Perang untuk Medan Maya

20, August, 2003

Perang merebut masa depan Internet di Irak baru saja dimulai.

WAJAH lonjong berkacamata yang mengenakan topi baret itu tak lagi muncul di layar televisi. Sejak Bagdad jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya, dua pekan lalu, Menteri Penerangan Irak Mohammad Said al-Sahaf menghilang dari hadapan 60 juta pasang mata pemirsa televisi Al-Jazeera di dunia.

Banyak yang merasa kehilangan anggota kabinet Saddam Hussein itu: selain penampilannya tampak percaya diri, komentarnya tajam. Beberapa petikan ucapannya menjadi populer. Misalnya, “Saya ingin menginformasikan kepada Anda bahwa Anda sudah terlalu jauh dari kenyataan,” atau, “Tak akan ada kafir Amerika di Bagdad!” atau, “Kami akan menyambut pasukan koalisi dengan senang hati–dan akan memotong-motongnya.”

Meski tak tampil di layar gelas, kini Al-Sahaf bisa “dijumpai” di Internet. Sebuah situs, WeLoveTheIraqiInformationMinister.com, sejak pekan lalu menjadi terkenal karena memuat kutipan-kutipan menteri Irak yang kini raib itu. Situs ini juga menjual kaus dan mug yang bertuliskan kutipan-kutipan Sahaf. “Al-Sahaf kini menjadi bintang di Internet,” tulis Reuters.

Namun, meski berisi soal Irak, situs WeLoveTheIraqiInformationMinister sama sekali tak dikelola
(hosting) di Irak dan juga tak ditangani oleh orang Irak. Oleh sekelompok orang pencinta damai, situs itu dikelola dan ditempatkan di sebuah server di Alaska, Amerika Serikat.

Memang tak mungkin berharap akan ada situs web yang dikelola di Irak saat ini. Terhitung sejak 31 Maret, tak ada lagi akses Internet, menyusul dihajarnya server dan piring-piring pemancar di Kantor Menteri Penerangan di Bagdad oleh rudal-rudal Amerika. Situs-situs web milik pemerintah dan media massa setempat juga sudah ditutup. Serangan bertubi-tubi ke sejumlah instalasi telekomunikasi memperburuk kondisi jaringan. Para wartawan peliput perang harus memanfaatkan akses satelit agar dapat mengirimkan e-mail ke markas besar medianya.

Sebenarnya, sebelum perang pun, Internet di Irak sangat tak memadai. Layanan itu bahkan baru dimulai pada awal 2000 dan terbatas untuk institusi pemerintah, universitas, dan pusat layanan medis. Selain pemerintah setempat mengawasinya dengan ketat, biaya untuk aksesnya cukup tinggi karena memang terkait dengan embargo ekonomi sejak 1991, yang mengakibatkan penggunaan komunikasi satelit menjadi mahal. Jumlah penggunanya relatif kecil, sekitar 22 ribu orang, dan sebagian besar memanfaatkan kafe Internet yang terdapat di Bagdad dan kota lainnya.

Setelah digilas mesin-mesin perang, semua itu harus dimulai dari nol lagi. “Perang di Irak memang hampir selesai, tapi perang merebut masa depan Internet di Irak baru saja dimulai,” tulis Kieren McCarthy di register.co.uk. Ia mencontohkan, perusahaan penyedia jasa Internet (ISP) yang berbasis di London kini sedang bergerilya untuk mendapatkan proyek pengadaan jaringan Internet
di Irak pascaperang.

Tidak hanya dalam urusan teknis server dan segala aksesorinya, sebuah perusahaan Inggris, Omega, juga berambisi menjadi lembaga pengelola domain khusus berakhiran “.iq” yang selama ini dinonaktifkan. Padahal, menurut perusahaan konsultan TeleGeography, hingga Januari 2002, tercatat 225 pemilik domain dengan akhiran itu.
Seperti kasus domain Afganistan yang dialihkan dari pemilikan individual ke institusi pemerintah transisi, hal yang sama terjadi pada domain Irak. Pada 9 Mei 1997, domain ini sudah
dipercayakan pengelolaannya kepada Elashi bersaudara, yang bermarkas di Texas, Amerika. Namun, pada Desember 2002, keempat bersaudara asal Palestina itu harus meringkuk di penjara Seagoville, Texas, karena dituduh ikut membiayai aksi teroris Hamas di Beirut.

Domain Irak ternyata cukup manjur. Komite Pembangunan Kembali Teknologi Informasi di Irak (CITRI), misalnya, akan melelang domain-domain cantik berakhiran “.iq”. “Hasilnya akan digunakan untuk membangun Internet Irak,” ujar Ben Fitzgerald-O’Connor, pemimpin komite itu.

Seperti dunia nyatanya, Internet Irak–dari jaringan, content, hingga domain–akan dikuasai asing. Tak ada yang bisa menyelamatkannya, termasuk Menteri Al-Sahaf, yang kini menjadi dagangan sebuah situs Amerika.

Budi Putra

TEMPO Edisi 030427-008/Hal. 86      Rubrik Teknologi Informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: