Bisakah e-Book Mengubah Dunia?

23, February, 2006

Egadget-ebook.jpgKomputer dan jaringan pintarnya telah mengubah cara hidup dan berpikir kita. Selama kwartal terakhir abad lalu, sebuah format informasi baru telah lahir, tumbuh-berkembang, dan kini sudah hadir di depan mata. Ikon dari revolusi digital termutakhir itu adalah Internet, jaringan cerdas yang dengan cepat menggurita ke seluruh dunia.

Sesuatu yang baru, seperti biasa, tak langsung bisa diterima. Salah satu perdebatan yang kerap muncul seiring perkembangan baru itu adalah pertanyaan: seberapa jauh digitalisasi akan mengubah kehidupan manusia? Akankah semua kegiatan dan urusan bisa didigitalkan? Jadi jangan heran, untuk alasan-alasan tertentu, cukup banyak kalangan yang yakin, digitalisasi tidak akan meluas dengan cepat atau lebih banyak dari hari ini — setidaknya dalam satu dekade mendatang.

Seorang Nicholas Negroponte pun bahkan yakin bahwa buku belum akan tergantikan oleh format digitalnya untuk saat ini. Masalahnya, kata pakar multimedia dari MIT itu, media digital belum cukup tersedia di tangan para eksekutif, politisi, orangtua, dan semua kalangan yang berminat memahami kebudayaan baru yang radikal ini. Selain itu, demikian ujarnya dalam buku Being Digital (1996): “multimedia interaktif hanya memberi ruang sempit bagi imajinasi….Sedangkan tulisan mampu menimbulkan imaji-imaji dan membangkitkan metafor-metafor yang mengandung banyak arti bagi imajinasi dan pengalaman pembaca.”

Argumen tersebut tentu tidak keliru. Namun, kemunculan e-Book (electronic-book) alias buku digital tetap merupakan langkah penting untuk secara perlahan-lahan keluar dari Era Gutenberg yang sudah berlangsung sejak abad ke-15.

e-Book, pada prinsipnya hanyalah distribusi muatan buku dalam bentuk digital dan dapat dibaca lewat perangkat keras tertentu. Perangkat keras ini dapat berupa komputer, laptop, PDA, palmtop atau alat baca khusus (reader). e-Book biasanya dikemas dalam format HTML, PDF dan RTF. File-file yang telah di-download akan diimpor ke alat bacanya. Konsumen di Amerika sudah punya beberapa pilihan reader untuk membaca e-Book ini, seperti Rocket eBook, Softbook Reader, Everybook dan Microsoft Reader.

Pada umumnya, semua e-Book bisa dibaca dengan menggunakan reader khusus, tetapi yang paling menggiurkan adalah peranti genggam khusus yang betul-betul seperti sebuah buku tapi berformat elektronik! Selain itu, sederet keunggulan juga sudah menanti: kemudahan penelusuran (searchability) — suatu fasilitas yang jelas tak ada pada buku tradisional. Anotasi elektronik pada e-Book dapat dilakukan dengan pemberian warna pada teks tertentu, penanda buku (bookmark), catatan dan gambar. Huruf pada e-Book juga dapat diperbesar atau diperkecil. Selain itu juga ada kamus yang dapat memutar beberapa materi audio.

Tak dapat dihindari lagi, kemunculan e-Book mulai berhadapan dengan keberadaan p-Book (paper-book) — buku cetak yang lazim kita kenal dan gunakan selama ini. Memang harus diakui, bisnis buku cetak masih akan menguntungkan dewasa ini, dan para penerbit masih yakin bahwa orang masih membutuhkan buku cetak karena dirasakan sangat praktis untuk dibawa-bawa. Sebuah keyakinan yang — untuk sementara — mungkin masih bisa dipahami. Maka, tidaklah mengherankan, kalau hampir semua perusahaan penerbit besar di Amerika Serikat — seperti McGraw-Hill, Random House, Simon & Schuster, Harper Collins dan Time Warner — sudah meluncurkan skema besar penerbitan buku digitalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: