Setiap Orang Punya Banknya Sendiri

26, August, 2005

SEBUAH kabar buruk bagi pemalsu uang: sebagian besar transaksi keuangan dan perdagangan di masa datang tidak lagi mengandalkan uang fisik.

Semuanya akan berlangsung serba digital dan bergerak. Bahkan orang akan jarang sekali membawa-bawa duit, menaruhnya dalam dompet atau saku.

Sebagian besar uang kontan akan lebih sering tersimpan rapi dalam brankas bank ketimbang malang-melintang berpindah tangan.

Yang terakhir ini lebih kerap membuat lembaran-lembaran uang jadi lecek dan bahkan berperan sebagai pengantar bakteri yang lumayan efektif.

Seringnya bertransaksi menggunakan kartu kredit atau kartu debit setidaknya akan menghindari konsumen dari kemungkinan mendapatkan uang palsu dari kembalian. Jangan lupa, menurut Bank Indonesia, saat ini telah beredar setidaknya 24 ribu lembar uang palsu (Koran Tempo, 17/2).

Penggunaan kartu juga akan membuat konsumen terhindar dari kemungkinan menerima kembalian yang sering dikonversi dalam bentuk permen. Kembalian dalam bentuk permen ini memang nilainya sangat kecil, tapi cukup menjengkelkan. Sejak kapan, sih permen bisa dijadikan alat tukar?

Selain itu, tentu saja, untuk menghindari besarnya risiko kena copet atau ditodong. Jika yang dicopet adalah kartu-kartu plastik keluaran bank, tentu dampaknya jauh lebih kecil karena kita bisa segera memberi tahu pihak bank agar segera memblokirnya.

Namun, tidak hanya kartu plastik yang bisa dijadikan sebagai alat pembayaran. Ponsel yang menampilkan barcode berisi informasi rekening bank seseorang, ternyata memiliki fungsi yang sama.

Perubahan karakter konsumen, beragam jenis kebutuhan dan tuntutan akan mobilitas dan digitalisasi, membuat institusi perbankan berlomba-lomba beradaptasi.

Bahkan, daripada kepalang tanggung, mereka juga menawarkan solusi perbankan masa depan dengan pendekatan yang lebih profesional dan personal.

Pendeknya, bank di masa depan bukan lagi bank yang setiap hari diwarnai antrean panjang nasabahnya. Bukan lagi bank yang karyawannya harus selalu siaga melayani pelanggan. Juga bukan lagi bank yang setiap Sabtu dan Minggu tidak beroperasi.

Bank di masa depan adalah bank yang bekerja 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Yang melayani bukan lagi karyawan yang harus diatur shift siang dan malam. Tapi cukup dilayani dengan mesin, server, dan jaringan.

Yang justru masih tetap dinamis adalah satu-dua orang petugas yang nongkrong di sejumlah lokasi strategis dengan komputer di depannya plus perangkat-perangkat teknologi lainnya. Inilah yang disebut dengan mobile branch, kantor cabang yang bergerak.

Sebuah lokasi dinilai strategis untuk aktivitas mobile bank jika di tempat itu tersedia akses Internet nirkabel berpita lebar alias hot-spot. Bandara, mal, hotel, dan gedung perkantoran akan menjadi tempat favorit bagi aktivitas ini.

Jadi nasabah bank mana pun akan dengan mudah mengakses rekeningnya lewat gerai bank digital semacam itu. Urusan perbankan bisa tetap jalan tanpa harus datang secara fisik ke kantor bank, apalagi kantornya berada di negara yang jauh.

Jika selama ini para nasabah yang datang ke bank, ke depan, banklah yang akan mendekati nasabahnya. Artinya, kendali memang sepenuhnya di tangan nasabah.
Bukankah ini berarti setiap orang seolah punya bank sendiri yang setia setiap saat mengurusi rekening hingga memberi advis-advis investasi dan asuransi?

Di tengah gemuruh kemajuan dan kecanggihan teknologi, uang akan menjadi makhluk yang kesepian dan harus rela tidur panjang di brankas-brankas bank yang dingin dan gelap. –Koran Tempo, 20/02/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: