Singa Seksi di Jagat Bioteknologi

10, April, 2003

Penemu domba kloning Dolly kini berkarya di pusat riset Singapura. Negeri jiran itu ingin menjadi pusat sains dunia.

DOLLY telah tiada. Tepat di hari kasih sayang, domba pertama yang diciptakan dengan teknik kloning itu disuntik mati. Penyakit paru-parunya yang tak tersembuhkan yang ia derita karena proses penuaan dini menyebabkan para ilmuwan di Roslin Institute di Edinburgh, Skotlandia, harus mengambil jalan yang menyedihkan ini.

Selama hampir tujuh tahun usianya, Dolly dengan mukanya yang lucu itu kerap menghiasi pelbagai penerbitan. Meski sudah mati pun, domba ini akan tetap dikenang. Kelahirannya dianggap sebagai puncak keberhasilan manusia dalam menyempurnakan teknik kloning dan kematiannya berpengaruh besar pada kemungkinan penggunaan cara ini untuk manusia–suatu hal yang kini seperti diperlombakan di antara ilmuwan.

Di pihak lain, tak banyak orang yang membicarakan koki si Dolly. Padahal dari tangan dingin tim ilmuwan Inggris itulah kloning sebuah sel hewan dewasa terbukti bisa menghasilkan bayi hewan.
Di mana Dr. Ian Wilmut, Dr. Keith Campbell, dan Dr. Alan Colman? Masihkah mereka meneruskan penelitian di Skotlandia? Hanya sedikit yang tahu bahwa Alan Colman kini sudah tak berkarya lagi  di negaranya. Maret tahun lalu, ia hijrah ke negara tetangga kita, Singapura. Ia menerima tawaran memimpin sebuah lembaga riset bioteknologi, ES Cell International, di Negeri Singa itu.

Kepindahan direktur eksekutif pusat riset PPL Therapeutics (mitra kerja Roslin Institute saat melahirkan Dolly) itu sempat mengagetkan kalangan ilmuwan Eropa. Lelaki berusia 53 tahun yang rambutnya sering awut-awutan inilah yang bersama mitranya, Ron James, mendirikan lembaga bioteknologi itu pada 1987, yang kemudian sangat dikenal di dunia sains. “Kepergian Colman memunculkan pertanyaan besar menyangkut masa depan bioteknologi Inggris,” ujar Pat Hagan di The-scientist.com.

Masalah uang? Ya, tapi yang paling utama, pria bertubuh jangkung itu pergi justru karena ia setia pada ilmunya. Sudah lama Colman kecewa pada regulasi Inggris yang dianggapnya kaku dalam mendorong riset dan pengembangan sel induk embrio manusia. Amerika Serikat, negara yang mengagung-agungkan sains, sama saja: melarang pengembangan teknik tersebut. Selain itu, “Sangat butuh waktu di Inggris dan AS untuk mencari dana baru buat memulai riset bioteknologi,” ujar doktor lulusan Laboratory of Molecular Biology di Cambridge tahun 1974 ini.

Dengan pindahnya Colman, pada tahun-tahun mendatang tak usah heran bila kabar tentang kemajuan teknik kloning akan bersumber dari Singapura. Negara pulau ini rupanya tak puas hanya dijadikan pusat bisnis, tapi juga ingin menjadi pusat sains. Menempati salah satu titik di kawasan Science Park II, The Gemini, Science Park Road, Singapura, pusat riset ES Cell International (ESI) I memang mampu menarik perhatian dunia sains. Dengan skema kerja sama joint venture antara Economic Development Board Singapura dan investor swasta Australia serta dukungan teknis dari Monash University, perusahaan ini didirikan dengan investasi US$ 10 juta dua tahun lalu. Dari pusat riset yang memperkerjakan 40 orang ilmuwan itu–delapan di antaranya orang Singapura –diharapkan muncul teknik untuk meningkatkan efisiensi produksi sel induk.

Titik perhatian ESI difokuskan pada pengembangan sel induk embrio manusia. Lahan ini merupakan terobosan medis paling mutakhir dan menarik minat banyak peneliti untuk bergabung. Menurut Colman, sel induk embrio manusia pertama dibuat di Singapura pada 1994 dalam sebuah kegiatan riset yang tidak dipublikasikan. “Ini sebuah track record yang bagus buat Singapura,” ujarnya.

Mengapa Singapura memilih bioteknologi? Mengapa tidak memfokuskan diri pada industri hi-tech elektronik dan kimia, dua bidang yang sudah bisa dikembangkan Singapura? “Negara ini tahu persis bahwa puncak industri elektronik sudah berakhir dan pemerintahnya melihat bidang ini sebagai investasi paling prospektif,” tulis James Randerson di Newscientistjob.com.

Gagasan ini bermula dari rekomendasi Economic Development Board yang ingin Singapura menjadi pusat riset bioteknologi di dunia. Karena itu, kebijakan dalam pengembangan masalah itu relatif longgar. Badan Penasihat Bioetika Singapura, misalnya, telah mengizinkan–dengan syarat dan pengawasan yang amat ketat–kegiatan penelitian sel induk manusia dan kloning terapeutik, tapi tetap melarang kloning reproduksi manusia.

Proses pembuatan kloning terapeutik mirip dengan kloning reproduksi seperti kasus Dolly. Bedanya, pertumbuhan dihentikan pada tahap embrio karena yang akan dimanfaatkan adalah sel induk. Sel induk adalah sel yang memiliki kemampuan membelah dalam jangka waktu tak terbatas dan membentuk 220 jenis sel penyusun tubuh manusia. Sel induk ini bisa diumpamakan sebagai pabrik suku cadang sel–di antaranya sel ginjal, sel otot jantung, sel pankreas, sel saraf, sel kulit, dan sel darah–yang bisa dicangkokkan ke organ tubuh terkait untuk mengganti jaringan yang rusak. Teknik ini diharapkan dapat mengobati pelbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, parkinson, alzheimer, stroke, kanker, dan gangguan jantung.

Dengan memiliki sel induk sesuai dengan informasi genetis tubuhnya, diharapkan seseorang memiliki sumber suku cadang tak terbatas dari sel tubuhnya. Jika ada organ yang terganggu, tinggal ditransplantasi. Bidang inilah yang menjadi perhatian khusus dan obsesi Colman cukup lama. “Singapura memiliki garis kebijakan yang liberal dalam hal pengembangan sel induk manusia,” ujarnya.

Untuk menjadikan dirinya pusat hi-tech Asia–dengan bioteknologi menjadi salah satu pilarnya–Singapura tak ragu mengeluarkan dana US$ 8,2 miliar untuk jangka 15 tahun. Menurut Asia Today International, anggaran sebesar itu merupakan taruhan besar bagi Singapura dalam mewujudkan impiannya. Proyek itu meliputi pembangunan proyek Biopolis, Teknopolis, dan Mediapolis. Lahan seluas 200 hektare di kawasan Science Park telah disediakan “untuk pengembangan lingkungan futuristis,” ujar Ko Kheng Hwa, Managing Director EDB.

Sebagai pilar keempat setelah elektronika, kimia, dan rekayasa, bioteknologi sudah diguyur dana US$ 1,6 miliar. Biopolis, sebuah pusat riset tercanggih di bidang ini, sudah akan beroperasi pada tahun ini dan pembangunannya akan rampung pada 2006. Sejumlah lembaga, seperti Institute of Molecular and Cell Biology, Bioinformatics Institute, Bioprocessing Technology Centre, Institute of Bioengineering, dan Genome Institute of Singapore, juga sudah dibentuk. Industri farmasi terkemuka seperti GlaxoSmithKline dan Merck Sharp & Dohme telah menyatakan akan bergabung dan bekerja sama dengan pusat riset kanker yang disebut Singapore Tissue Network.

Ko Kheng sendiri mengharapkan Biopolis akan menjadi tempat berkarya bagi 2.000 orang ilmuwan. Mendapatkan sekian banyak ilmuwan dari negeri yang populasinya hanya 4 juta orang itu bukan hal yang mudah. Tapi, dengan uang, hal itu bisa diatasi. Beberapa ilmuwan dunia sudah bisa dibajak ke sana.

Bagaimanapun, mimpi berbiaya miliaran dolar ini mendatangkan kritik. Seorang analis di DBS Vickers Securities mengatakan bahwa gagasan yang terkesan sekadar untuk diversifikasi dari bidang elektronika yang dominan selama ini harus dicermati.

Masalahnya, “Bioteknologi adalah sebuah industri ventura berisiko tinggi dan akan membuat investasi jadi tidak menentu,” ujar Eddie Lee seperti dikutip Feer.com. Hambatan lainnya adalah masih belum matangnya industri modal ventura di kawasan tersebut. “Kelemahannya terutama pada uji tuntas yang tidak memadai. Dan ini akan berpotensi menjadi problem yang serius,” ujar Foo Fatt Kah, Direktur Ekuitas SG Securities.

Tapi modal sudah dikucurkan dan pembangunan proyek pun sudah dijalankan. Tekad pemerintah Singapura tak terbendung.

Budi Putra

TEMPO Edisi 020303-052/Hal. 60      Rubrik Ilmu & Teknologi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: