Pindah Frekuensi, Apa Lagi Ini?

12, September, 2005

SEORANG sejawat yang menjadi operator telepon CDMA (code division multiple access) pernah berujar. “Menurut survei yang kami lakukan, pengguna layanan bergerak tidak terlalu memusingkan teknologi apa yang ada di belakang handset mereka, GSM atau CDMA, yang penting nyaman digunakan,” ujarnya.

Rekan saya itu mungkin benar, meski juga tak sepenuhnya. Pasalnya, teknologi ini masuk ke Tanah Air ketika pasar GSM (global system for mobile communications) sudah sangat matang.

CDMA200-1x mulai beroperasi dua tahun lalu–yang ditandai oleh hadirnya Telkom Flexi–ketika pengguna GSM sudah mencapai lebih 20 juta orang.

Saat ini saja, ketika pengguna CDMA baru mencapai 5 juta orang lebih–Flexi (3,7 juta orang), Mobile-8 (1 juta), Esia (300 ribu), dan StarOne (123 ribu)–GSM sudah melewati angka 30 juta orang.

Pengguna GSM juga sudah terbiasa gonta-ganti ponsel, kartu, dan ke mana pun pergi, ponselnya tetap bisa digunakan.

Lain halnya dengan CDMA. Kecuali Mobile-8 yang dapat lisensi sebagai operator seluler, layanan CDMA di bawah operator berlisensi fixed-wireless hanya bisa digunakan dalam satu kode area saja.

Sementara itu, operator gencar mempromosikan produknya dengan iming-iming murah, tapi tak cukup sosialisasi tentang teknologinya sendiri sehingga penggunalah yang harus bekerja keras untuk memahami teknologi ini.

Sekarang keruwetan itu masih ditambah lagi dengan keharusan pindah frekuensi bagi Flexi dan StarOne.

Kedua layanan tersebut di Jabotabek yang beroperasi di pita frekuensi 1.900 MHz–pada rentang 1920-1980 MHz–itu sudah harus minggir karena frekuensi tersebut akan digunakan untuk layanan generasi ketiga (3G) WCDMA/UMTS.

Jelas ini sebuah kelucuan–kalau tidak dikatakan blunder. Sudah jelas tidak boleh kenapa masih saja nekat menempatinya, sehingga akhirnya harus dibayar mahal dengan pindah frekuensi?

Lalu mau pindah ke mana? Tak ada jalan lain, pilihannya hanya satu: frekuensi 800 MHz. Tapi, masalahnya, frekuensi itu sudah dinaungi oleh Mobile-8 dan Esia. Dengan pertimbangan kesamaan lisensi, Flexi dan StarOne harus bisa membujuk Esia agar mau berbagi.

Taruhlah Esia mau. Tapi ada konsekuensinya. Seluruh handset 1.900 MHz layanan Flexi dan StarOne harus diganti jadi handset 800 MHz. Nah, siapakah yang harus menanggung semua ini?

Sekalipun akhirnya tidak ikut menanggung, tetap saja proses ini membuat pengguna merasa tak nyaman. Tampaknya pengguna layanan CDMA di Indonesia memang harus ekstrasabar…. (Koran Tempo, 11/9/2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: