Menelepon Surga dengan Ponsel

26, August, 2005

“Hari gini harga handphone tujuh jutaan? HP saya cuma Rp300 ribu udah bisa nelpon ke India segala. Apa HP juta-jutaan itu bisa nelpon ke surga?”

Celutukan rekan yang sudah senior itu memang membuat saya tergelak. Lucu dan orisinil.

Boleh jadi pendapat semacam itu terlontar karena ia sedang bercanda atau sebaliknya: rendahnya apresiasi terhadap teknologi. Beginilah pandangan seseorang dari generasi yang berbeda mengenai teknologi: sangat “memilukan”.

Ia benar: kalau cuma buat menelepon buat apa beli telepon seluler mahal-mahal? Toh menggunakan telepon rumah juga bisa, dan tarif pulsanya juga lebih murah.

Tapi kalau di ponsel orang juga bisa melakukan banyak aktifitas, tentu ceritanya jadi lain. Komunikasi suara hanya salah satu dari puluhan fungsi yang bisa dilakukan pada sebuah ponsel pada saat jalan alias tidak di kantor.

Sebut saja membaca dan mengirim surat elektronik (e-mail), mengakses Internet untuk menyimak berita CNN.com atau mencari bahan penelitian lewat Google, mengunduh (download) materi presentasi PowerPoint dan white paper dalam format Word.

Selain itu, pengguna ponsel juga bisa membaca buku elektronik (e-book), membuka dokumen PDF, memantau pergerakan saham, menyimpan, memutar file musik, merekam, memutar dan bahkan menyunting video.

Bisa melakukan semua itu pada sebuah perangkat genggam seperti ponsel pada saat mobile jelas merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Pekerjaan kantor, kuliah, penelitian atau pun urusan bisnis tetap bisa dilakukan pada saat kita berada di mal, duduk di mobil atau sedang menunggu penerbangan di bandara.

Pada awalnya memilih ponsel memang sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi konsumen. Makanya untuk segmen umum vendor-vendor merilis ponsel-ponsel murah meriah (entry level). Segmen ini hanya membutuhkan ponsel buat menelepon dan mengirim SMS.

Segmen menengah juga punya sederet pilihan. Umumnya fitur-fitur ponsel di segmen ini mulai memperkenalkan beberapa opsi yang agak canggih yang sekaligus mengedukasi pengguna yang suatu saat akan “naik kelas” ke segmen yang lebih tinggi.

Di kelas yang paling tinggi (high-end), fitur yang digdaya (powerful), serba ada dan serba bisa menjadi andalan. Tentunya harganya lebih mahal karena memang targetnya adalah kalangan bisnis dan profesional di mana “uang bukan masalah”.

Masalahnya, untuk segmen kelas atas, tentu bukan sekadar uang. Yang menjadi alasan dalam menentukan pilihan adalah adalah kebutuhan dan cita-rasa. Bahkan bagi komunitas ini, ponsel juga dijadikan salah satu pernik dalam bergaya.

Itulah sebabnya mengapa setiap ponsel dibuat berbeda. Ponsel yang dibuat berdasarkan perbedaan segmen. Ponsel high-end misalnya memang tidak dimaksudkan untuk dibeli oleh kalangan umum yang memiliki kemampuan ekonomi rendah dan tidak memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap teknologi mobile.

Bahkan, ponsel high end sendiri pun juga dibuat berbeda. Ada yang punya bluetooth, kamera, tapi juga ada yang tidak; Ada yang menggunakan layar sentuh, ada pula yang tidak; Ada yang menggunakan keypad QWERTY; Ada yang bisa koneksi Wi-Fi dan ada yang tidak.

Seorang rekan pernah bertanya dalam sebuah jumpa pers peluncuran produk Nokia: “Kenapa fitur Nokia 9300 tidak dibikin sama saja dengan Nokia Communicator 9500 yang punya kamera dan bisa Wi-Fi?”

Jawaban Kendro Hendra, salah seorang mitra Nokia, sangat mengena: “Tidak mungkin semua ponsel sama. Semua tergantung kebutuhan. Sama saja dengan baju yang kita kenakan. Apakah semua baju kita berlengan panjang, pakai kerah dan pakai saku? Pasti ada juga dong yang lebih suka mengenakan baju berlengan pendek atau pakai t-shirt.” –Koran Tempo, 06/02/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: