Video Killed The Radio Star

26, August, 2005

PERASAAN campur aduk mengiringi peluncuran layanan televisi kabel bersejarah itu. Televisi khusus musik, MTV (Music TeleVision) diluncurkan pertama kali di New York City, 1981.

Namun, bukan acara peluncurannya yang dirasakan teramat dramatis. Penayangan lagu perdana berjudul Video Killed the Radio Star yang dibawakan The Buggles.

Tepat pukul 12 siang, 1 Agustus 1981, disaksikan jutaan pasang mata permisa Amerika, grup band pop rock itu tampil di layar kaca melantunkan: “Rewritten by machine and new technology, and now I understand the problems you can see… I met your children… What did you tell them? Video killed the radio star….

Untuk konteks zaman saat itu, lagu persembahan Trevor Horn, Geoff Downes, dan Hans Zimmer ini lebih dari sekadar komposisi apik dan lirik yang menukik.

Lagu itu seolah menabuh gong kecemasan yang sudah lama terngiang-ngiang: betulkah video musik, yang kemudian dilembagakan menjadi sebuah entitas bernama MTV, segera mengakhiri riwayat stasiun-stasiun radio?

Jamak diketahui, pada zaman itu radio adalah satu-satunya saluran paling mangkus bagi penyanyi dan musisi rekaman mempromosikan single dan album barunya. Para bintang radio pun bermunculan. Pada saat yang sama, mereka juga menjadi bintang dunia.

Namun, tiba-tiba keromantisan itu direnggut oleh sebuah teknologi baru bernama video. Video musik bertebaran dan bertaburan. Semuanya seolah tersedot di situ. MTV menyempurnakannya.

Tamatkah stasiun radio? Punahkah bintang-bintang radio? Masuk gudangkah pesawat-pesawat radio?

Ternyata belum, Saudara-saudara. MTV memang mendapat tempat, tapi radio tetap memiliki penggemarnya, hingga sekarang.

Lagu-lagu yang populer di tangga lagu radio-radio terkemuka di dunia tetap saja menjadi barometer kesohoran sebuah single atau album.

Bahkan ketika teknologi berikutnya, Internet, mengubah wajah dunia, radio tetap eksis. Radio Internet pun muncul dan bahkan lebih dahsyat: siapa pun bisa mendengarkan radio yang disiarkan dari belahan bumi mana pun melalui komputernya.

Bahkan ketika telepon seluler menggempur hidup kita: radio masih terselip di situ. Jika awalnya siaran radio hanya “numpang lewat” di ponsel, artinya kita hanya mendengarkan siaran radio seperti kita menikmatinya di rumah atau di atas mobil, kini ada lompatan penting: Radio Visual. Ya, kini radio punya wajah.

Radio bukan lagi sekadar perangkat untuk didengar, tapi juga untuk ditonton. Bahkan juga menjadi tempat berbelanja dan pintu masuk untuk ikut kuis dan jajak pendapat yang digelar stasiun radio.

Sebuah konsorsium dunia sedang menggarap teknologi Radio Visual yang memungkinkan penggemar radio FM bisa menyimak dan membaca judul lagu, nama dan foto penyanyi hingga jadwal konser di teks dan grafis yang ditampilkan di layar ponsel.

Bahkan pengguna juga bisa membeli nada dering penyanyi favoritnya dan langsung mengunduhnya. Interaktivitas menjadi kunci utama teknologi radio yang kaya fitur ini.

Konsep ini jelas makin memperkaya sebuah teknologi bernama radio. Dengan ide ini, radio menjadi sebuah konsep baru yang menarik. Sekaligus menjadi magnet tersendiri dalam menciptakan brand dan identitas baru bagi industri radio.

Tampaknya radio belum akan mati. Bintang-bintang radio masih akan tetap bersinar. Sebuah jawaban bagi kecemasan yang berlangsung cukup lama soal masa depan radio. Termasuk jawaban bagi lirik lagu The Buggles: What did you tell them? Video killed the radio star. –Koran Tempo, 24/04/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: