Ketika Mobile Technology di Genggaman Anda

10, September, 2002

SEMUANYA memang berkembang sangat cepat. Apa yang kemarin dianggap mustahil, hari ini mungkin sudah menjadi hal yang sangat biasa. Apa yang hari ini dianggap paling canggih dan terkalahkan, besok mungkin sudah dianggap sangat ketinggalan zaman.

Kekuatan gagasanlah yang membuat semua itu menjadi kenyataan. Termasuk gagasan yang cukup cerdas ini: mengawinkan dua primadona teknologi informasi dan telekomunikasi: Internet dan ponsel. Keduanya diyakini akan saling mengisi, bersinergi dan menjadi cara pintar untuk mencetak keuntungan bagi siapa saja yang cepat dan tepat memanfaatkannya. Perpaduan ini akan melahirkan suatu teknologi yang disebut mobile-commerce. Lalu bergulirlah paradigma dan trend baru: inilah saatnya ketika ponsel di tangan para konsumen bisa disulap jadi ‘mesin uang’!

Satu dekade silam, fungsi ponsel baru sebatas komunikasi dua arah yakni percakapan dan berbagai variasinya. Kemudian teknologi ponsel berkembang pesat terutama setelah ditemukannya teknologi transfer data seperti short message service alias SMS. Protokol WAP yang memungkinkan orang bisa mengakses Internet via ponsel kemudian juga ditemukan. Puncak perkembangan selular ditandai dengan lahirnya GPRS (general packet radio service) dan 3G (third generation), yang memungkinkan pengguna perangkat selular bisa menikmati fungsi multimedia.

Maka tak heran sejumlah perusahaan dotcom dan operator telekomunikasi berkolaborasi untuk melahirkan e-commerce dengan format bergerak yang kemudian dinamakan mobile-commerce alias m-commerce – meskipun patut dicatat bahwa tidak semua m-commerce berbasis Internet dan tidak semua aplikasi nirkabel bisa dikatakan miniatur Internet. Teknologi bergerak juga tidak selalu berupa telepon, tetapi bisa saja berupa PDA (personal data assistant).

Mengapa mobile? Mobilitas memang merupakan kata kunci trend global. Dewasa ini, mobilitas yang tinggi jangan sampai menghalangi seseorang terhadap akses informasi. Seseorang yang sedang terjebak macet, atau sedang berada jauh dari kantor, akan dengan mudah bisa tetap memantau portofolio investasi atau menyimak fluktuasi indeks saham. Namun, mobilitas bukan hanya milik orang bisnis, tapi juga ibu rumah tangga, mahasiswa, remaja maupun anak-anak. Pada tingkat tertentu, ponsel sudah tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup masa kini, salah satu ikon penting dalam mendorong kemunculan apa yang disebut mobile-lifestyle.

Peluang itu diperkuat lagi oleh fakta yang terjadi. Sebuah riset menunjukkan, betapa pertumbuhan penggunaan ponsel jauh lebih cepat dibanding penggunaan telepon kabel (fixed line). Studi itu memperkirakan, dalam dua-tiga tahun ke depan, pengguna ponsel di seluruh dunia akan melampaui jumlah pengguna telepon biasa.

Masalahnya sekarang, bagaimana sih sebenarnya kebutuhan orang akan teknologi mobile ini? Apa betul orang bisa menikmati film atau nonton siara berita CNN di layar yang berukuran tak lebih dari dua buah perangko? Apakah orang benar-benar ingin belanja online ketika mereka tidak bisa melihat apa yang mereka beli?

Betul juga. Untuk itu, diperlukan solusi agar apa yang dihadirkan melalui teknologi bergerak betul-betul didasari oleh kebutuhan para penggunanya. Kolomnis Steve Kennedy (www.m-commerceworld.com/articles) menawarkan setidaknya ada empat inovasi yang akan “membawa teknologi mobile ke khalayak ramai”. Pertama, fitur yang ditawarkan haruslah mampu menjadi alternatif baru bagi distribusi konten. Kedua, memaksimalkan keberadaan GPRS yang memungkinkan para pengguna untuk mengirim dan menerima kiriman multimedia. Ketiga, perlu dihadirkan konten yang familiar dengan mobilitas (mobile friendly content). Kempat, tingginya minat orang terhadap SMS.

Namun, beberapa hal yang masih menjadi kendala bagi pengembangan m-commerce adalah soal biaya (billing) yang harus ditagih ke para konsumen. Sampai saat ini, mungkin masih bisa menggunakan airtime sebagai basis penghitungan, tetapi tentu saja akan terasa memberatkan pengguna karena akan terjadi tambahan biaya dalam tagihan ponsel mereka.

Yang jelas, apapun yang bisa dilakukan lewat Internet, sekarang sudah bisa pula dilakukan ketika Anda sedang berada di jalan, di sebuah pulau kecil saat liburan, atau di mana saja, cukup dengan menggunakan ponsel. Perbedaannya – dan sekaligus keunggulannya – ponsel sudah memiliki fitur otorisasi built-in yang kuat, tidak seperti Internet. Lagi pula, sekadar menunjuk contoh, Business Wire mencatat: “hanya 40% anak muda Amerika yang memiliki akses ke Internet, tapi 100% dari mereka memiliki ponsel, maka manfaatkanlah mereka!”.

Koran Tempo 08/Sep/2002    e-culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: