Musik dengan Rumah Barunya

25, August, 2005

PERANGKAT teknologi bergerak di masa depan akan menjadi kotak ajaib yang senantiasa bersenandung.

Logikanya sederhana: setiap orang pasti suka musik– terlepas dari jenis dan genre musiknya.

Ketika hampir setiap orang memiliki perangkat genggam macam telepon seluler, mengapa mereka tidak difasilitasi untuk menikmati musik sambil berjalan dengan nyaman?

Sukses pemutar musik portabel di setiap zaman membuktikan hal itu. Ketika pada 1979 Walkman buatan Sony Corporation pertama kali diluncurkan, perangkat musik genggam berbasis kaset itu disambut gegap-gempita di seluruh dunia.

Lebih 15 tahun kemudian, masih dengan melenggang sendiri, Sony bermanuver lagi dengan meluncurkan Discman, Walkman yang menggunakan cakram padat alias CD.

Namun, 10 tahun kemudian, legenda Sony Walkman terhenti. Itu terjadi ketika Apple Computer merilis perangkat musik portabel baru dengan desain dan logika teknis yang revolusioner: iPod.

Dengan cepat iPod mewabah, sekaligus melahirkan generasi iPod Mini dan iPod Shuffle. Berbagai merek juga muncul mencoba menjadi pesaing iPod.

Dalam waktu singkat, Walkman jadi masa lalu. Tapi tampaknya Sony tak rela. Akhirnya mereka meluncurkan Network Walkman (NW)–yang juga muncul versi Shuffle-nya–dengan desain yang orisinal dan kemampuan baterai yang aduhai.

Namun, ada dilemanya juga: ketika setiap orang sudah punya ponsel, gadget tambahan macam iPod atau NW terkesan menjadi sesuatu yang tidak praktis.

Mengapa kemampuan tersebut tidak disulap saja ke dalam ponsel? Peluang ini langsung disambar oleh vendor dengan memperkaya fitur-fitur musik berjalannya. Bahkan perusahaan content juga mulai mengakali potensi ini.

Namun, bisa juga yang terjadi sebaliknya: iPod atau NW di masa datang akan sekaligus menjadi alat komunikasi juga: bisa digunakan sebagai telepon maupun Internet.

Apa pun nanti bentuknya, ke depan, perangkat bergerak akan menjadi primadona bagi jagat musik: dari nada dering, nada sambung, pengunduhan lagu, radio visual, dan video klip, yang semuanya akan tumpah ke situ.

CD mungkin saja segera menyusul kaset masuk museum, tapi musik akan selalu ada.

Tentu, rumahnya bukan lagi pada pita kaset atau cakram, tapi akan lebih berbentuk bit di dalam gadget. Entah itu iPod, Network Walkman, ponsel ataupun PDA.

— Koran Tempo, 12/06/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: