Memilih Soundtrack untuk Mimpi Anda

5, July, 2005

HINGGA awal 1990-an, pemutar musik walkman — istilah generik yang bermula dari produk Sony — masih populer di kalangan penikmat musik di Indonesia.

Yang menjadi masalah adalah kualitas musik dan kasetnya sendiri. Lebih jelek dari kualitas kaset yang diputar pada compo, betotan bass kadang membuat gendang telinga kita seperti digedor-gedor dengan kejam.

Kasetnya sendiri juga sebuah persoalan besar. Berbasis pita dengan dua sisi yang harus dibolak-balik, kadang kita merasa tidak sabaran kalau harus mengulang sebuah lagu. Belum lagi ada kekhawatiran kalau sebuah kaset sering di-rewind atau di-forward, akan memperburuk kualitas kaset — yang sudah buruk.

Tak ada seorang pun di kalangan industri kaset yang berani bertaruh kalau kaset adalah masa depan industri musik.

Karenanya, kemunculan cakram padat (CD) audio membuat secercah harapan: dengan pemutar musik digital, selain kualitas suaranya jauh lebih bening, penggunaannya pun sangat praktis. Mengulang lagu, memajukan, menghentikan sementara, melompat ke lagu yang lain, bisa dilakukan dengan hanya satu sentuhan pada tombol.

Seiring dengan maraknya penggunaan CD pada pemutar musik digital rumahan, walkman versi CD pun bermunculan. Namanya discman, istilah generik yang masih merupakan anugerah dari Sony.

Saya membeli discman Sony pada pertengahan 1996 ketika berada di Tokyo, Jepang. Harganya 12.000 yen (Rp 264 ribu dengan kurs 1 yen = Rp 22) waktu itu, tidak termasuk CD Celine Dion (Falling Into You) dan Matsuda Seiko (Anata ni Aitakute).

Suara yang dihasilkan pemutar portable sebesar CD itu memang bening. Namun, masalahnya tetap ada. Dengan durasi kemampuan baterai yang relatif pendek, kenyamanan menikmati musik sambil tetap mobile menjadi terusik.

Belum lagi karena lagu dalam CD yang cuma maksimal 20 judul, tentu akan jadi membosankan kalau kita hanya menikmati lagu yang sama berulang-ulang. Selain itu, menggonta-ganti CD pada Discman kadang juga dirasakan agak ribet.

Kendala ini kemudian bisa teratasi ketika sejak awal tahun 2000, format musik MP3, muncul menggoncang dunia. Sebuah CD bisa berisi hingga 300 judul lagu. Namun, format musik ini tidak direstui oleh kalangan industri musik, karena hanya dengan software macam Napster dan Kazaa, semua orang bisa men-download MP3 dari Internet ke PC-nya.

Untuk keluar dari krisis pembajakan MP3 ini, Apple Computer menawarkan sebuah warung musik digital — bernama iTunes — di mana setiap orang bisa men-download lagu apa saja setelah membayar sejumlah uang terlebih dahulu. Dengan hanya satu klik, pengguna internet dapat dengan mudah men-download lagu.

Satu kali download lagu, pengguna dikenakan biaya US$ 0,99 (99 sen dolar). Setelah di-download, lagu itu dapat disalin ke tiga komputer, sejumlah pemutar portable seperti iPod — dan sejumlah pemutar lainnya yang kini bermunculan menyaingi iPod — atau dipindahkan ke dalam maksimal 10 keping cakram padat.

Dari setiap lagu yang dibeli oleh pengguna, Apple membayarkan royalti sebesar US$ 0,65 (65 sen dolar) kepada pemilik lagu. Inilah yang membedakan iTunes dengan layanan musik bajakan seperti KaZaA.

Tak salah lagi, iPod menjadi sangat terkenal. Hampir empat juta unit iPod sudah terjual di dunia. Kesuksesan ini membuat Apple juga meluncurkan iPod mini, yang kini juga sudah masuk ke Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mencoba sebuah iPod mini. Berkapasitas 4 GB, iPod mini bisa menyimpan hingga 1.000 judul lagu. Layarnya cukup cerah, tajam, namun tetap sejuk di mata. Juga tidak banyak tombol yang memusingkan. Teknologi Click Wheel yang intuitif membuat sentuhan jari kita bisa sangat fungsional memilih lagu.

Dengan kualitas lebih bagus dibanding MP3 — seolah-olah ada sebuah konser kolosal dalam kepala kita — membawa-bawa iPod memang mengasyikkan.

Kemampuan baterainya juga relatif panjang — hingga 10 jam, membuat Anda bisa menikmati lagu-lagu di iPod secara nonstop, bahkan selama Anda tidur. Artinya, Anda bebas memilih soundtrack apa saja untuk mimpi Anda.

Dan ketika terbangun, suara lirih Audy, senandung Rio Febrian atau alunan Peter Pan, masih tetap bergema di telinga. 17/10/2004

One Response to “Memilih Soundtrack untuk Mimpi Anda”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: