‘Game’ Kolosal tanpa Sekat

20, May, 2003

Yang ditakuti pemain online game bukan monster seribu nyawa, melainkan koneksi internet yang tiba-tiba down.

BEKERJA sepuluh jam sehari di sebuah lembaga keuangan investasi di Seoul, Korea Selatan, tak membuat Yoon Dae-won kelelahan. Setiap malam, ia masih sempat bergabung dengan sejawatnya di kafe internet dan bermain Lineage: The Blood Pledge hingga subuh. Tapi itu belum cukup juga. Setiap hari, dalam perjalanannya dari rumah ke kantor, dengan telepon seluler ia masih melanjutkan petualangan berburu monster itu. “Jika saya tak berhasil membunuhnya, pasti akan terbawa mimpi,” ujarnya.

Lelaki berusia 25 tahun itu memang terobsesi oleh online game. Tapi ia tak sendiri. Dari 3,2 juta pengguna aktif Lineage di dunia selama satu bulan, 2,2 juta di antaranya berasal dari Korea Selatan. Meluasnya permainan ini di Negeri Ginseng didukung oleh infrastruktur teknologi informasinya, yang menggunakan koneksi pita lebar (broadband).

Permainan online kolosal atau massively multiplayer online role-playing game (MMORPG) seperti Lineage memang membutuhkan koneksi internet yang cepat dan stabil. Jika tidak, pasti berantakan. Yang ditakuti pemain ternyata bukan monster raksasa seribu nyawa, melainkan koneksi internet yang tiba-tiba melambat atau bahkan down. “Permainan yang terhenti tiba-tiba jauh lebih buruk daripada mati tertembak dalam sebuah permainan,” ujar Nora Achirati, seorang analis permainan digital.

Sebegitu parahkah permainan online ini? Dari sisi teknis memang masih terbentur masalah, tapi dari sisi prospek tak ada yang meragukan. Meskipun jagat game saat ini masih dikuasai permainan offline yang menggunakan komputer lokal ataupun play-station, masa depan permainan online diyakini sangat cerah. Pusat riset DFC Intelligence memperkirakan 114 juta orang akan bermain online game pada 2006, jauh lebih banyak dibanding sekitar 50 juta orang yang memainkannya saat ini.

Apalagi, prinsip permainan jenis ini, yang massal, serentak, dan interaktif, sangat menggoda. “Siapa sih yang tidak tertantang bermain dengan lawan-lawan dari berbagai negara?” kata Eddy Lim, pendiri komunitas Indonesian Gamer.

Di Asia, selain Korea Selatan, permainan ini juga diminati di Jepang, Cina, dan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurut majalah Level, permainan digitl ini sudah mulai digemari di Tanah Air, ditandai dengan populernya Redmoon. Selain itu, portal online game pertama di Indonesia, Bolehgame.com, baru saja meluncurkan versi beta, Laghaim. Sebelumnya komunitas ini sudah merilis Nexia, PamPam Game, dan GunBound.

Masih menganganya pasar online game membuat Sony Corp., produsen video game dengan angka penjualan tahun lalu mencapai US$ 56,9 miliar, langsung mencari jurus baru. Bekerja sama dengan IBM, produsen komputer dengan pendapatan US$ 85,9 miliar (2001), dan Butterfly.net Corp, Sony segera memperkenalkan jaringan online game (online game grid). Jaringan yang bisa menggunakan koneksi broadband, dial-up, ataupun telepon seluler ini memungkinkan lebih dari sejuta pengguna PlayStation 2 bisa bermain secara bersamaan di internet.

Selama ini pemain terbagi ke dalam berbagai server (penyedia jasa), dan jumlah pemain dibatasi. Jumlah pemain yang berlebih (overloaded) akan membuat server jadi down dan permainan terhenti. Tapi, dengan jaringan ala Sony, interaksi server-nya diperkuat dengan infrastruktur game yang gesit: server dapat ditambah atau diganti, tanpa harus mengganggu atau menghentikan permainan sama sekali.

Tentu ini kabar baik yang sudah lama ditunggu-tunggu para pecandu game, karena mereka bisa bermain tanpa sekat dan tenggat. “Inilah surga bagi para gamer,” kata Nora.

Jaringan yang dijalankan dengan IBM Dual Xeon Blade Servers–bisa dijalankan dengan Linux, WebSphere, dan DB2–ini dibangun dengan gugusan server yang menggunakan protokol Globus. Selain  PlayStation 2, teknologi ini juga bisa melayani WindowsPC/Xbox, LinuxPC, Mac OSX, PocketPC, dan Palm.

Eddy yakin, berbagai game baru yang sedang dirancang pasti akan menyesuaikan diri dengan teknologi grid. Proyek semacam ini, menurut dia, sudah berada pada aras yang benar. “Online game memang masa depan pemain dan kreator game,” ujarnya kepada TEMPO.

Ya, kenapa tidak?

Budi Putra

TEMPO Edisi 030323-003/Hal. 60      Rubrik Teknologi Informasi

3 Responses to “‘Game’ Kolosal tanpa Sekat”


  1. Developer game Indonesia juga mulai membuat game multiplayer, seperti yang anda bilang Prospek Multiplayer Game sangat cerah dan analisis tersebut sangat akurat jika melihat perkembangan mulitplayer game khusus menggunakan jaringan internet. Team kita sedang mengembangkan game online yang simpel untuk memacu developer game Indonesia yang lain.

  2. Kukuh TW Says:

    kami juga salah satu game developer indonesia, memiliki portflolio dalam membuat games untuk platform pocketPC dan Mobile Phones. untuk online games-nya. Untuk online gamesnya baru bisa bikin amat sangat sederhana sekali.

  3. budi Says:

    Kalo saya mau belajar boleh ndak yah ? Mungkin agak sulit dan harus tau Program ya ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: