Media Baru dan Netiquette

26, August, 2005

INTERNET adalah sebuah ranah baru yang tidak ada padanannya dengan kebiasaan kita sebelumnya.

Ketika muncul dan berkembang, yang kemudian diiringi banyaknya perubahan-perubahan yang mengejutkan, sebagian dari kita lantas berpendapat bahwa sebuah dunia baru telah datang. Sebuah media anyar telah terbentang.

Pada tingkat tertentu, pendapat semacam itu bisa diterima meski tidak sepenuhnya benar. Seperti produk teknologi lainnya, Internet hanyalah sebuah teknologi dengan pendekatan yang unik dan bukan sebuah tujuan.

Jadi nilai-nilai, tata cara, kiat, strategi, ataupun taktik yang diterapkan dalam memanfaatkan teknologi ini sebenarnya tidak langsung berubah seratus persen.

Berbisnis lewat Internet misalnya, medium yang digunakan memang sama sekali baru. Tapi teknik pemasaran, pendekatan terhadap konsumen, pengelolaan keuangan, dan promosi tetap saja dibutuhkan.

Semuanya masih seperti sedia kala, hanya lebih ringkas dan cerdas. Sebab, banyak kasus kegagalan bisnis e-commerce, misalnya, lebih disebabkan orang-orang yang menanganinya hanya dari kalangan cyber tanpa melibatkan ahli-ahli pemasaran, promosi, psikologi, dan sosiologi.

Suasana serupa sebenarnya juga berlaku saat kita melakukan komunikasi melalui e-mail, mailing-list, ataupun chatting. Meskipun saluran yang digunakan adalah sebuah media baru, proses itu sejatinya masih memerlukan aturan, etika, dan nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya.

Etika berkomunikasi alias Netiquette via Internet sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam bersosialisasi di era maya ini.

Saat kita mengirimkan e-mail, tetap saja kita memulai isi surat dengan sapaan–persis seperti kita menulis surat dan mengirimkannya lewat pos.

Jangan anggap berkomunikasi di Internet aman seratus persen. Karena itu, jangan pernah menulis e-mail mengenai sesuatu yang tidak akan Anda tulis di kartu pos!

Jika Anda meneruskan e-mail seseorang, jangan pernah mengubah isi aslinya. Juga jangan sekali-kali meneruskan e-mail dari seseorang yang tidak Anda kenal.

Kalaupun Anda ingin meneruskan e-mail seseorang ke sebuah mailing-list, pastikan dulu Anda telah meminta izin kepada yang bersangkutan.

Satu hal lagi, sekalipun Anda telah meminta izin, bila Anda merasa isi e-mail-nya mengandung informasi yang sensitif, sebaiknya tidak diteruskan.

Jika membalas e-mail, silakan kutip bagian yang relevan saja. Jangan tulis e-mail dengan huruf kapital seluruhnya karena penerimanya akan menyangka Anda sedang berteriak-teriak atau marah.

Sesungguhnya, Netiquette bukanlah sebuah aturan, hanya sebuah rekomendasi yang dapat membantu komunikasi Anda menjadi lebih aman, nyaman, dan mencerahkan. –Koran Tempo, 15/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: