Gadget: Memilih Berdasarkan Selera

26, August, 2005

LEBIH bagus mana PDA atau smart-phone? Palm atau Communicator? Ponsel lipat (clam-shell) atau ponsel luncur (sliding)?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering terlontar ketika seseorang akan memutuskan membeli perangkat genggam yang bisa diandalkan.

Padahal pertanyaan itu tidak selamanya benar. Pasalnya, fungsi dan desain masing-masing perangkat bergerak tersebut relatif berbeda dan memiliki kekhasan tersendiri.

Lebih krusial lagi, soal yang ini sesungguhnya sudah memasuki wilayah selera. Alasan subyektif berperan dalam urusan begini. Pada akhirnya, orang menjatuhkan pilihannya berdasarkan preferensi selera masing-masing.

Ambil contoh pengguna komputer genggam (PDA) dan ponsel cerdas (smart-phone). Selera pengguna kedua teknologi ini jelas berbeda. Kendati kedua perangkat ini memiliki teknologi dan fungsi sama, penggemarnya tetap melihat berbeda.

Yang satu lebih mengandalkan pada kemampuan manajemen data. Satunya lagi lebih memfokuskan diri pada kecanggihan berbagai fitur, khususnya perpaduan antara manajemen data dan hiburan.

Karena itu, menurut saya, seseorang yang sejak awal sudah kepincut dengan PDA pastilah menggemari Palm ataupun iPaq. Kemampuan pena stylus dan layar sentuh menjadi ciri khas utama gadget jenis ini.

Boleh dikatakan, kelompok ini tidak akan melirik Nokia Communicator atau Motorola MPx. Sebaliknya, penggemar perangkat genggam dengan papan ketik ala komputer (QWERTY) seperti dimiliki Communicator dan MPx, tidak kepincut Palm, O2 atau iPaq. Kelompok ini akan menganggap PDA sebagai desain kaku dan ruwet.

Begitu pula dengan komunitas penggemar ponsel lipat. Dari awal mereka mengincar produk-produk terbaru dari model ini dan akan menganggap sepi desain produk lain.

Sedangkan penggemar ponsel luncur, matanya akan selalu awas dengan teknologi terbaru di portofolio ini. Komunitas ini, misalnya, tidak akan tertarik pada ponsel berdesain praktis nonlipat.

Bagi penggemar ponsel dengan desain minimalis, ponsel lipat dan luncur dirasakannya sebagai desain ribet dan tidak praktis. Mereka menganggap Communicator adalah ponsel yang terlalu kekar; atau menilai MPx sebagai desain yang nyinyir.

Jadi memang tidak mungkin berdebat soal perangkat teknologi bergerak jika alasannya sudah bertolak dari selera masing-masing. Semuanya bermula dari selera dan bermuara pada kebutuhan menggunakannya.

Ketajaman segmentasi pengguna semacam ini merupakan barometer amat berharga bagi produsen dalam merancang teknologi antarmuka produknya (user interface).

Perbedaan filosofi desain fisik di antara kedua kubu di atas memang cukup tajam, meski sejumlah perangkat bergerak teranyar mulai memadukan keduanya ke dalam satu perangkat.

Tapi tetap saja kelihatan tongkrongan aslinya: elaborasi dari PDA atau QWERTY. Semua itu bisa dibedakan dengan gampang.

Bagi konsumen, teknologi yang dapat memenuhi selera dan kebutuhannya adalah syarat mutlak dalam menentukan pilihan. Kecanggihan teknologi hanyalah salah satu dari sedikit faktor pelengkap. — Koran Tempo, 01/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: