Data Eletronik Jauh Lebih Aman

9, November, 2002

Satu minggu setelah serangan terhadap World Trade Center di jantung kota New York, perusahaan-perusahaan yang menyewa kantor di gedung menara kembar itu mulai membenahi bisnisnya. Selain merenggutkan sekitar 3000 nyawa para karyawan, pengunjung dan fisik gedung pencakar langit itu, musibah Black September juga menghanguskan komputer beserta perniknya dengan kerugian sekitar US$ 500 juta.

Tapi ada satu hal yang bisa diselamatkan dari musibah 11 September 2001: data-data elektronik. Mereka tampaknya belajar banyak dari pengalaman setelah peristiwa pemboman WTC 1993. Serangan yang menewaskan enam orang dan melukai lebih 1000 orang itu mendorong perusahaan-perusahaan di sana menyiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana di masa datang. Mereka melakukan investasi cukup besar dalam penyimpanan data (data storage) dan jasa penyelamatan informasi-informasi elektronik.

Perusahaan-perusahaan yang berkantor di sana – para broker, perusahaan asuransi dan keuangan – memang sudah habis-habisan dalam memanfaatkan kemampuan teknologi informasi (TI) dalam menjalankan bisnisnya. Logikanya jelas: ketika kertas-kertas dokumen beterbangan dan hancur dilalap api, hampir sebagian besar data-data elektronik berhasil diselamatkan. Tim Teknologi Morgan Stanley malah menggambarkan WTC sebagai “mungkin satu-satunya fasilitas kantor yang benar-benar disiapkan dari sebuah sistem dan perspektif penyelamatan data.”

Umumnya perusahaan-perusahaan menggunakan dua metode dalam mem-back up sistem komputer mereka. Perusahaan kecil cenderung memilih yang berbiaya murah dengan men-download data secara manual ke dalam tapes magnetik, sementara perusahaan-perusahaa besar menggunakan “hot backups” – sebuah layanan yang mengharuskan mereka mengeluarkan dana sekitar 10 hingga 1000 dolar per bulan.

Lebih dari yang pernah dibayangkan sebelumnya, revolusi TI ikut mengubah prilaku masyarakat modern yang mencoba masuk dan menghirup atmosfer sebuah kebudayaan baru: suatu kecenderungan terciptanya “masyarakat tanpa kertas”(paperless society). Pesatnya perkembangan “kotak ajaib” yang bernama komputer memungkinkan terwujudnya era komputerisasi dan solusi teknologi nirkabel.

Revolusi ini tidak lagi menyangkut soal transformasi energi dan benda, tetapi juga menyangkut transformasi waktu dan jarak. Komputer tidak lagi menjadi bagian yang terpisah-pisah dan berdiri sendiri, tetapi sudah saling berkomunikasi melalui jaringan telekomunikasi – yang dewasa ini makin dimungkinkan oleh perkembangan internet yang mengglobal.

Seorang penggemar internet pernah mengajukan pertanyaan kepada Bill Gates: Kapankah akan terwujud suatu masyarakat tanpa kertas? “Kertas sama sekali tidak akan hilang,” jawabnya. “Namun bertahun-tahun mendatang, peran kertas akan menurun tajam baik di kantor maupun di rumah. Dokumen-dokumenlah yang pertama kali akan meninggalkan kertas. Anda akan menggunakan komputer untuk melihat dan membayar tagihan atau mengisi formulir.”

Revolusi terbesar yang terjadi sejak ditemukannya komputer dan Internet adalah kemampuan yang luar biasa dalam penyimpanan data. Kontribusi terbesarnya memang dari sisi ini. Berubahnya dimensi ruang dan waktu sebenarnya sangat mengacu kepada fenomena kecanggihan penyimpanan data ini. Setiap orang bisa menaruh file-filenya di berbagai “rak-rak”, “laci” atau “lemari” digital.

Menyimpan data memang merupakan faktor paling krusial yang mengukuhkan betapa pentingnya komputer atau TI bagi keseharian kita. Perkembagan ini menarik dicermati karena mengisyaratkan adanya gejala menuju ke sebuah metamorfosa yang sama sekali baru. Pada awalnya kita cuma mengenal disket sebagai tempat penyimpanan data kemudian muncul CD dan DVD. Dua yang disebut terakhir adalah konsep paling sederhana dari metode penyimpanan data, karena relatif masih mudah rusak misalnya akibat tergores atau terbakar.

Yang paling canggih adalah metode penyimpanan data di server – yang back-upnya bisa dibuat dalam beberapa versi dan bisa dilindungi dengan sistem keamanan berlapis-lapis. Dengan metode ini orang bisa berkantor secara virtual karena semua dokumen mulai dari proposal proyek, data-data karyawan, surat, kontrak hingga notulen rapat dapat disimpan di situ dan dapat diakses secara online kapan pun dan di mana pun.

Jadi ketika sesuatu terjadi pada kantor kita – terbakar, diobrak-abrik maling atau diserang “teroris”, kita bisa memastikan bahwa data elektroniklah yang relatif bisa diselamatkan.

Koran Tempo, 15/Sep/2002  e-culture

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: