina. Kondisi ini yang membuat hubungan Pakistan tak terlalu baik dengan Amerika Serikat. Bahkan konflik keduanya memuncak pada 1987 saat AS mencanangkan proliferasi nuklir.

KEJATUHAN Perdana Menteri Nawaz Sharif tahun lalu tidak sempat mengusik perhatian. Tetapi setelah penguasa baru militer melakukan banyak langkah lanjutan, tak urung orang berspekulasi kembali. Sharif sudah disidang di pengadilan, dan — tak jauh beda dengan Anwar Ibrahim di Malaysia — sidang itu berjalan dengan berat sebelah.

Jenderal Pervez Musharraf yang mengambil alih kekuasaan, telah memberi contoh kesuksesan kudeta di zaman modern. Ini mengkhawatirkan, sebab gampang sekali militer negara lain menirunya. Ia menemukan momen tepat, sehingga sekalipun terpaksa, orang harus mengalah kepadanya.

Kendatipun demikian, militer Pakistan tidaklah terlibat politik sedalam di Indonesia. Mereka tak punya wakil di parlemen. Sejak kejatuhan Zia ul-Haq lewat kecelakaan pesawat, pemerintahan sipil mendominasi. Tetapi pemerintahan sipil itu terus ganti-berganti, karena pemilu tidak menghasilkan satu pihakmayoritas. Presiden Pakistan juga terkesan begitu mudah menyatakan bubarnya sebuah kebinet, bahkan dengan alasan yang belum dibuktikan: korupsi dan kesalahan administratif.

Kekuasaan presiden seperti itulah yang ditentang Nawaz Sharif pada termin kekuasaannya yang terakhir. Ia bersikukuh mengamandemen UUD negaranya, dan berhasil. Presiden jadi kehilangan kewenangan untuk semena-mena menjatuhkan Perdana Menteri, dan tidak lagi mengangkat Panglima Militer.

Sayang, pelepasan kekuasaan itu menjadi sulit diterima lantaran sebaliknya membuat PM sangat berkuasa. Salah satu korbannya adalah militer. Nawaz Sharif gampang mengganti-ganti pucuk pimpinan militer, hingga mengusik `ketenangan' tentara.

Kekecewaan tentara bertambah setelah Sharif tidak cukup bereaksi dengan tindakan India yang menyerang Kargil, wilayah di Kashmir. Rumor yang berkembang, Sharif sedang menjalin bisnis gula dengan PM India Atal Behari Vajpayee, sehingga tidak punya nyali untuk membalas serangan. Ia memang pengusaha tulen, mewarisi bisnis orang tuanya yang sudah sukses sebelum Nawaz memasuki dunia politik. Maka militer kemudian mengambil langkah ekstrim menyingkirkannya.

Ada juga faktor eksternal yang memperburuk citra Nawaz dan menguntungkan militer, yakni hubungannya dengan Amerika. Sebenarnya, sejak jatuhnya Zia, Amerika sangat berperan di kancah perpolitikan Pakistan. Untuk mengendalikan negeri itu, Amerika memegang tiga kekuatan kunci, yakni Nawaz Sharif, Benazir Bhutto, dan pejabat Presiden. Ketiga pihak juga saling memanfaatkan. Itulah sebabnya, begitu mudah kekuasaan berpindah, dari Benazir ke Nawaz, ke Benazir lagi, ke Nawaz lagi. Memang ada proses pemilu yang menyelainya, tetapi pemilu itu hanya menetapkan 25% suara bagi Nawaz Sharif. Toh Presiden (Farooq Leghari saat itu) bisa mempersilakannya membentuk kabinet.

Rupanya Sharif kemudian terlalu jauh bermain. Setelah Presiden`dikalahkannya', ia mengancam Amerika pula. Sharif memanfaatkan kondisi dalam negeri untuk memeras Amerika, karena kalau PamanSam tidak membantu, katanya, Pakistan akan menjadi pusat gerakan radikal Islam. Setelah sekian lama setuju, akhirnya Amerika memilih jalan sendiri, lewat konspirasinya dengan pihak militer Pakistan.

KUDETA yang dilakukan Jenderal Pervez Musharraf tak ubahnya saat Zia ul-Haq menggulingkan Ali Bhutto. Sulit mengukur seberapa besar dukungan rakyat terhadap langkah ini, sebab semua stasiun radio, televisi, juga kantor pemerintahan di provinsi, dikuasai militer. Maka tuduhan korupsi terhadap Nawaz Sharif tidak ada yang membantah. Padahal semula publik kecewa dengan kudeta itu, yang jelas-jelasmemaksakan kehendak. Pervez yang sedang berkunjung ke Srilanka, dipecat Nawaz, diganti dengan jenderal yang dekat dengannya, Jenderal Ziauddin. Itulah penggantian kedua dalam setahun terakhir. Ternyata Pervez menolak, dan menggerakkan anak buahnya untuk menggulingkan PM. Nawaz langsung ditangkap, dan tentara bergerak ke lembaga-lembaga vital. Termasuk menguasai bandara, yang semula menolak pesawat Pervez mendarat hingga menahannya 45 menit di udara.

Belakangan, tuduhan mengancam keselamatan penumpang justru dituduhkan ke Nawaz Sharif, dengan alasan bila 5 menit saja tertunda mendarat, pesawat itu akan kehabisan bahan bakar. Apakah kini Pakistan akan kembali ke pemerintahan militer? Bisa jadi demikian, sekalipun Pervez pada awalnya menyatakan tidak. Ia melakukan itu, katanya, untuk menyelamatkan negara. Artinya setelah kondisi membaik, militer akan mengembalikannya ke pangkuan sipil.

Tetapi menilik langkah-langkahnya, Pervez justru akan menghabisi politisi penting sipil lewat tuduhan korupsi dan penyalahgunaan utang. Kebetulan, utang para pengusaha besar dan (sebagian) politisi itu mencapai 4 miliar dollar, cukup untuk modal memperbaiki perekonomian yang morat-marit. Pervez hanya memberi waktu sebulan untuk melunasi, atau mereka akan dipenjara. Tentu saja mayoritas tidak bisa memenuhi deadline itu, sehingga menjadi buron, termasuk mantan PM Benazir Bhutto maupun keluarga Nawaz Sharif yang kemudian ditangkapi. Yang paling mengkhawatirkan adalah bila pengadilan di bawah pengawasan militer itu menyimpulkan Nawaz Sharif layak dihukum mati, sebagaimana bunyi salah satu tuntutan. Sidang itu sendiri tidak bisa dipantau publik, sehingga benar dan salah sulit diuji secara fair. Sejelek apapun prestasinya, Sharif memiliki pendukung cukup banyak, yang potensial menjadikan Pakistan semakin kacau bila pemimpinnya diusik secara tidak adil. (Akhirnya, Nawaz diasingkan ke Mesir, tidak jadi dihukum mati).

Pakistan juga akan memasuki episode ketidakpastian baru, karena dua kekuatan politik yang selama ini saling bersaing akan bergabung melawan militer, yakni kubu Nawaz dan Benazir. Sebelum kudeta, Pervez dinilai sebagai jenderal lugu. Tetapi ia kini adalah kepala pemerintahan yang direstui oleh Presiden. Sebagaimana Zia dulu, sekali berkuasa, ia akan semakin kuat. Bukti dari janjinya masih ditunggu, yaitu apakah ia akan mengalah kepada sipil, atau memilih untuk `dikalahkan' lewat people's power.[G!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: