Abdul Salam, Muslim Pertama Peraih Nobel

5, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (5):

TANAH kelahirannya adalah Pakistan, negeri yang tak pernah lekang memaut kecintaannya sampai akhir hayatnya. Abdus Salam dilahirkan pada 29 Januari 1926 di kota Jhang, tidak jauh dari Lahore di Propinsi Punjab. Pada umur 14 tahun ia lulus ujian matrikulasi untuk Universitas Punjab di Lahore dengan angka tertinggi yang pernah dicatat. Konsentrasi studinya adalah matematika dan fisika, tetapi ia juga tekun mempelajari agama, filsafat, dan literatur.

Dengan beasiswa ''Foundation Scholar'' membawanya ke Universitas Cambridge di St. John's College. Di Cambridge ia mengambil ''Mathematics Tripos II'' dan ''Physics Tripos II'' (1946-1949), lulus sebagai ''Wrangler'' (peringkat pertama) dalam tradisi Universitas Cambridge yang didirikan pada 1231. Menjadi mahasiswa peneliti (1951) yang menyelesaikan tesis Ph.D dalam waktu lima bulan, yaitu suatu sumbangan orisinal yang penting tentang ''renormalisasi'' (menghilangkan bentuk tak terhingga) dalam teori Meson.

Dari Fakultas Sains Universitas Cambridge ia dipandang sebagai salah satu dari ahli fisika teoretis terbaik di dunia. Pada 1950 ia memenangkan Hadiah Smith di Cambridge karena sumbangan yang luar biasa dalam fisika untuk kategori pra-doktor. Sejak itu ia secara kontinyu menggali lapisan dasar tambang sains. Abdus Salam mengambil peran utama dalam setiap usaha membuka drama penemuan dan pemahaman entitas primer dari fisika kuantum.

Adalah mengherankan bahwa seorang yang juga begitu aktif dalam masalah politik bisa menerbitkan 2250 hasil karya ilmiah berasas tinggi, puluhan di antaranya seminal bagi fisika partikel elementer!

Dengan prestasi awal dan penuh harapan, ia kembali ke Lahore sebagai Guru Besar pada umur muda 25 tahun. Tetapi waktu tiga tahun lamanya dalam tugas itu tidak membahagiakannya. Salam kehilangan kontak dengan sejawat ilmuwan peneliti problema yang menggairahkan. Menurutnya, inilah penyebab utama atmosfir penelitian yang menyedihkan menggelayuti hampir seluruh negara berkembang. Mereka yang mendapat pendidikan peneliti di luar negeri, bila kembali ke negara asal menghadapi banyak kesulitan dan ketidaksesuaian untuk berkembang terus. Mereka terlalu kecil jumlahnya dan terpecah-pecah sehingga tak berhasil membentuk massa kritis, tak ada perpustakaan yang menunjang bidang keahlian; tak ada komunikasi dengan kelompok-kelompok peneliti di luar negeri. Tak ada kritikan atas apa yang dikerjakan; ide-ide baru sampai ke mereka terlalu lambat; kerja mereka kembali lagi ke dalam alur-alur yang sebelumnya. Orang-orang ini terisolasi, dan pengisolasian dalam fisika teoretis –seperti halnya pada umumnya kerja intelektual– adalah ''mati''. Inilah pula yang dihadapi Salam ketika berasosiasi dengan Universitas Lahore.

Walaupun Salam adalah jenius yang berputar sendiri, ia tidak bisa menerima keadaan ''dikubur hidup-hidup'' secara perlahan-lahan. Pada 1954 ia kembali ke Inggris, pertama sebagai Lektor di Cambridge. Setelah merumuskan teori neutrino pada umur belia 31 tahun Salam menjadi Profesor Fisika Teoretis selama 30 tahun (1957-1987) di London Imperial College untuk Sains dan Teknologi yang bergengsi. Dengan usaha dan ambisi Salam maka Imperial menjadi salah satu pusat terkemuka dalam teori medan. Salam mendorong teoretisi di Imperial ke arah problema simetri dalam klasifikasi partikel, dan teori grup dalam fisika partikel. Namun demikian, ia tak pernah kehilangan kontak pribadi dan profesional yang erat dengan tanah airnya, dan merasa bangga sebagai Muslim yang pertama mendapatkan Hadiah Nobel (1979). Ia tak pernah kembali menduduki jabatan akademi reguler di Pakistan.

Dapat dikatakan Salam adalah dua sosok manusia yang berfusi dalam satu tubuh menghasilkan keajaiban manusia. Ia adalah seorang cendekiawan sekaligus ulama. Sebagai cendekiawan, yaitu ilmuwan fisika teoretis, ia adalah pengikut akhir dari tradisi fisikawan klasik. Baginya ruang lingkup intelektual sains ialah memanunggalkan hukum-hukum alam yang terdiri dari secukupnya prinsip/asas sederhana, di mana kemanunggalan agung adalah salah satu prinsip. Pencarian tapak ini dimulai pada zaman Yunani Kuno dan dilanjutkan dalam Islam oleh Al-Biruni (973-1050 M) yang menegaskan bahwa alam memiliki hukum yang sama di mana saja, di Bumi atau di Bulan. Dengan diwujudkannya pertemuan dua peradaban ini maka dimuilah sains moderen dari Galileo ke Einstein; Salam telah memberikan sumbangan fundamental dengan teori electroweak, yaitu kemanunggalan gaya elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah yang dihargai oleh dunia masyarakat sains dengan Hadiah Nobel Fisika 1979.

Sebagai orang berkearifan, Salam juga adalah dua profil: ia adalah manusia yang taat sekali pada agama, menemukan di dalam Alquran pembenaran dari dasar pikiran karya keilmiahannya dan diilhami oleh Alquran. Dan ia adalah seorang politisi dalam arti asas tinggi dan arti mulia, dan bukan dalam arti merendahkan bagi politisi yang mempraktekkan realpolitik untuk memperoleh kekuasaan. Ia menyediakan tenaganya untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Dunia Ketiga dengan menempatkan dirinya secara implisit sebagai pejuang dalam hak-hak seluruh bangsa untuk berpartisipasi secara kreatif di dalam pengukiran sejarah dunia.

Hanya sambungkan saja! Inilah tema sepanjang hidup dan karya AS. Ia mengikuti ajaran-ajaran Islam dan telah membaktikan hidupnya pada prinsip kemanunggalan-kemanunggalan Alam dengan Manusia. Sebagai seorang filosof alam ia melihat bahwa pelbagai interaksi partikel elementer haruslah tidak lebih daripada aspek bermacam-macam gaya tunggal primer. Sebagai pemimpin politik dan moral ia membuktikan bahwa pelbagai interaksi antarbangsa dan budaya bukanlah penghalang bagi persaudaraan manusia dalam sains.

Yang mendasar bahwa hampir seluruh yang dikerjakan oleh Salam ialah kuatnya keterkaitan kepada agama Islam, dijabarkan dari tanah airnya Pakistan. Dengan ciri segala kerendahan hati ia menyampaikan bahwa apa yang telah dicapainya dianggap berasal dari semangat warisan Islam. Ia berkata: ''Saya banyak melibatkan diri pada pemikiran kesimetrian alam, yang datang dari konsep Islam, karena dalam Islam kita merenungkan universum ciptaan Allah dengan ide keindahan dan kesimetrian serta keharmonisan, dan diperoleh kepuasan dapat melihat sebagian kecil dari rahasia alam ini.''

Abdus Salam tidak percaya adanya konflik antara sains dengan Islam. Ia menegaskan bahwa dari tahun 750-1100 M hampir seluruh sains adalah sumbangan Islam, yang menurut George Sarton (A History of Science ) secara tak putus serta berturut-turut adalah zamannya Jabir, Khwarizmi, Haytham, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Ibn Sina, Omar Khayyam dll. — Arab, Turki, Afghani, dan Irani. Dan ia sendiri hanya berusaha mengobarkan kembali tradisi itu.

Selain AS, tokoh berpengaruh dalam bidang sains ialah Ishrat Usmani, Ketua Komisi Tenaga Atom Pakistan. Menurut Usmani, ''Kebanyakan usaha keilmiahan di Pakistan ditimbulkan oleh imajinasi Abdus Salam dan bobot pengaruh pribadinya. Abdus Salam adalah simbol kebanggaan dan gengsi bangsa Pakistan dalam dunia keilmiahan. Karena pengaruhnya maka penghargaan berlebih-lebihan yang sebelumnya diberikan kepada seni dan ilmu-ilmu sosial dengan mengorbankan sains telah dipatahkan. Presiden Ayub Khan sendiri membagi kegairahan perhatian Abdus Salam pada penerbitan buku-buku pelajaran sains. Bertambah banyak mahasiswa mengambil studi sains di universitas.''

Meskipun orang tuanya mengikuti salah satu sekte dalam Islam (Ahmadiyah), Salam mengaku tidak ikut sekte manapun. Baginya hanya ada satu Islam dengan sumber Alquran dan Hadis, serta kemampuan individu untuk memahaminya menurut kepercayaan imannya dan keyakinan pikiran serta intuisi bagi dirinya sendiri yang harus dipertanggungjawabkan di kehidupan akhirat.

Abdus Salam menderita stroke, dan dengan itu ia tak bisa berfungsi lagi sebagai Direktur ICTP. Sebagai penghormatan kepada pendirinya, selama ia masih sanggup menilainya sebelum kekuatannya hilang samasekali, di Trieste diadakan 3 hari pertemuan fisika yang dihadiri oleh rekan, pengagum dan mantan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia. Salah seorang ialah Yang Chen-Ning (penerima Hadiah Nobel Fisika 1957) yang pembicaraannya dalam seminar di Seattle pada 1956 memberikan kesan mendalam kepada Salam untuk meneliti lebih dalam tentang simetri di dalam alam materi.

Puncak dari pertemuan ini adalah pemberian gelar honoris causae (yang ke-35) dari Universitas St. Petersburg (dahulu Leningrad). Rektor Universitas khusus datang memberikannya. Salam mendengarkan sambil duduk di atas kursi roda tetapi ia tak bisa berbicara lagi. Sesudah upacara resmi, peserta tenang berdiri berbaris masing-masing menyampaikan ucapan selamat. Cuma sedikit reaksi yang diperlihatkannya, tetapi semuanya mengharap bahwa pesan mereka tersampaikan kepada tubuh yang lumpuh serta bisu itu.

Sesudah nama-nama besar, maka datang giliran peneliti muda. Yang terakhir adalah seorang peneliti muda yang gugup berasal dari Pakistan. Ketika ia membungkuk ke arah Salam yang duduk di kursi roda itu, ia berkata ''Pak, saya adalah mahasiswa dari Pakistan. Kami sangat membanggakan Bapak.'' Bahu AS tampak tergetar dan air mata pun mengalir di pipinya.

Sesudah tak sanggup lagi berkomunikasi selama tiga tahun terakhir oleh penyakit yang melumpuhkan, ruh itu meninggalkan jasadnya pada 20 November 1996 di Oxford, diiringi oleh doa Salam sendiri, jauh dari tanah air yang dicintainya. Tanah Inggris menyimpan jasadnya.

PERTANYAAN yang muncul dalam diri saya ketika berada di Pakistan, dan mendengarkan uraian sejawat Pakistan tentang Abdus Salam: mengapa Pakistan bisa melahirkan pemikir-pemikir kaliber dunia? Abdus Salam adalah contoh di bidang sains, di bidang sastra dan humaniora, Pakistan masih punya sederet tokoh dunia macam Muhammad Iqbal ataupun Fazlur Rahman.

Sejawat saya itu tak segera, atau tak bisa menjawabnya. Dalam dalam kunjungan singkat di Pakistan, saya mencatat beberapa hal yang agaknya menjadi faktor penting dalam mempercepat kemajuan manusia-manusia Pakistan.

Pertama, penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Pakistan beruntung menjadi salah satu negara bekas jajahan Inggris, yang membuat seantero negeri menggunakan bahasa Inggris. Pada umumnya sekolah-sekolah di Pakistan menggunakan kata pengantar Bahasa Inggris, atau kalau tidak, mengajarkan bahasa Inggris dalam porsi yang sangat tinggi. Saat ini, bahasa Inggris memang menjadi bahasa resmi (official language) Pakistan, dan bahasa Urdu sebagai bahasa nasionalnya (national language). Tak heran, kalau anda berbelanja di pasar-pasar Pakistan, rasanya Anda tidak perlu guide untuk berkomunikasi. Umumnya orang Pakistan bisa berbahasa Inggris kok!

Hal inilah yang membuat bahasa Inggris seolah-olah sudah menjadi bahasa ibu bagi orang Pakistan. Maka, tak heran, untuk melanjutkan studi ke mana saja di seluruh antero dunia, orang Pakistan tidak kesulitan sama sekali. Tes TOEFL? Siapa takut, begitu mungkin ujar orang Pakistan.

Lain halnya dengan Indonesia, bahasa Inggris masih merupakan barang sangat mewah dan mahal. Jangankan kalangan yang lebih bawah, di kalangan perguruan tinggi pun bahasa Inggris boleh dikatakan masih jadi masalah. Banyak sekali kita dengar dosen-dosen perguruan tinggi kita yang tidak bisa melanjutkan studi ke luar negeri hanya karena skore TOEFL-nya sangat rendah. Jika Indonesia tidak memberi perhatian pada peningkatan kualitas penguasaan bahasa Inggris – belum lagi bahasa asing lainnya – rasanya sulit bagi Indonesia untuk bersaing di kancah ilmu pengetahuan dan ekonomi di masa yang akan datang (saya sendiri berhayal – sekaligus juga berdoa: suatu hari nanti, di Indonesia akan diberlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional…).

Kedua, apresiasi terhadap sastra, sejarah dan budaya. Umumnya orang Pakistan dengan fasih bisa bercerita tentang sastra, budaya ataupun sejarahnya. Penghargaan terhadap pujangga Muhammad Iqbal misalnya, bisa terlihat dari kebanggaan orang Pakistan dalam memasang foto Iqbal di dinding rumahnya. Pakistan tidak memandang ilmu sains lebih hebat dari sastra, atau sebaliknya. Orang yang studi sains perlu belajar sastra untuk mempertebal cita-rasanya terhadap alam, sedangkan orang sastra atau budaya perlu pula belajar sains untuk memahami bahwa keindahan alam ini ternyata juga bisa diurai dengan amat dahsyat!

Ketiga, penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berhasil. Abdus Salam atau pun Iqbal telah menjadi icon yang memotivasi orang Pakistan untuk maju. Mereka menghargai para tokohnya itu untuk memacu diri untuk berprestasi dan melanjutkan prestasi yang sudah dicapai sebelumnya.

Agak miris juga saya ketika teringat Indonesia. Padahal kita punya ilmuwan bereputasi internasional macam Habibie yang juga taat beragama. Tapi entah kenapa, banyak orang yang sinis padanya – baik sebelum maupun sesudah beliau jadi presiden.

Padahal Indonesia punya Haji Agus Salim, tokoh multidimensi yang diakui oleh dunia pada zamannya. Tapi coba tanya anak muda sekarang, siapakah Agus Salim? Paling banter yang mereka ingat cuma jenggotnya, atau menyebut nama salah satu stadion olahraga.

Apakah kita bangsa yang tidak mau menghargai prestasi orang lain, dan bahkan prestasi orang Indonesia sendiri? [G!]

2 Responses to “Abdul Salam, Muslim Pertama Peraih Nobel”

  1. sinyal Says:

    Assalamualaikum, wr, wrb,
    Wah menarik terimakasih banyak ya atas tulisannya,
    Maaf boleh saya koreksi sedikit ya, yang sudah banyak diketahui bukannya Abdus Salam seorang ahmadi?
    Link berikut bisa jadi referensi bapak untuk mengenal Abdus Salam http://www.alislam.org/library/salam.
    Bagaimana kecintaan Abdus Salam kepada Al-Quran, keterkabulan doa ayahandanya, dan juga berkah yang diperolehnya dari kecintaan kepada khalifah Ahmadiyah.
    Sekali lagi saya mengucapkan banyak Terimakasih untuk bapak yang telah membuka wacana lain dari Abdus Salam.
    “Meskipun orang tuanya mengikuti salah satu sekte dalam Islam (Ahmadiyah), Salam mengaku tidak ikut sekte manapun. Baginya hanya ada satu Islam dengan sumber Alquran dan Hadis, serta kemampuan individu untuk memahaminya menurut kepercayaan imannya dan keyakinan pikiran serta intuisi bagi dirinya sendiri yang harus dipertanggungjawabkan di kehidupan akhirat.”


  2. […] Sumber: 1. Majalah Islamia vol.III no. 1, penerbit Insists, 2. W.J wopakrik, 2002, Dari atom hingga quark,  penerbit KPG,  jakarta. 3. https://thegadget.wordpress.com […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: