Menunggu Wi-Fi buat Rakyat Jelata

4, July, 2005

Gagasan awalnya adalah bagaimana semua orang–tanpa terkecuali–bisa menikmati akses internet, jaringan pintar yang mengubah dunia itu, dengan gratis.

“Internet untuk rakyat jelata,” begitulah cita-citanya. Berangkat dari gagasan itu, ribuan penggila teknologi ini bergotong-royong mengutak-atik hardware, software dan antena sendiri untuk menggelar sentra akses internet berpita lebar nirkabel Wi-Fi (wireless fidelity) mereka.

Dimotori para pelopor macam Rob Flickenger di San Francisco dan Anthony Townsend di New York, mereka merakit sentra Wi-Fi berbasis Linux yang murah meriah, lantaran perlengkapan Wi-Fi yang tersedia masih mahal.

Tujuannya mulia: mereka menginginkan masyarakat di mana pun bisa menikmati Internet berpita lebar dan berkecepatan tinggi dari jaringan dengan cuma-cuma.

Teknologi ini memang dilahirkan oleh komunitas “rakyat jelata” sebagai buah dari gerakan antikomersialisasi Internet.

Romantisme jalanan itu akhirnya menemukan momentumnya ketika mereka menemukan bahwa sinyal radio bisa digunakan untuk memancarkan akses Internet dan melahirkan jabang bayi Wi-Fi.

Apa itu Wi-Fi? Inilah teknologi dengan sinyal radio yang memancarkan koneksi Internet berkecepatan tinggi hingga radius 100 meter.

Teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b yang menggunakan spektrum 2,4 GHz mampu mentransmisikan sinyal sekuat 11 megabit per detik (Mbps).

Sementara teknologi 802.11a yang menggunakan spektrum 5 GHz, memungkinkan transmisi hingga 54 Mbps. Sedangkan 802.11g, yang hanya menggunakan spektrum 2.4 GHz, mampu melakukan transfer data hingga dua kali lipat, 22 Mbps.

Jika peranti mungil ini ditempelkan pada modem dengan koneksi berpita lebar, semua komputer yang memiliki penerima Wi-Fi di sekitarnya bakal kecipratan akses Internet.

Tak peduli modem itu berada di ruang kantor sebelah, kamar tetangga, atau rumah di seberang jalan; juga tak peduli apakah si pemilik modem itu mengizinkan akses Internetnya dinikmati orang lain tanpa izin. Ini memang sebuah metode canggih yang didasari gagasan liar yang cerdas.

Karenanya, di kedai-kedai kopi, resto, atau ruang tunggu bandara, Anda tak perlu sibuk mencari sambungan telepon hanya untuk mendapatkan akses Internet di laptop Anda. Lupakan saja kabel-kabel itu. Lupakan pula warung Internet.

Bagi para inisiatornya, Wi-Fi adalah bagian dari upaya memperjuangkan akses internet sebagai salah satu bentuk “hak asasi manusia”.

Sebaliknya, bagi kalangan bisnis, Wi-Fi tetaplah menjadi tambang uang baru yang harus terus-menerus dikeruk. Pemilik resto dan kafe misalnya menjadikan hot spot sebagai magnet bagi pengunjung untuk menikmati sajian mereka sambil berinternet.

Aspek bisnis Wi-Fi memang sangat menggiurkan. Bagi penyedia jasa Wi-Fi, tentulah sulit untuk tidak mengutip bayaran dari para penggunanya. Sebab, teknologi ini juga tak bisa dikatakan murah. Sementara para penggunanya juga tak keberatan membayar karena aksesnya memang yahud.

Namun selain sisi bisnis, secara simultan sisi sosialnya mestinya juga menjadi perhatian semua. Mungkin ke depan akan muncul semakin banyak gerakan yang memungkinkan Wi-Fi bisa diakses semua orang.

Cuma di Indonesia kendalanya cukup berat. Bukannya mendukung atau memberikan subsidi agar Wi-Fi berkembang di negeri ini, pemerintah malah memberlakukan pajak kepada siapa saja yang menggunakan spektrum 2,4 GHz–spektrum teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b.

Artinya apa? Wi-Fi sebagai akses bagi kalangan rakyat jelata semakin jauh dan menjauh. Boro-boro dapat internet gratis jika aktivis pengelolanya keburu bangkrut karena dipajaki pemerintah! (KT 281104)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: