Hidup Cerdas dan Hemat ala Digital

5, July, 2005

TANPA disadari kita mulai sudah memasuki era digital. Kita mungkin belum memiliki sejumlah perangkat digital yang canggih, tapi setidaknya kita sudah lama meninggalkan sejumlah aktivitas yang sudah usang.

Menyingkirkan album foto konvensional misalnya. Menaruh foto keluarga di desktop komputer di kantor, memasang foto-foto kenangan di galeri digital gratisan sejumlah situs web atau memajang foto anak di wallpaper di telepon genggam.

Anda tentu sudah lama sekali tidak mengirim kartupos, bukan? Jika sekian tahun lalu, ketika sedang berada di luar negeri, Anda sering tergopoh-gopoh ke kantor pos setempat hanya mencari kartupos bergambar obyek wisata ataupun landmark negara setempat dan mengirimkannya untuk para sejawat Anda di tanah air – mungkin sekadar kangen, atau sekadar pamer kalau lagi berada di luar negeri.

Apa yang terjadi? Anda sudah kembali ke tanah air dan sudah masuk kerja lagi ketika kartupos itu baru sampai ke alamat tujuan! “Ini kamu kirim dari sana, atau barusan kamu taruh di mejaku?” begitu mungkin ledek teman-teman.

Penggunaan kartupos tradisional kini sudah digantikan oleh kartupos digital macam layanan Bluemountain, termasuk kartu ucapan selamat Lebaran atau Tahun Baru.

Menggunakan kartupos untuk kuis dan sayembara berhadiah pun sudah mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pesan singkat (short message service) yang jauh lebih praktis dan cepat.

Masihkah Anda ingat kapan terakhir Anda mengirim uang lewat wesel-pos? ATM dan mobile banking telah berhasil menyingkirkan semua itu dari hidup Anda.

Anda juga tak perlu antri hanya untuk membayar tagihan telepon, listrik atau biaya pendidikan. Anda cukup menggerakkan jari-jari Anda di atas keypad ponsel untuk melakukannya.

Lalu, kapankah terakhir Anda mengirim telegram? Masihkah ingatkah Anda bagaimana cara mengirimkannya?

Sekali-dua mungkin Anda masih mengirim surat via pos. Surat elektronik yang murah, cepat, praktis, egaliter, personal dan tepat sasaran, membuat surat tradisional sudah hampir kehilangan kekuatan dan pesonanya. Anggapan bahwa tulisan tangan lebih menunjukkan karakter dan kepribadian itu adalah soal lain.

Bertumpuk-tumpuk kertas dokumen, kertas kerja, makalah, diktat, bahkan naskah buku, tak perlu lagi memenuhi tas Anda, tapi sudah bisa digantikan dengan cara menyimpannya ke dalam media penyimpan mungil dan portabel macam flash drive. Atau, Anda juga bisa menyimpannya di laci virtual macam di server Internet.

Akibatnya, penggunaan kertas juga semakin berkurang. Paperless society, sebuah masyarakat tanpa kertas, cepat atau lambat, akan terwujud.

Jadi Anda tak perlu merasa berkecil hati jika belum memiliki gadget
andalan, smart phone, atau smart home saat ini. Jika Anda telah
mulai meninggalkan sekian banyak aktivitas tradisional, sesungguhnya Anda telah, seperti judul buku Nicholas Negroponte, menjadi digital.

Tapi bagaimana halnya dengan sebagian orang yang terkesan masih setengah- setengah atau ragu-ragu untuk menjadi digital? Tidak ada masalah. Menurut saya, itu hanyalah masalah waktu saja.

Soalnya memang masih ada orang yang lebih familiar membaca naskah hasil cetakan (print-out) ketimbang format digital. Masih ada orang yang sudah mengirim e-mail tetapi tetap menyusulkan faksimili atau surat via pos sebagai cadangan.

Tidak masalah. Hal itu adalah bagian dari proses menuju dunia serba digital. Tapi saya melihat fenomena tersebut masih wajar dan logis. Pemahaman terhadap perubahan menjadi digital tentulah bukan perkara gampang.

Yang tidak wajar, atau malah sangat lucu, justru fenomena berikut ini: Anda akan menemukan sebuah fenomena menarik: biaya mencetak foto digital jauh lebih mahal ketimbang mencetak film negatif dari kamera biasa! Umpamanya, biaya cetak foto digital 4R tarifnya Rp2000 per buah, sedangkan cetak film negatif Rp1750 per buah.

Coba bayangkan, di mana logikanya? Apakah orang akan dipaksa untuk kembali menggunakan kamera biasa, membeli rol film, mencuci dan mencetaknya?

Inilah gaya hidup digital ala negara berkembang.

Solusinya ada dua: Pertama, jika semakin banyak studio foto yang memiliki perangkat teknologi pencetakan digital ini, monopoli tarif akan bisa teratasi.

Jelas, segmen yang mereka bidik adalah orang yang setengah-setengah masuk ke dunia digital: yang telah memilih membuat foto digital, tapi tetap ingin mencetaknya.

Kedua, memperkuat keyakinan bahwa aktifitas digital mestinya pelan-pelan mulai meninggalkan aktivitas tradisional yang membutuhkan banyak kertas.

Mulailah hidup cerdas dan hemat ala digital sehingga kita tak perlu lagi, misalnya, mengutuki biaya cetak digital yang mahal. (KT 311004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: