Pentingnya Edukasi Teknologi

25, February, 2006

ilustrasi MMS from Nokia.jpgSEORANG bapak, dengan sedikit terengah-engah, menghampiri toko telepon seluler. “Saya mau membeli ponsel,” ujarnya.

“Boleh, Pak, silakan pilih,” sahut si penjaga toko dengan ramah. “Mau merek apa, Pak? Seri apa?”

“Terserah, pokoknya yang paling mahal,” jawab si bapak sumringah. “Yang mahal pasti bagus kan?”

Pria yang menjaga toko itu mengeluarkan sebuah model ponsel. “Kartunya sudah punya, Pak?” kartunya.

“Belum. Sama kartunya sekalian.”

“Di tempat Bapak ada sinyal nggak?”

“Nggak tahu. Ya sudah, sama sinyalnya sekalian!”

Peristiwa yang diceritakan rekan saya itu boleh jadi memang nyata, atau sekadar anekdot. Tapi pesannya jelas: edukasi terhadap teknologi bukan suatu hal yang bisa ditawar-tawar lagi.

Sebuah produk teknologi tak akan mencapai targetnya jika masyarakat yang sedang disasar itu masih belum paham, padahal mereka (merasa) membutuhkannya.

Contoh paling dekat: teknologi telepon seluler. Teknologi yang satu ini sesungguhnya terbilang cepat dan berhasil melakukan penetrasi di kalangan masyarakat.

Lihat saja, dalam waktu relatif singkat, penggunaan ponsel sudah makin meluas. Ponsel tidak lagi sekadar perangkat teknologi untuk kalangan tertentu, misalnya kalangan bisnis atau profesional, tapi sudah menembus kalangan lain yang lebih luas.

Tapi seberapa besar kualitas penggunaan teknologi tersebut di kalangan masyarakat?

Adakah mereka menggunakan ponsel tak sekadar panggilan suara atau SMS? Seberapa banyak pengguna ponsel yang bisa melakukan setelan GPRS/MMS sendiri?

Kalau belum, masalah ini merupakan “pekerjaan rumah” penting bagi penyelenggara teknologi komunikasi bergerak ini, baik itu operator maupun vendor ponsel.

Pertanyaannya, seberapa intens mereka melakukan edukasi terhadap pengguna teknologi ini? Seberapa sering mereka melakukan sosialisasi tentang bagaimana memaksimalkan penggunaan ponsel bagi pedagang dan petani misalnya?

Padahal, upaya ini pastilah cukup strategis. Program edukasi ini tidak hanya berguna bagi pengguna yang sudah ada (existing user) tapi juga akan menggerakkan para calon pengguna (expecting user) untuk bergabung.

Bukankah pangsa pasar layanan seluler masih terbuka lebar? Jika saat ini pengguna layanan GSM di Indonesia sudah mencapai lebih 30 juta orang dan 5 juta pengguna layanan CDMA, tentulah angka itu masih sangat kecil dibanding jumlah penduduk negeri ini.

Pertumbuhan jumlah pengguna harus digenjot dengan berbagai strategi: tidak hanya dengan strategi pemasaran, tapi juga strategi edukasi yang komprehensif.

Artinya, operator jangan hanya sibuk perang diskon layanan dan vendor asyik menjajakan ponsel hemat, tapi juga harus menyempatkan diri mendekati masyarakat dan menunjukkan pada mereka betapa teknologi ini sangat membantu.

Bahasa yang digunakan mestinya juga bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Mestinya, masyarakat jangan hanya disuruh membeli layanan yang murah, tanpa diberi tahu apa manfaatnya bagi mereka.

Saya percaya, jika mereka diberikan kesempatan untuk sedikit belajar sehingga yakin teknologi ini berguna dan dapat mempermudah pekerjaannya, mereka tidak akan ragu-ragu membeli.

Artinya, dari segi kemampuan ekonomi, rata-rata masyarakat boleh dikatakan sudah cukup lumayan. Masih ingat enam-tujuh tahun lalu ketika Indonesia dilanda krisis, kita melihat betapa dinamika ekonomi rakyat, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan, sama sekali tak terpengaruh?

Yang penting, beri tahu dan cerdaskan mereka dulu, baru kemudian tunggu bagaimana responsnya. Mereka akan bergegas mengambil manfaat dari perangkat telekomunikasi ini.

Saya percaya tak akan ada lagi orang yang membeli ponsel dan kartu SIM, tapi juga ingin memborong sinyalnya sekalian.***(041219-ec-kt)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: