Ketika Balon Jadi Hotspot

23, October, 2005

ERA akses Internet di mana-mana memang sudah di depan mata. Sejak ditemukannya akses Internet berpita lebar nirkabel berbasis Wi-Fi (wireless fidelity), sentra-sentra akses alias hotspot kini sudah bertebaran di tempat-tempat publik, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Inilah teknologi dengan sinyal radio yang memancarkan koneksi Internet hingga radius seratus meter.

Jika peranti mungil ini ditempelkan pada modem dengan koneksi berpita lebar, semua komputer atau perangkat genggam di sekitarnya yang memiliki kemampuan Wi-Fi bakal bisa masuk ke Internet.

Teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b yang menggunakan spektrum 2,4 GHz mampu mentransmisikan sinyal sekuat 11 megabit per detik (Mbps). Belum lagi kehadiran dua standar baru, 802.11a dan 802.11g, yang makin mengundang decak kagum.

Teknologi 802.11a, yang menggunakan spektrum 5 GHz, memungkinkan transmisi hingga 54 Mbps. Sedangkan 802.11g, yang hanya menggunakan spektrum 2.4 GHz, mampu melakukan transfer data hingga dua kali lipat, 22 Mbps.

Sebagian besar hotspotaccess point yang berfungsi sebagai sumber akses nirkabel bagi orang yang berada di sekitarnya–terdapat di kafe, restoran, hotel, gedung perkantoran, dan bandara. Bahkan ada yang membuat hotspot sendiri di rumah.

Sebuah ide cemerlang yang baru saja dilakukan sejumlah peneliti dari Eropa berhasil membuat hotspot pada balon gas yang melayang di stratosfer dan dapat memancarkan akses hingga 1,25 gigabita per detik!

Untuk pertama kalinya, balon tanpa awak yang melayang pada ketinggian 24 ribu meter dan berisi gas helium 12 ribu meter kubik tersebut diuji sebagai wahana Internet selama beberapa jam.

Balon ini dilengkapi dengan dua sistem komunikasi: antena radio berdaya tinggi dan sebuah sistem komunikasi optik berkecepatan ekstratinggi.

Hebatnya lagi, sistem pengiriman data dari balon ini menggunakan teknologi berbasis protokol 802.11b–protokol yang tadinya hanya mampu memancarkan akses puluhan meter.
Wahana ini dikembangkan oleh Konsorsium Capanina, yang terdiri atas 14 lembaga akademik dan industri dari Uni Eropa.

Seperti yang dilaporkan New Scientist, mereka berharap, wahana ini mampu menyediakan komunikasi nirkabel di daerah bencana ataupun akses Internet murah bagi negara-negara berkembang.

Wi-Fi dari udara ini benar-benar telah menjadikan akses Internet sebagai “oksigen” bagi semua orang. (Koran Tempo, 23/10/2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: