Telepon Tetap tidak Akan Mati?

26, August, 2005

APA kabar telepon tetap? Di saat boom telepon seluler seperti yang terjadi ini, telepon kabel seolah-olah sudah ditelan waktu. Telepon rumahan dan kantoran yang lima tahun lalu suka melenggang sendiri — dan juga sering melengos saking sombongnya — kini seolah tak berkutik.

Lihat saja angka pertumbuhannya yang tak beringsut-ingsut. Pelanggannya hanya 8,5 juta atau katakanlah 9 juta sebagai angka yang optimis. Bandingkan dengan pelanggan seluler yang diperkirakan sudah hampir 30 juta orang — yang bisa dicapai hanya dalam waktu relatif singkat.

Lalu, apanya yang salah? Meski orang sudah punya ponsel, bukankah mereka masih butuh telepon tetap di rumah atau di kantornya? Mengapa segmen yang masih sangat besar ini (kini baru 9 juta berbanding 220 juta penduduk Indonesia) tidak tersentuh oleh layanan telepon tetap?

Yang jelas, penyelenggara telepon tetap ini, Telkom, sedang asyik berjualan produknya yang lain, yakni layanan komunikasi yang menggunakan teknologi CDMA 2000 1x dengan nama Flexi. Layanan telepon lokal yang bisa dibawa bergerak. Promosinya jor-joran, malah sejumlah boks telepon umum di pinggir jalan juga dicat menggunakan warna dan citra Flexi segala.

Seorang teman pernah cerita, suatu kali ia datang ke kantor Telkom meminta sambungan telepon tetap di rumahnya. Jawaban petugas di sana menarik sekali: “Wah prosesnya lama, Mas. Belum lagi ketersediaan sambungannya apakah ada atau tidak. Mending pake Flexi saja, tarifnya sama, bisa ditaruh di rumah, dan langsung kring!”

Ini betul-betul memprihatinkan. Bayangkan, uang yang sudah banyak dihabiskan membangun jaringan, menarik dan membentangkan kabel, seolah sia-sia karena layanan telepon tetap ini seolah-olah tak begitu diurus.

Konflik kepentingan semacam ini karena dua layanan komunikasi serupa dijual oleh perusahaan yang sama, tentulah akan sulit dihindari.

Padahal pangsa pasar telepon tetap masih sangat besar. Meski tentu tak akan secepat perkembangan layanan seluler, sesungguhnya layanan telepon rumahan tetaplah dibutuhkan.

Inovasi vendor dan manufaktur handset telepon tetap — dengan menyediakan produk handset tanpa kabel (cordless phone) — setidaknya bisa menambah jumlah pelanggan setia layanan ini. Menurut studi Badan Telekomunikasi Dunia, setiap peningkatan satu persen penetrasi layanan ini diyakini mampu memicu pertimbangan ekonomi sebesar tiga persen.

Cordless merupakan handset yang bisa meningkatkan fungsi sambungan telepon tetap di rumah maupun di kantor. Satu nomor telepon bisa dibagi ke beberapa cordless handset, sehingga setiap panggilan yang masuk bisa dengan cepat diteruskan kepada penerima sasarannya.

Hebatnya lagi, fungsi dan desain cordless saat ini bukan lagi sekadar pesawat telepon biasa yang gagangnya bisa dibawa-bawa di dalam ruangan rumah atau kantor. Tapi kini fungsi dan tongkrongannya sudah benar-benar mirip ponsel. Bisa kirim SMS, menyetel alarm, hingga mengirim MMS.

Harganya pun sekarang sudah mulai bersaing. Apalagi setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 18/PMK.010.2005 tentang pembebasan bea masuk cordless phone.

“Jelas, harga cordless phone akan turun. Sebagai contoh, ada yang harga per unitnya di bawah Rp500 ribu. Ini akan menjadi daya tarik bagi pelanggan telepon tetap,” ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Rahardjo Tjakraningrat dalam konferensi persnya, Jumat (18/3) lalu di Jakarta.

Selain itu cordless akan membuat pelanggan telepon tetap bisa meningkatkan aktifitas komunikasinya. Mereka tidak perlu lagi berlari-lari dari satu ruangan ke ruangan yang lain hanya karena ada telepon masuk. Artinya, akan menghemat energi dan waktu.

Operator juga akan diuntungkan. Tingkat gagal sambung akan bisa diminimalisir karena si penerima akan segera mengangkat telepon yang masuk. Telepon yang tidak diangkat, secara teknis, akan merugikan operator.

Mudah-mudahan saja inovasi vendor handset telepon tetap ini diiringi oleh keseriusan operator dalam menjual layanan telepon rumahan. “Telepon tetap tidak akan mati,” ujar Farid Manan, Country Manager PT Dian Graha Elektrika-Siemens Indonesia.

Biarlah waktu yang akan bicara. –Koran Tempo, 20/03/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: