Pameran Komputer ala Melayu?

13, March, 2006

Beberapa kali berkesempatan mengunjungi pameran komputer, teknologi informasi dan sejenisnya di luar negeri, ada kesan kuat dalam benak saya betapa pengalaman digital (digital experience) selalu menjadi tema sentral.

Hampir semua booth mencoba menampilkan metode interaktif kepada para pengunjung pameran dengan inovasi-inovasi terbaru mereka.

Bagi pengunjung yang sebelumnya mungkin sama sekali tidak tertarik dengan suatu produk teknologi, persepsinya bisa jadi lain setelah mencoba, merasakan, dan mengalami pengalaman digital. Tak jarang akhirnya mereka memutuskan untuk memilikinya.

Rabu lalu saya mengunjungi Mega Komputer Bazaar di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta. Hampir semua vendor besar punya booth di sini. Pengunjung pameran hari pertama tersebut belum begitu ramai–masih kalah ramai dibanding petugas-petugasnya.

Begitu masuk, tidak mudah untuk mendapatkan buku panduan atau katalog pameran. Petugas yang hendak ditanyai pun tidak ada.

Akhirnya saya cuma jalan-jalan berkeliling. Ternyata ada pameran lain, yakni pameran produk fotografi di ruang satunya lagi. Entah mazhab interior apa yang dipakai, pada sudut tertentu, sekat dari kedua pameran ini bercampur aduk.

Di bagian kanan ruang penghubung ruang pameran fotografi dan komputer, terdapat fasilitas Free Internet Area. Ada enam unit laptop yang terdapat di situ.

Saya bermaksud mencoba akses Internet tersebut. Baru saja hendak memegang mouse, seorang petugas datang menghampiri. “Maaf, Mas, Internetnya belum di-setup….”

Jalan-jalan keliling pun dilanjutkan. Sebagian besar booth kurang mau menampilkan fasilitas-fasilitas di mana pengunjung bisa menikmati pengalaman digital.

Namun, yang terjadi, armada petugas di hampir setiap booth dengan siaga dan gigih membagi-bagikan selebaran yang berisi harga-harga produk.

Bagaimana mungkin kita bisa tertarik dengan sebuah produk kalau kita tidak tahu persis teknologinya seperti apa? Bukankah di pameran semacam ini pengunjung punya kesempatan untuk mencoba, mengalami, dan bertanya ini-itu kepada penjaga booth?

Yang terjadi justru sebaliknya: petugasnya yang lebih banyak bertanya: “Mau beli yang mana, Mas? Didiskon, lo!”

Mungkin ada baiknya tajuk pameran ini diganti dari “Mega Komputer Bazaar” menjadi “Mega Komputer Pasaar”.

“Namanya juga pameran ala orang Melayu,” ujar seorang teman yang saya temui di luar ruang pameran.

Koran Tempo, Minggu 12 Maret 2006     e-Culture

Catatan:
Versi awal (versi breaking news) dari kolom ini sudah diposting di [theGadget!] Rabu 8 Maret 2006 di bawah judul “Berkunjung ke Mega Komputer Pasaar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: