Mobile Mudik

17, November, 2004

Agak tercenung ketika saya menemukan sebuah kotak kemasan kartu seluler prabayar keluaran beberapa tahun lalu. Bukan karena desain kemasannya yang memang tak kalah dengan kemasan sekarang, tapi karena harga kartu perdana yang tertulis di situ: Rp 575 ribu.

Sebuah angka yang tidak sedikit, bukan? Itu belum apa-apa. Seorang rekan, jauh sebelumnya, malah sempat membeli kartu perdananya di atas Rp 1 juta.

Bayangkan, betapa niatnya orang memiliki kartu prabayar dengan harga beli setinggi itu! Apalagi, nilai pulsa yang sudah terdapat dalam kartu perdana tersebut juga tidak seberapa.

Sekarang? Begitu cepatnya waktu berlalu. Harga kartu perdana saat ini murah-meriah: ada yang seharga Rp 25 ribu, Rp 20 ribu, bahkan Rp 10 ribu. Hebatnya lagi, nilai pulsa yang termasuk di dalamnya bisa melebihi harga jual nomer perdana, belum lagi ada SMS dan content gratis.

Tak heran jika ada teman yang hobi berganti nomor seluler hampir tiap bulan. Bukan karena nomornya hilang, atau “paranoid nomor cantik”, tapi karena “jauh lebih menguntungkan beli nomor perdana seharga Rp 10 ribu dengan pulsa hingga Rp 30 ribu ketimbang membeli kartu isi ulang,” ujarnya ketawa.

Sebagai bukan orang bisnis yang harus menjaga citra dan relasi, ujar teman saya itu, gonta-ganti nomer seluler baginya lebih dilihat dari aspek praktis dan ekonomisnya saja.

Cuma, ruginya, “orang jadi kesulitan kalau mau menghubungi saya. Mau dihubungi ke nomor berapa ya? Ke nomor yang ketujuh atau yang keduabelas?”

Inilah salah satu imbas perang tarif antaroperator seluler. Momentum mudik lebaran tahun ini pun tak luput jadi mangsa dan pangsa. Operator berlomba-lomba menawarkan pelayanan yang menarik. Tak heran, konsumen pun sampai kebingungan dan kewalahan memilihnya.

Tak apa. Yang diuntungkan dari perang tarif ini adalah para konsumen sendiri. Mereka dengan mudah bisa memilih layanan yang paling menarik, inovatif dan murah.

Bagi operator seluler di Indonesia, layanan prabayar memang sudah menjadi primadona sejak lama. Buktinya, layanan prabayarlah yang berhasil menyelamatkan operator-operator ini dari ancaman gulung-tikar pada saat krisis moneter beberapa tahun lalu.

Sekarang, kecenderungannya bukannya makin surut. Lebih dari 90 persen dari total pengguna layanan seluler di Indonesia yang berjumlah lebih dari 25 juta orang berasal dari segmen ini.

Meskipun tarif panggil dan SMS layanan prabayar per unitnya lebih mahal dibanding layanan pascabayar, tetapi tetap saja orang merasa lebih nyaman menggunakan layanan prabayar.

Alasannya: pemakaiannya lebih terkontrol. Alasan lain, tidak perlu membayar abonemen bulanan. (Namun, yang menarik, sejumlah kartu pascabayar saat ini sudah menawarkan layanan tanpa abonemen — jadi alasan yang kedua, sudah tak relevan lagi).

Mengingat kian ketatnya persaingan di lahan ini, operator memang dituntut harus makin kreatif dan inovatif. Misalnya, bagaimana agar si pengguna tak mudah “berpindah ke lain hati”?

Jelas, layanan bernilai tambah perlu terus digeber sehingga ada semacam ikatan emosional yang membuat pengguna layanan tersebut tidak sekadar mempertahankan nomornya tapi terus menggunakan layanan tersebut secara aktif.

Apalagi ketergantungan orang pada teknologi bergerak ini sudah sangat kentara: Anda pernah melihat orang yang ketinggalan ponselnya di rumah? Ia pasti akan balik lagi. Padahal, ketinggalan dompet saja tak membuat ia serisau itu.

Mengapa? Karena ponsel ternyata sudah makin identik dengan identitas seseorang. Ketika tak ada satu pun orang yang menghubunginya tatkala ponselnya ketinggalan di rumah, ia akan merasakan ada sesuatu yang kurang. Ia seolah tak percaya kalau tak orang yang menghubunginya.

Nomor telepon memang tak lagi mengacu kepada tempat, tapi orang. Jadi siapa pun akan terus berusaha bagaimana agar ia tetap bisa terhubung dan dihubungi.

Inilah alasan utama mengapa operator-operator begitu gencar membidik segmen mudik lebaran ini. Ya, untuk menjaga agar para pemudik (istilahnya mungkin: mobile mudik) tidak sampai kehilangan kontak sehingga jangkauan yang paling luas akan menjadi pilihan utama.

Sedangkan bagi yang tak bisa mudik tetap bisa bersilaturahmi dengan sanak keluarga, meskipun lewat SMS dan MMS berisi ucapan selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin. Bolehlah kalau disebut e-mudik.

Di sinilah, posisi layanan seluler prabayar menemukan momentumnya: tak perlu mendaftar, menyerahkan fotokopi KTP dan menunggu verifikasi ini-itu — seperti yang berlaku pada layanan pascabayar. Kartu prabayar memang sangat praktis: begitu kemasannya dibuka, nomornya langsung aktif dan langsung kring.  (ec-kt-7.11.04)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: