Sungguh, tak Ada Privasi di Internet

1, August, 2002

Hampir tiap hari Christopher Kantzes berselancar mengunjungi sebuah kelompok diskusi di Internet. Saat tengah malam di ruang kerjanya, insinyur di Fisher-Rosemount Systems ini mengunjungi newsgroup yang relatif tidak kontroversial, seperti rec.food.drink.beer. Ia pun mengirimkan pendapatnya. Lontaran gagasannya memang menarik – terbukti dengan banyak sekali feedback yang ia dapatkan. Tapi sama sekali tidak tertarik untuk mengungkapkan identitasnya, karena menurutnya itu tidak penting, tidak relevan sama sekali.

Semula Kantzes mengira bahwa dengan begitu merasa nyaman dan identitasnya tak diketahui orang lain. Ini berlangsung hampir setahun, hingga suatu hari koran Minneapolis Star-Tribune memilihnya secara acak sebagai salah seorang profil berdasarkan topik pembicaraan online. Koran tersebut juga memuat biodatanya secara detil – teramat detil malah, mulai dari di mana ia lahir, di mana ia kuliah, apa pekerjaannya sekarang hingga situs apa yang disukainya. Semuanya ini berhasil dilacak oleh situs DejaNews.

Artikel itu memang dipublikasikan atas seizinnya, tapi bagaimana semua informasi tentang dirinya dikumpulkan di luar pengetahuannya. Segera setelah koran itu mempublikasikan artikel tersebut, ia pindah rumah. Gilanya lagi, beberapa minggu kemudian, sebuah white page elektronik telah menampilkan alamat dan nomor teleponnya yang baru. “Ini pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan – bahwa saya tidak bisa bersembunyi, bahkan tinggal sendirian dengan komputer saya,” keluhnya.

Di era Internet dewasa ini, masalah privasi terasa jadi sangat mahal dan langka sekali. Dan benar: selain soal jarak dan waktu yang kini sudah pupus sejak diamuk revolusi digital, ada lagi yang segera akan terusik – untuk tidak dikatakan hilang sama sekali – yaitu privasi, segala sesuatu yang menyangkut pribadi, baik itu ketercerabutan identitas maupun kenyamanan personal.

Selama ini, kita sengaja membuatkan sebuah kotak pos di pagar depan rumah agar tukang pos bisa menaruh surat di kotak itu. Ia tidak perlu harus masuk ke perkarangan rumah, mengetuk pintu lalu menyodorkannya kepada yang membuka pintu. Sekarang, siapapun bisa mengirim surat elektronik langsung ke mailbox di komputer di kamar Anda, tak peduli Anda kenal dengan si pengirim atau membutuhkan surat itu. Bahkan ada juga email sampah (junk-mail) yang masuk, baik berisi promosi produk tertentu, maupun berisi gambar-gambar jorok yang segera akan memenuhkan harddisk komputer Anda.

Ketaknyamanan privasi di Internet ini sebetulnya dinikmati dalam bentuk lain oleh para kalangan bisnis yang dengan mudah menangkap segmen dari produk yang dijualnya. Meskipun ada perjanjian bahwa data-data pribadi dalam aplikasi layanan gratis tidak akan diberikan kepada pihak lain, tapi siapa bisa menjamin semua itu? Dengan sedikit keahlian, database penyedia layanan tersebut bisa dibobol orang yang kemudian merampas data-data para pelanggan yang tersimpan di sana.

Sebetulnya ada software yang mampu menjaga privasi. Dengan perangkat lunak enkripsi, kita bisa membuat sebuah “kunci” dalam dua bagian, satu publik dan satu privat. Hanya kita sendiri yang dapat menggunakan kunci privat tersebut. Jika Anda menulis sebuah pesan e-mail, kemudian menggunakan kunci publik penerima untuk mengenkripsinya. Proses enkripsi membuat semacam kunci digital pada pesan tersebut. Bahkan jika seseorang mencegat pada jalan yang dilaluinya, isi pesan tak dapat diakses.

Tapi masalahnya tidak terletak pada software. Sebab cepat atau lambat, secanggih apapun software yang digunakan, akan tetap ada orang mampu memporak-porandakannya. Sama halnya ketika muncul sebuah virus komputer yang ganas, selalu saja kemudian ditemukan lagi antivirusnya. Perkembangan teknologi, sebagaimana yang kita saksikan, memang cepat sekali – ada yang menyebutnya dengan istilah pertumbuhan eksponensial.

Meskipun pemerintah di sejumlah negara sedang menyiapkan undang-undang yang akan melindungi privasi di Internet, sesungguhnya juga tak banyak yang bisa diharapkan dari upaya itu. Sebab yang terjadi sekarang ini adalah suatu gelombang besar perubahan.

Revolusi internet, karenanya, harus diikuti oleh revolusi cara berpikir dan paradigma juga. Begitu banyak yang sudah berubah, termasuk keberadaan dan masa depan privasi. Jadi memang sangat tidak mungkin untuk tetap mencoba menjunjung-tinggi privasi di era globalisasi ini. Yang paling mungkin adalah mengubah persepsi kita mengenai privasi.

Sebagai upaya antisipatif, ada beberapa cara yang bisa dilakukan: misalnya dengan biasa menggunakan identitas anonim, tidak terlalu fanatik pada suatu situs atau kelompok diskusi, memasukkan data-data pribadi yang fiktif dalam aplikasi layanan gratis di internet. Namun tetap saja langkah itu bukan jaminan – toh ada saja cara bagi pihak lain untuk melacak Anda.

Lalu? Hanya ada dua pilihan bagi Anda di abad digital ini: menganggap privasi sudah tak relevan lagi karenanya tidak perlu dirisaukan (“gitu aja kok repot,” tukas Gus Dur). Atau pilihan kedua: Anda sama sekali tidak menyentuh komputer! Privasi Anda dijamin aman, meskipun Anda harus membayarnya dengan sangat mahal: karena Anda harus kehilangan segudang ilmu dan manfaat dari Internet. Jadi tinggal Anda mau pilih yang mana.

Koran Tempo 28/Jul/2002   e-culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: