Memilih Perisai Digital

21, July, 2003

Begitu kebakaran, dengan metode ini, tak secuil pun data yang hilang.

BERBENAH cepat, hanya sepekan setelah serangan terhadap World Trade Center, perusahaan-perusahaan penyewa ruangan kantor di menara kembar itu harus menghadapi kenyataan bahwa mereka menanggung kerugian fisik yang nilai totalnya sekitar US$ 15 miliar. Gedung musnah. Jadi, tak ada kantor. Komputer, apalagi.

Namun ada satu hal yang bisa diselamatkan dari musibah itu: data-data elektronik. Inilah yang membuat seorang ahli teknologi dari Morgan Stanley menggambarkan WTC sebagai “(mungkin) satu-satunya fasilitas kantor yang benar-benar disiapkan dari sebuah perspektif penyelamatan data”.

Lain halnya yang terjadi di Indonesia. Ketika terjadi kebakaran di instansi pemerintah, tak ada yang bisa diselamatkan, karena arsip masih berupa lembaran-lembaran kertas. Celakanya, ketika kantor Departemen Keuangan terbakar pada 11 Maret lalu, yang menjadi sasaran amukan api justru ruang Pusat Akuntansi Informasi Keuangan di lantai 6 gedung di Jalan Lapangan Banteng Timur 2-4, Jakarta Pusat.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran di kantor instansi pemerintah lainnya–disengaja atau tidak–sudah saatnya dipikirkan sistem proteksi data secara digital. Menurut Nina K. Wirahadikusumah, Team Leader Storage Systems Group IBM Indonesia, pengelolaan data digital ini menyangkut konsolidasi kapasitas penyimpanan (storage consolidation), kemampuan memproteksi data (rapid recovery), tingkat toleransi terhadap ancaman kerusakan (disaster tolerance), dan kemampuan membagi data (data sharing).

Dalam menghadapi bencana seperti itu, menurut Hasnur Ramadhan, Senior Technology Manager Oracle Indonesia, diperlukan suatu pusat data (disaster recovery center) yang merupakan backup (cadangan) seluruh data dan aplikasi dalam suatu gedung. Pusat data ini harus ditempatkan di lokasi lain. “Begitu terjadi kebakaran, dengan metode ini, tak secuil pun data yang hilang,” ujarnya.

Dilihat dari cara kerjanya, ada tiga jenis metode penyelamatan data: hot backup (langsung mengambil alih fungsi sebagai penyedia data ketika terjadi bencana), semi-backup, dan cold
backup (keduanya membutuhkan waktu lebih lama). Media penyimpan yang digunakan adalah disk, tape berupa optik, dan pita magnetik.

Namanya saja penyimpanan digital, tentu data yang ada harus diformat secara digital lebih dulu. Bentuknya bisa berupa arsip kertas biasa yang sudah dipindai (scan) maupun file teks ataupun gambar yang sudah digital.

Bagaimana infrastruktur dan cara kerja solusi digital itu? Prinsipnya sederhana: komputer-komputer pengguna (clients) yang akan menginput data harus terhubung ke jaringan local area network (LAN) atau wide area network (WAN) yang akan mengirimkan data ke tempat penyimpanan (storage) di server. Sampai di situ, penyimpanan digital boleh dikatakan sudah oke. Namun, kalau ingin yang lebih maju, misalnya yang memungkinkan server-server bisa berkomunikasi dengan suatu sistem manajemen data, diperlukan manajemen server yang disebut storage area network (SAN).

Tentu tak hanya peranti keras, peranti lunak seperti database software juga sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan penyimpanan digital. Menurut Hasnur, sistem manajemen database berfungsi mengatur peran sekuriti dalam menyimpan dan mengelola data sendiri.

Biaya pasti menjadi faktor yang diperhitungkan. Menurut Nina, besarnya ongkos yang harus dikeluarkan sangat bergantung pada jumlah klien dan jenis manajemen data yang dibutuhkan. Namun, mengingat besarnya kemampuan proteksi terhadap data yang tak ternilai harganya itu, “Mahal atau tidaknya biaya yang dikeluarkan akan menjadi sangat relatif,” ujarnya.

Tidaklah mengherankan, perlindungan elektronik, baik dari ancaman bencana, faktor usia, maupun serangan rayap, mulai menjadi pilihan di banyak negara, khususnya bagi korporat dan instansi pemerintah. “Budaya kita menumpukan harapan pada perlindungan elektronik,” kata Jack Rakove, profesor sejarah di Stanford University.

Diharapkan atau tidak, era digital tetap akan datang menjelang.

Budi Putra

TEMPO Edisi 030406-005/Hal. 62      Rubrik Teknologi Informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: