Simulasi Komputer untuk Efisiensi

19, March, 2004

Simulasi bisa menghindari biaya besar akibat kesalahan kebijakan

JAKARTA — Pabrik pembuat komponen pesawat di Sydney Australia itu bernama Boeing Hawker de Havilland. Perusahaan yang tahun lalu dibeli raksasa Boeing itu mengkhususkan pada pembuatan komponen pesawat terutama bagian kendali seperti flap di sayap, ekor pesawat, serta wing tip yang dipakai pesawat AirBus.

Masalahnya, sebagian besar komponen tersebut dibuat dari bahan komposit yang bahan mentahnya memiliki kedaluarsa–di antaranya hanya berumur 14 hari jika disimpan pada suhu ruangan. Untuk pembelian satu jenis material yang disebut prepreg, perusahaan ini mengeluarkan biaya sekitar A$ 16 juta per tahun (hampir Rp 100 milyar). Celakanya, dari jumlah itu, senilai A$ 4 juta (sekitar Rp 25 milyar) malah terbuang, karena material itu tak sempat digunakan sebelum umurnya habis.

Perusahaan ini kemudian bekerja sama dengan lembaga riset CRC-IMST yang di dalamnya tergabung peneliti dari University of New South Wales (UNSW) dan Royal Melbourne Institute of Technology, Melbourne, Australia. Dengan menggunakan simulasi komputer, kebijakan inventorinya dimodifikasi, dan kemudian diimplementasikan. Hasil penerapan kebijakan baru tersebut ternyata dapat menyumbang penghematan senilai US$ 250 ribu atau sekitar Rp 2,15 milyar per tahun.

Salah seorang peneliti dari tim tersebut adalah Doktor Henmaidi, kini menjadi dosen Fakultas Teknik Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat. Ia terlibat karena bidang itu memang menjadi penelitian program doktornya.
Disertasi: Manajemen Inventori untuk Material yang Dapat Rusak di Industri Pesawat Terbang mengantarnya menjadi doktor teknik dan manajemen industri di UNSW pada akhir 2002. Versi ringkas dari penelitian itu pernah tiga kali dipresentasikan dalam konferensi internasional dan dimuat dalam proceeding edisi Australia dan Amerika.

Menurut Henmaidi, simulasi komputer merupakan metode luar biasa dalam mencari solusi suatu masalah. Ilmuwan astronomi, sangat mengandalkan simulasi komputer dalam mempelajari fenomena-fenomena antariksa. Ia menunjuk keberhasilan Sabine Stanley dan Jeremy Bloxham dari Universitas Harvard yang berhasil menyingkap misteri medan magnet yang unik di Planet Uranus dan Neptunus sebagai contoh sukses mutakhir metode ini (Koran Tempo, 17/3/2004).

Simulasi adalah metode dan aplikasi yang mecoba meniru prilaku suatu sistem yang riil. Simulasi merupakan alat analisis suatu sistem dengan cara memodelkannya, biasanya dengan menggunakan program komputer. Dalam prakteknya, pengertian simulasi ini bisa berlaku sangat umum, karena penerapannya bisda di berbagai bidang seperti sosial kemasyarakatan, industri, lingkungan, bahkan politik. Simulasi pelaksanaan pemilihan umum merupakan contoh yang saat ini sedang ramai dibicarakan.

Menurut pria kelahiran Payakumbuh, Sumatra Barat, 20 Mei 1970 ini, sistem yang akan disimulasikan dapat merupakan suatu fasilitas, atau proses aktual maupun yang sedang dalam perencanaan.

Masalah inventori
Dalam sebuah industri terdapat banyak aktivitas yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan pertambahan nilai (value adding). Aktifitas yang tidak langsung bersifat sebagai pendukung (support), misalnya administrasi, penyimpanan barang di gudang, manajemen SDM, perencanaan dan sebagainya. Sementara, dalam konsep value adding manajemen, aktifitas yang tak langsung menambah nilai dikategorikan sebagai sumber pemborosan, namun aktivitas ini tak boleh serta-merta dihilangkan, karena keberadaannya akan membantu kelancaran aktivitas yang menambah nilai. “Kondisi yang diinginkan adalah tercapainya kombinasi yang proporsional antara kedua jenis aktivitas itu,” ujarnya.

Menurut Henmaidi, secara teoritis proporsi terbaiknya berkisar 50:50. Artinya, jumlah aktivitas yang langsung menambah nilai sebanding dengan yang tak menambah nilai. Namun, kenyataan di lapangan banyak perusahaan dalam kondisi 10:90, hanya 10 persen aktivitas yang menambah nilai, sementara 90 persen lainnya adalah “lain-lain”, yang intinya pemborosan.

Salah satu contoh yang menarik adalah inventori (menyimpan barang-barang persediaan). “Banyak perusahaan yang tidak memperhatikan inventorinya,” ujar suami Rivi Yanti dan bapak dua anak ini. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai inventori itu dapat mencapai 30 hingga 60 persen dari total aset yang dimiliki perusahaan itu. Padahal untuk menjaga inventori itu, perusahaan harus mengeluarkan biaya yang mencapai 20 hingga 30 persen nilai inventorinya setiap tahun. Artinya jika perusahaan ini menahan inventori rata-rata Rp 100 milyar per tahun, maka perusahaan ini harus mengeluarkan biaya hingga Rp 30 milyar tiap tahunnya.

“Jadi perusahaan mengeluarkan biaya sangat besar untuk sesuatu yang tidak menambah nilai bagi perusahaan,” tukas Henmaidi.
Menurunkan nilai inventori, menurut dia, adalah salah satu cara untuk efisiensi perusahaan. Namun, penurunan inventori membabi buta beresiko buruk bagi perusahaan, seperti terhentinya produksi karena tak ada bahan baku. Mesin-mesin tak berjalan karena tak ada suku cadang. Atau banyaknya permintaan konsumen yang tak terpenuhi tepat waktu.

Dengan simulasi, semua sistem di industri itu ditiru dan dimodelkan menggunakan program aplikasi komputer. Berbagai alternatif kebijakan diujicoba. Masalah-masalah yang mungkin terjadi akibat pengambilan suatu kebijakan dapat dikaji sebelum diterapkan di lapangan. “Dengan simulasi biaya besar akibat kesalahan kebijakan dapat dihindari,” ujarnya.

Menurut dia, hal yang sama juga bisa dilakukan di Indonesia. Sekalipun belum ada data valid, ada keyakinan bahwa banyak perusahaan di Indonesia, terutama BUMN, yang belum efisien. Banyak peluang efisiensi yang dapat diusahakan untuk meningkatkan daya saingnya. “Penggunaan teknik-teknik analisis seperti simulasi dengan komputer ini mungkin sangat membantu perusahaan dalam menerapkan kebijakan-kebijakan baru,” ujar dosen yang juga konsultan manajemen inventori di PT Semen Padang ini.

Koran Tempo, 19/03/2004  Iptek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: