Pilih GSM, CDMA atau Golput?

5, July, 2005

ADA pertanyaan yang tidak selalu bisa saya jawab dengan mudah. Pertanyaan itu sebetulnya sederhana saja: “Lebih bagus mana GSM atau CDMA ponsel? Saya sudah punya ponsel GSM, apakah beralih ke CDMA sebuah ide yang baik? Atau memiliki kedua-duanya sekaligus?”

Sebelum menjawabnya, mungkin ada baiknya kita telisik dulu seperti apa dua teknologi telekomunikasi bergerak tersebut. Ternyata, pilihan teknologi juga dipengaruhi oleh berbagai macam situasi dan kebutuhan.

Mari kita longok dulu GSM (Global System for Mobile Communications). Teknologi yang berbasis Time Division Multiple Access (TDMA) ini adalah sebuah teknologi digital yang memecah-mecah transmisi menjadi paket (burst) lebih kecil berdasarkan waktu dan menyusun kembali informasi-informasi tersebut pada saat penerimaan sehingga bisa dipahami oleh penggunanya.

Namun, CDMA (Code Division Multiple Access) sendiri merupakan metode yang paling menarik. Sistem ini tak punya saluran, tapi mengubah setiap panggilan menjadi kode-kode unik. Pada akhir penerimaan sinyal, informasi dari urutan kode dikirimkan dan memungkinkan sinyal dapat diekstrak dan direkonstruksi kembali.

Sejauh ini, sistem CDMA merupakan teknologi terkini di pasar seluler. Dari sisi teknis, sistem CDMA bisa mendongkrak kualitasnya di atas kapasitas TDMA dan GSM.

Selain itu, teknologi CDMA dikenal unggul, khususnya CDMA 20001x yang kini mulai marak di Indonesia, terutama terletak pada kejernihan suara dan kecepatan transfer data. Sementara, kelebihan GSM terutama terletak pada kemampuan roaming dan luasnya penggunaan teknologi ini.

Menurut data akhir 2003, pengguna GSM global tercatat 863,6 juta orang sedangkan pengguna CDMA global baru mencapai 174 juta orang. Lebih dari itu, sejak dilahirkan, teknologi GSM sudah disepakati sebagai sebuah teknologi open standard, artinya pabrikan manapun dapat dengan mudah merakitnya tanpa membayar lisensi satu sen pun.

Berbeda dengan GSM, teknologi CDMA cenderung menganut close-standard, sehingga siapa saja yang ingin memproduksi ponsel CDMA, harus membayar lisensi kepada si pemegang lisensi, Qualcom.

Ini juga bisa menjelaskan mengapa sejumlah vendor ponsel terkemuka tidak masuk ke bisnis ini, misalnya, Siemens dan Sony Ericcsson. Mungkin keduanya menganggap CDMA tidak feasible.

Coba kita lihat situasinya di Indonesia. GSM sudah masuk sejak 1996 dan penggunanya sekarang sudah lebih dari 25 juta orang. Tak heran, BTS-BTS operator GSM sudah menyebar di seluruh pelosok di Indonesia. Ponsel-ponsel GSM yang masuk pun sangat banyak pilihannya.

Yang menarik, sejak tahun lalu, pasar teknologi bergerak di Indonesia diramaikan oleh pemain baru: operator CDMA 20001x. Sudah ada empat pemain di sini: Flexi, Esia, Fren dan Star-One. Kecuali Fren yang lisensinya adalah seluler, layanan lainnya berlisensi fix-wireless (telepon tetap nirkabel), sehingga tidak bisa dibawa-bawa ke luar kota.

Sekarang, pilihannya tergantung pada kebutuhan masing-masing. Kalau Anda sering mobile ke luar kota di seluruh wilayah Indonesia, mempertahankan nomor GSM tentu sangat tepat. Fasilitas roaming internasionalnya pun jauh lebih praktis dan mudah.

Sebaliknya, jika aktivitas Anda hanya dalam kota, memilih ponsel CDMA tentu menjadi pilihan menarik. Selain Anda bisa bertelepon dengan murah dan jernih, ponsel CDMA juga bisa diandalkan sebagai modem untuk akses Internet dengan kecepatan lumayan tinggi — lebih cepat dibanding GSM/GPRS.

Nah, bagaimana jika aktivitas Anda di dalam dan luar kota dengan frekuensi yang relatif sama? Mengorbankan nomor GSM tentu tidak mungkin — apalagi nomor tersebut sudah tersebar ke banyak teman dan kenalan bisnis — sementara nomor CDMA juga Anda perlukan.

Jangan khawatir, Anda masih punya pilihan ketiga: Golput. Anda bisa mencoblos eh, memilih kedua-duanya. Apalagi sekarang, memiliki dua atau tiga ponsel sekaligus sudah menjadi hal yang biasa.

Namun, satu hal yang cukup jelas: mengingat GSM lebih awal masuk ke Indonesia, wajar bila penggunanya jauh lebih banyak. Layanan CDMA harus rela menjadi yang kedua, bahkan ketiga. (KT 101004)

3 Responses to “Pilih GSM, CDMA atau Golput?”

  1. AFLI Says:

    sekarang ini CDMA adalah jenis pelayanan yang saya pilih. karna saya saat ini berkuliah di medan. namun seringkali terbersit di pikiran saya gimana kalau seandainya saya pulang kampung.saya tidak tahu apakah di Aceh sudah ada kartu yang bisa digunakan untuk CDMA.karena akan jadi penghalang besar natinya kalau setiap kali pulang kampung saya harus ganti HP.mohon tanggapannya.

  2. Gadis A Says:

    saya golput alias pake 2-2ny..bukan alesan banyak duit tp utk d bdg sy pke cdma buat komunikasi dgn tmn2 sy..mumpung msh ad promosi gila2an dr slh 1 operator cdma.cuma selama saya balik liburan ke bgr, alhasil hp cdma saya tinggal dibandung n ga kepake.sayang jg c..mslhnya inject..hehe..tapi ga ada ruginya kok pake cdma.

  3. thegadget Says:

    # AFLI: Tinggal dipastikan aja apakah di kampung Anda sudah ada jaringan CDMA atau belum. Tapi, setahu saya, operator CDMA saat ini sedang gencar-gencarnya memperluas jarinan.

    #Gadis A: Ide yang bagus. Emang gak ada ruginya pake CDMA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: