TV Digital yang Sangat Personal

10, September, 2002

Kunci untuk membayangkan televisi masa depan adalah memandangnya bukan sebagai televisi. Sejauh ini, TV sudah meraup keuntungan terbesar dari gagasan penyiaran dalam bentuk digital. “Siaran berita jam 6 bukan hanya dikirim ketika Anda menginginkannya, tetapi dapat diedit untuk Anda dan diakses secara acak oleh Anda,” ujar seorang peneliti multimedia. Pendeknya, TV masa depan adalah semacam PC yang tentulah sangat serbaguna dan bersifat interaktif.

Memang terjadi perubahan mendasar ketika kita menikmati program-program lewat TV digital dibanding TV analog sebagaimana yang lazim kita kenal selama ini.Fungsi remote control misalnya, bukan lagi sekadar untuk pindah saluran atau mengubah volume, tapi bisa digunakan menjadi semacam mouse yang bisa mengarahkan kursor untuk berbagai keperluan. Mulai dari mengubah ukuran tampilan layar, membuka situs-situs media, hingga mengecek surat elektronik.

Secara teknis, hal itu juga dimungkinkan oleh makin majunya kualitas layar TV. Sebelumnya dengan jumlah garis scan yang sangat terbatas pada TV biasa, jika menonton dalam jarak dekat, mata kita bisa perih. Kemudian muncul teknologi yang mengubah gagasan ihwal garis scan yang sebelumnya dibentuk per gambar seperti layar TV biasa, menjadi garis scan per inci seperti layar komputer modern.

Di negara-negara maju, tingkat konsumsi terhadap TV digital sudah cukup besar. Di AS misalnya, lebih dari 50 persen rumah tangga, kini sudah memiliki akses ke TV digital. Selain karena tingkat ekonomi, gaya hidup masyarakat di sana juga sangat berpengaruh. Hasil penelitian West LB di Düsseldorf misalnya, menunjukkan bahwa warga Jerman menghabiskan 37 persen waktu senggangnya di depan TV.

Namun, bagi konsumen di negara-negara berkembang kemampuan untuk memiliki TV digital masih jadi soal. Hal itu disebabkan harga pesawat TV digital masih sangat mahal yaitu US $4,500 hingga $15,000 atau dengan kurs 1 USD = Rp7000 setara dengan Rp31.500.000 hingga Rp105.000.000. Di beberapa negara, pada tahun 2003-2005 mendatang, harga ini diharapkan turun menjadi sekitar US$ 1,000 atau Rp.7.000.000. Namun demikian, evolusi TV digital jelas sangat dipengaruhi oleh pasar sehingga lambat laun harga tersebut akan turun. Dan jika siaran TV digital telah menjangkau secara nasional maka harga TV digital juga akan terjangkau masyarakat banyak.

Pada saat yang bersamaan, sebetulnya ada faktor lain yang membuat TV digital bisa laku keras, yakni keberadaan DVD. “Hal itu disebabkan DVD mampu menampilkan segala sesuatu yang dijanjikan TV digital – dari gambar sekualitas bioskop hingga interaktivitas internet tanpa perlu tambahan biaya untuk meng-upgrade jaringan kabel atau satelit Anda,” demikian tulis Wired, majalah teknologi terkemuka. Pasangan DVD-TV digital akan menghadirkan gambar sekualitas bioskop dan suara yang mempersona. Kualitas DVD memang sangat jauh di atas pendahulunya, VCD – yang relatif lebih banyak digunakan saat ini di Indonesia.

DVD hanyalah salah satu faktor yang ikut mendorong pertumbuhan TV digital. Yang jelas, “ketika Anda memiliki pemutar DVD plus TV digital, Anda akan tahu betapa transisi digital sedang terjadi,” ujar seorang juru bicara retailer DVD. Termasuk transisi yang evolutif dari teknologi analog menuju digital.

Mengapa perlu masa transisi? Alasan utama adalah melindungi puluhan juta pemirsa yang telah memiliki TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Selain itu juga untuk melindungi industri dan investasi operator TV analog yang telah ada.

Beberapa negara Asia Pasifik yang telah mulai menerapkan TV digital seperti Singapura dan Australia menggunakan teknologi DVB-T (Digital Video Broadcasting – Terrestrial) yang merupakan standar Eropa. Selain standar Eropa (DVB-T), untuk TV digital terdapat pula standar TV digital dari Jepang (DTTB) dan Amerika (ATSC). Hal ini merupakan kelanjutan dari tiga standar TV analog, yaitu PAL (Eropa), NTSC (Amerika) dan SECAM (Jepang). Walaupun demikian saat ini terdapat usaha-usaha untuk melakukan standarisasi teknologinya, sehingga memudahkan untuk diproduksi secara masal dan akhirnya membuat harga produksi menjadi murah.

Namun, para pemirsa tetap dapat menikmati siaran digital dengan memanfaatkan pesawat TV analog yang ada saat ini dengan menggunakan ‘set top box’ atau semacam dekoder. Harga per unit dekoder digital tersebut jauh lebih murah dari TV digital, yakni berkisar US$200 per unit atau setara dengan harga TV analog berwarna 14” saat ini.

TV digital jelas akan mengubah cara pandang kita dalam menikmati siaran yang disajikan. Dengan fasilitas on demand, Anda bisa memilih sendiri waktu dan program yang disukai. Kebanyakan program TV – kecuali pertandingan olahraga dan hasil pemilu – tidak perlu lagi disiarkan langsung, apalagi harus mengagendakannya dalam jadwal tayang yang ketat. Istilah jadwal tayang prime-time atau bukan, sudah tak relevan lagi. Setiap orang hanya akan menonton acara yang disukainya, kapan pun ia mau dan punya waktu.

Koran Tempo 01/Sep/2002  e-culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: