Bisakah Kita Hidup tanpa Windows?

25, August, 2005

MULAI 3 Agustus 2005, versi beta Windows Vista–yang sebelumnya dikenal dengan nama kode Longhorn–akan dibagi-bagikan perusahaan pembuat peranti lunak, Microsoft Corp, kepada sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah fokus grup dari berbagai belahan dunia.

Mereka akan diminta menguji coba dan mengoprek-oprek peranti lunak sistem operasi teranyar yang sudah lama ditunggu-tunggu itu. Umpan balik dari mereka sangat penting dan akan mempengaruhi Microsoft dalam menetapkan kapan versi beta berikutnya dirilis. Ini juga akan mempengaruhi perusahaan yang bermarkas di Redmond itu dalam menetapkan kapan Windows Vista akan dirilis secara luas dan komersial.

Microsoft menjanjikan fitur-fitur unggulan dalam sistem operasi ini. Beberapa di antaranya adalah keandalan kemampuan grafis, mesin pencari, sistem pengorganisasian informasi, dukungan terjadi jaringan komputer, jaminan keamanan yang tinggi, hingga dukungan terhadap protokol baru Internet, IPv6.

Di luar reaksi yang beragam terhadap penggunaan nama Vista–karena ini memang sebuah nama yang sudah sangat “pasaran” sebelumnya–sistem operasi teranyar ini memang layak dinantikan kehadirannya. Pasalnya, apa pun yang akan ditawarkan Windows, orang pasti akan tetap membeli karena sistem ini adalah penguasa lebih 90 persen sistem operasi di dunia.

Sistem operasi adalah nyawa bagi komputer. Tanpa peranti lunak ini, komputer hanyalah seonggok perangkat keras bodoh yang tak bisa apa-apa. Sistem operasilah yang menjadi sumber energi yang menggerakkan komputer dan menjadi pintu gerbang utama bagi peranti lunak aplikasi lain untuk dapat beroperasi di lingkungan Windows.

Di sinilah kejeniusan Bill Gates, pendiri Microsoft. Ia tahu persis: ketergantungan komputer terhadap sistem operasi akan semakin tinggi dari waktu ke waktu dan bukan sebaliknya. Inilah yang melatarinya dalam memfokuskan bisnis peranti lunak di sistem operasi.

Dari situlah bagaimana Microsoft bermula menjadi bagian dalam sejarah kontemporer komputer pribadi alias PC. Ambisinya adalah “setiap komputer di setiap rumah dengan Windows yang menjadi jendelanya”.

Sistem operasi Windows menemukan momentumnya ketika teknologi antarmuka (GUI) komputer semakin maju. Mereka merilis Windows 3.1, Windows 95, Windows ME, Windows 2000, dan Windows XP–termasuk di dalamnya versi-versi untuk server.

Tanpa disadari, para pengguna komputer pribadi sudah semakin familiar dengan Windows. Pertumbuhan jumlah pengguna Windows melesat dengan cepat. Hampir semua orang terbiasa dengan cara berpikir dan hierarki Windows–sebuah kebiasaan yang sukar dilepaskan pengaruhnya. Sampai kini. –Koran Tempo, 31/7/2005

One Response to “Bisakah Kita Hidup tanpa Windows?”

  1. erik setiawan Says:

    Apakah benar bahwa Windows telah menguasai 90% lebih sistem operasi di dunia? padahal setahu saya di Eropa Open Source lebih tren dan jarang sekali yang harus membeli lisensi dari microsoft..
    Menurut saya windows merupakan OS yang mudah tetapi selalu membutuhkan perangkat keras yang mahal dan berkualitas tinggi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: