Pemimpin Disiapkan, bukan Dilahirkan

6, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (6-HABIS)

PERTANYAAN yang muncul dalam diri saya ketika berada di Pakistan, dan mendengarkan uraian sejawat Pakistan tentang Abdus Salam: mengapa Pakistan bisa melahirkan pemikir-pemikir kaliber dunia? Abdus Salam adalah contoh di bidang sains, sementara di bidang sastra dan humaniora, Pakistan masih punya sederet tokoh dunia macam Muhammad Iqbal ataupun Fazlur Rahman.

Sejawat saya itu tak segera — atau tak bisa — menjawabnya. Dalam dalam kunjungan singkat di Pakistan, saya mencatat beberapa hal yang agaknya menjadi faktor penting dalam mempercepat kemajuan manusia-manusia Pakistan.

Pertama, penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Pakistan beruntung menjadi salah satu negara bekas jajahan Inggris, yang membuat seantero negeri menggunakan bahasa Inggris. Pada umumnya sekolah-sekolah di Pakistan menggunakan kata pengantar Bahasa Inggris, atau kalau tidak, mengajarkan bahasa Inggris dalam porsi yang sangat tinggi. Saat ini, bahasa Inggris memang menjadi bahasa resmi (official language) Pakistan, dan bahasa Urdu sebagai bahasa nasionalnya (national language). Tak heran, kalau anda berbelanja di pasar-pasar Pakistan, rasanya Anda tidak perlu guide untuk berkomunikasi. Umumnya orang Pakistan bisa berbahasa Inggris kok!

Hal inilah yang membuat bahasa Inggris seolah-olah sudah menjadi bahasa ibu bagi orang Pakistan. Maka tak heran, untuk melanjutkan studi ke mana saja di seluruh antero dunia, orang Pakistan tidak kesulitan sama sekali. Tes TOEFL? Siapa takut, begitu mungkin ujar orang Pakistan.

Lain halnya dengan kita di Indonesia, bahasa Inggris masih merupakan barang sangat mewah dan mahal. Jangankan kalangan bawah, di kalangan perguruan tinggi pun bahasa Inggris boleh dikatakan masih jadi masalah. Banyak sekali kita dengar dosen-dosen perguruan tinggi kita yang tidak bisa melanjutkan studi ke luar negeri hanya karena skore TOEFL-nya sangat rendah.

Jika Indonesia tidak memberi perhatian pada peningkatan kualitas penguasaan bahasa Inggris – belum lagi bahasa asing lainnya – rasanya sulit bagi Indonesia untuk bersaing di kancah ilmu pengetahuan dan ekonomi di masa yang akan datang (saya sendiri sempat berhayal – sekaligus juga berdoa: suatu hari nanti, di Indonesia akan diberlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional…).

Kedua, apresiasi terhadap sastra, sejarah dan budaya. Umumnya orang Pakistan dengan fasih bisa bercerita tentang sastra, budaya ataupun sejarahnya. Penghargaan terhadap pujangga Muhammad Iqbal misalnya, bisa terlihat dari kebanggaan orang Pakistan dalam memasang foto Iqbal di dinding rumahnya. Pakistan tidak memandang ilmu sains lebih hebat dari sastra, atau sebaliknya. Orang yang studi sains perlu belajar sastra untuk mempertebal cita-rasanya terhadap alam, sedangkan orang sastra atau budaya perlu pula belajar sains untuk memahami bahwa keindahan alam ini ternyata juga bisa diurai dengan amat dahsyat!

Ketiga, penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berhasil. Abdus Salam ataupun Iqbal telah menjadi icon yang memotivasi orang Pakistan untuk maju. Mereka menghargai para tokohnya itu untuk memacu diri untuk berprestasi dan melanjutkan prestasi yang sudah dicapai sebelumnya.

Agak miris juga saya ketika teringat Indonesia. Padahal kita punya ilmuwan bereputasi internasional macam Habibie yang juga taat beragama. Tapi entah kenapa, banyak orang yang sinis padanya – baik sebelum maupun sesudah beliau jadi presiden. Kita kehilangan momentum dalam mencari dan menjadikan seseorang sebagai icon yang bisa memotivasi orang Indonesia sendiri untuk berprestasi.

JADI persoalan sumber daya manusia (SDM) memang merupakan modal yang luar biasa bagi sebuah negara untuk maju. Amjad Zafar Khan, LEADNet Pakistan Director memberi contoh: ada 5000 orang Pakistan yang jadi sarjana komputer di berbagai negara tiap tahun!

Meski secara ekonomi Pakistan belum maju – lebih disebabkan oleh kebijakan pembangunan ekonomi yang plin-plan akibat instabilitas politik – tapi dengan SDM yang luar biasa semacam itu, tidak akan sulit baginya untuk keluar dari krisis dan menjadi pemenang. Hanya tinggal menunggu waktu.

Untunglah, pentingnya SDM dan kepemimpinan sudah menjadi concern banyak pihak di berbagai belahan dunia sekarang ini. Dan ini pulalah yang menjadi salah satu kesadaran di balik berdirinya program LEAD International.

LEAD yang berdiri tahun adalah yayasan pendidikan, global, independen yang dipelopori the Rockefeller Foundation yang menggelar pendidikan profesional lanjutan bagi para individu mid-career yang berbakat, baik dari sektor publik maupun swasta, memperkenalkan mereka dengan isu-isu lingkungan dan pengembangan masyarakat, mencoba mengasah kemampuan dan ketrampilan mereka sebagai pemimpin masa depan yang akan berhadapan dengan persoalan-persioalan ini di seluruh dunia.

Sejak berdiri, LEAD memiliki 7 member programs yakni Brazil, Cina, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria dan CIS (bekas Uni Soviet), kemudian Kanada bergabung tahun 1994, Afrika Selatan (1995), Eropa (1995), Jepang (1997) dan Franchophone Afrika (2000). Saat ini, sudah ada 13 Member Program yang berasalan dari lebih dari 60 negara di dunia.

Kandidat yang berhak ikut seleksi di tiap member program adalah individu yang berusia 28-40 tahun dan bekerja full time di sektor seperti akademia, bisnis, pemerintahan, media dan LSM. Mereka yang terpilih ini disebut associate dan akan menjalani capacity building melalui selama dua tahun; sesi nasional dan sesi internasional.

Selama pelatihan, mereka diberikan kurikulum standar mengenai ekonomi, lingkungan, politik, sosiologi dan lain-lain. Untuk mengasah kemampuan mereka untuk menjadi calon pemimpin, mereka diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan melakukan presentasi, cara mengatasi masalah (problem solving), pengambilan keputusan, negosiasi, resolusi konflik dan kemampuan membuat skenario (scenario building skills).

Associate yang berhasil lulus dari program akan mendapat gelar LEAD Fellow. Sebagai fellow, mereka punya kesempatan untuk magang di sejumlah lembaga internasional sebagai badan-badan di bawah PBB, Bank Dunia, IMF, WTO, WWF dan IUCN. Mereka bekerja dengan gaji yang diberikan oleh LEAD dengan standar yang berlaku di lembaga tersebut. Selain itu, fellow juga berhak mendapat bantuan dana untuk mengikuti seminar-seminar internasional atau melakukan penelitian bersama dengan LEAD fellow yang lain. Dengan kata lain, gelar fellow bisa disandang dan dimanfaatkan seumur hidup dan tetap menjadi keluarga besar LEAD International.

Di sinilah arti penting program ini yang senantiasa memelihara jaringan. Setidaknya lebih dari 1000 LEAD fellow dan associate yang ada di berbagai negara saat ini, dan semuanya kini terhubung melalui apa yang disebut LEADNet. Berbagai konferensi jarak jauh kerap dilaksanakan untuk merespon perkembangan global. Calon pemimpin memang harus disiapkan, dan tak mungkin hanya menunggu ada pemimpin yang dilahirkan begitu saja.[G!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: