Bergegas Menjawab E-mail

26, August, 2005

TIGA hari yang lalu saya mengirim surat elektronik ke salah satu operator penyedia layanan e-mail gegas (push-mail). Saya hanya mau menanyakan beberapa hal mengenai layanan tersebut yang tidak dijelaskan di situsnya.

Saya mengirim e-mail tepat tengah hari, pukul 12 siang, dan ternyata saya belum mendapatkan jawabannya hingga besok harinya dan besok harinya lagi.

Saya tidak kaget karena hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang di negara-negara berkembang. Bergegas menjawab e-mail belum menjadi sesuatu yang penting dan mendesak.

Tapi masalahnya tidak sederhana jika itu dilakukan orang yang bertugas di sebuah operator yang sedang gencar-gencarnya berjualan layanan push-mail! Padahal pada hari yang sama saya juga mengirim e-mail ke sebuah vendor yang menjual peranti lunak untuk e-mail gegas.

Pada hari-hari belakangan ini, vendor tersebut memang sedang menjadi momok bagi penyelenggara layanan push-mail lain, karena software yang ditawarkannya sangat praktis dan murah.

Menariknya, vendor yang berbasis di Berlin, Jerman, ini menjawab e-mail saya hanya berselang kurang dari tiga jam. Jawabannya pun jelas dan lengkap dengan lampiran Manual Pengguna dan peranti lunak push-mail disertai dengan permohonan maaf karena telat menjawab e-mail saya.

Permohonan maaf? Telat tiga jam? Luar biasa. Saya hanya bisa tersenyum kecut ketika ingat bahwa e-mail saya untuk operator di Indonesia belum dijawab selama tiga hari!

Saya tidak tahu apakah jumlah harinya akan terus bertambah untuk hari-hari mendatang. Tapi tampaknya sebagai konsumen kita memang dituntut terus bersabar dan bersabar.

Push mail alias e-mail gegas adalah suatu layanan yang memungkinkan seorang pengguna perangkat komunikasi bergerak bisa segera menerima e-mail secara otomatis. Secepat dan semudah masuknya pesan singkat alias SMS. Tak perlu dial-up ataupun mengunduhnya, e-mail baru bisa segera masuk di ponsel penggunanya dengan ditandai bunyi nada dering.

Artinya apa? Jelas yang menjadi target layanan ini adalah orang-orang yang menganggap setiap e-mail adalah sebuah informasi berharga–sekecil apa pun nilai informasi itu.

Sebab, bagaimanapun, tidak ada orang di dunia ini yang tiap hari kerjanya hanya mengirim e-mail iseng!

Terlepas dari suka atau tidak dengan fenomenanya, bahkan pesan sampah (spam) pun, juga bernilai informasi. Misalnya promosi suatu produk atau layanan.

Jadi orang yang memiliki apresiasi tinggi terhadap informasi akan segera merespons e-mail yang ditujukan untuknya, terlepas apakah ia bisa memberi jawaban lengkap atau tidak dalam waktu singkat.

Satu hal yang sangat terang benderang: siapa pun akan merasa dihargai ketika orang yang dikirimi e-mail segera membalasnya. Orang yang cuek terhadap informasi seperti e-mail jelas bukan sasaran yang empuk bagi operator e-mail gegas.

Lalu mengapa layanan ini sangat populer di Amerika dan Eropa? Sebab, memang masyarakat di sana pada umumnya memiliki penghargaan yang tinggi terhadap informasi.

Karena itu, untuk memasarkan layanan semacam ini di negara-negara berkembang bukan perkara gampang. Selain perkara daya beli konsumen, yang tak kalah pentingnya adalah upaya edukasi terhadap masyarakat konsumen. Dan itu perlu proses dan waktu panjang.

Proses edukasi bisa bermacam-macam: selain berusaha meyakinkan konsumen bahwa setiap e-mail adalah penting, pihak yang menjual layanan ini pun harus konsisten dengan filosofi dagangannya. Misalnya dengan segera menjawab e-mail dari masyarakat yang mungkin akan menjadi konsumennya. –Koran Tempo, 10/04/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: