Apple MacBook Pro Dikapalkan

27, February, 2006

Egadget-MacBook.jpgMacBook Pro, komputer jinjing Apple pertama yang menggunakan prosesor Intel, mulai dikapalkan pekan ini.  Hadirnya laptop ini diharapkan analis pasar akan meningkatkan pangsa komputer pribadi Apple yang kecil di Amerika.  Dengan memakai prosesor Core Duo 2,0 gigahertz, Apple mengklaim MacBook Pro memiliki empat kali unjuk kerja laptop mereka sebelumnya, PowerBook G4 1,83 gigahertz. Harganya akan mencapai US$ 2.499.

Advertisements

Ada Komputer, Ada Hacker

25, August, 2005

ADA dua hantu yang kini paling ditakuti di dunia: teroris dan hacker. Yang pertama mengancam nyawa manusia dan berdampak secara politik, yang kedua mengancam komputer dan berdampak secara ekonomi dan bisnis.

Yang satu ditakuti oleh pemimpin negara, satunya lagi ditakuti oleh direktur perusahaan besar. Pendeknya, bagi kedua makhluk yang berkedudukan sebagai bos ini, hidup pasti akan lebih indah tanpa hantu-hantu itu.

Tapi yang namanya hantu tak pernah mau berlalu begitu saja. Dunia hantu ini juga sangat misterius. Banyak sekali mitos dialamatkan kepada mereka, tapi juga tak sedikit fakta yang membelalakkan mata.

Fakta terbaru kembali terjadi pekan lalu. Seorang pemrogram komputer asal Austria berhasil mengeksploitasi celah-celah dalam teknologi yang akan menjadi bagian dari sistem operasi Microsoft teranyar, Windows Vista.

Bukan hanya Microsoft, vendor jaringan terbesar, Cisco Systems, juga tak luput dari ancaman hacker. Para penyusup ini berhasil memanen data dan password dengan cara memanfaatkan celah pada peranti lunaknya.

Jelas bukan hal sederhana: penyusup berhasil mengusik Windows, yang menguasai 90 persen pasar sistem operasi di dunia, dan mencolek Cisco, yang menguasai pasar jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dunia.

Mengapa para hacker ini sangat doyan menyusup dan mengusik? Mengapa mereka harus lahir ke dunia ini?

Ada banyak motivasi yang melatari hacker untuk beraksi: sekadar pamer kekuatan, menguji kemampuan, menjawab keingintahuan, atau karena ketagihan.

Bahkan ada juga hacker yang niatnya membantu. Mereka misalnya membobol kode-kode tertentu dan membaginya kepada siapa saja yang membutuhkan. Alasannya, bukan orang berduit saja yang berhak terhadap informasi.

Selain itu, ada hacker yang secara profesional memang dibayar untuk mencari kelemahan suatu produk teknologi. Bahkan ada yang berasal dari orang dalam perusahaan yang kemudian menjadi target. Artinya, ada motivasi ekonomi di dalamnya.

Namun, menurut seorang pakar komputer, meski dirasakan lebih banyak menimbulkan kerugian, keberadaan hacker tidak bisa dinafikan dalam sejarah perkembangan komputer. “Di mana ada komputer, di situ ada hacker,” ujar Randall.

Malah, katanya lagi, sejatinya mereka ikut membantu membesarkan dunia komputer. “Merekalah yang membuat para insinyur teknologi tak boleh lengah, tak boleh rakus, dan harus bersedia dikoreksi kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam produknya.”

Bravo hacker!

–Koran Tempo, 7/8/2005

PC Tak Akan Pernah Mati?

25, August, 2005

“SEBUAH komputer pada setiap meja dan di setiap rumah,” begitulah impian Bill Gates ketika mendirikan Microsoft pada 1975 setelah hengkang dari Universitas Harvard.

Kurang dari 25 tahun kemudian, ia berujar lagi: “Komputer pribadi tak akan pernah mati. Memang, komputer akan berubah menjadi bentuk-bentuk tertentu. Tapi akan selalu menjadi mesin serbaguna. Kita akan sangat bergantung padanya.”

Inilah ketika komputer–yang kini sudah terjual lebih dari 1 miliar unit di dunia–mulai menjadi ubiquitous device–perangkat yang bisa ditemukan di mana-mana.

Contoh yang paling gampang adalah listrik. Anda pasti heran kalau ada gedung atau rumah yang tak pakai listrik, bukan? Ya, karena listrik adalah ubiquitous device, bukan lagi sebagai barang mewah.

Lain halnya dengan komputer. Khususnya di negara-negara berkembang, komputer masih menjadi barang mewah. Orang masih terkagum-kagum kalau melihat ada komputer canggih.

Namun, semua itu segera berubah. Penetrasi komputer, terutama di negara-negara berkembang, sudah semakin membaik. Hal itu didorong oleh kecenderungan harga komputer yang semakin menurun.

Babak terbaru dari kiprah mesin pintar ini adalah grid computing. Teknologi ini memungkinkan kumpulan sumber daya computing yang tersebar dapat digunakan bersama dan dikelola sebagai satu komputer virtual yang besar.

Salah satu motivasi di balik gagasan ini adalah untuk meminimalkan kemubaziran. Hampir setiap organisasi saat ini memiliki kapasitas “computing” yang tidak terpakai, yang tersebar di berbagai tempat.

Hasil sebuah survei menunjukkan, 40 persen dari waktu mainframe tidak digunakan, Unix (90 persen) dan PC (95 persen).

“Di kemudian hari, apabila grid sudah banyak digunakan di perusahaan-perusahaan, grid akan bergerak melampaui batas dinding enterprise,” ujar Betti Alisjahbana, Presiden Direktur IBM Indonesia, dalam sebuah perbincangan dengan penulis di Jakarta pekan lalu.

Grid dalam enterprise–yang dibincangkan dalam IBM Forum di Jakarta Kamis (11/8/2005)–akan terhubung ke grid eksternal sehingga Internet akan menjadi sumber computing virtual.

Pesannya jelas: semua orang akan dapat menikmati komputer dan Internet secara lebih leluasa. Seleluasa orang menggunakan listrik seperti sekarang. –Koran Tempo, 14/8/2005

Si Ajaib di Antara Dua Seteru

14, September, 2003

Microsoft membeli aplikasi yang memungkinkan Windows bisa dijalankan di Macintosh. Komunitas Mac uring-uringan.

LELAKI itu seolah tak percaya dengan matanya sendiri. David Zeiler sedang mengakses internet di komputer Macintosh-nya ketika berita itu muncul: perusahaan perangkat lunak (software) terkemuka, Microsoft Corp., mengumumkan telah membeli Connectix, produsen penghasil Virtual PC yang berbasis di San Mateo, California, Amerika Serikat. “Berita itu ibarat petir di siang bolong,” ujarnya.

Sebagai pengguna fanatik komputer keluaran Apple yang lazim disebut Mac itu, Zeiler khawatir pada masa depan Connectix. Virtual PC, yang memungkinkan Mac mengoperasikan aplikasi-aplikasi Windows, sudah sangat membantu pengguna Mac selama satu dasawarsa terakhir. Pembelian Connectix oleh Microsoft, pembuat sistem operasi Windows, menimbulkan teka-teki dan membuat Zeiler “benar-benar gugup”.

Zeiler tak sendirian. Hampir semua komunitas Mac bereaksi.

Mereka khawatir, setelah dibeli Microsoft, Virtual PC yang dinilai gesit itu akan dimatikan dan “pengguna Mac secara permanen akan dipaksa pindah ke Windows”. Dalam sebuah mailing list, seorang penggemar Mac sampai-sampai tak sanggup berkomentar apa-apa kecuali mengirimkan pesan, “It is bad… very bad.”

Dosen Universitas Gunadarma, I Made Wiryana, memaklumi kegusaran komunitas Mac itu. Sebab, “Microsoft sering membeli produk lain untuk dibunuh,” ujar ahli sekuriti jaringan yang kini sedang mengikuti program S-3 di Universitas Bielefeld, Jerman, ini. Menurut dia, setidaknya memang ada tiga motivasi Microsoft membeli produk lain: mematikan saingan (seperti Dbase dan Banyan Vines), membeli teknologi (Spyglas), dan meraih konsumen masa depan (WebTV).

Betulkah Connectix juga akan mengalami nasib terburuk? Sejumlah praktisi teknologi informasi tampaknya tak melihatnya begitu. Ron Okamoto, seorang bos perusahaan konsultan, justru gembira melihat Virtual PC jatuh ke tangan yang tepat. Menurut dia, dengan memasukkan aplikasi ini sebagai salah satu portofolio produknya, Microsoft menunjukkan komitmennya yang besar terhadap
platform Mac.

Namun, Tim Bajarin, seorang analis veteran, tak yakin Microsoft akan tertarik mengembangkan aplikasi-aplikasi baru untuk Mac pasca-akuisisi itu. “Microsoft hanya akan memikirkan Windows-nya,” ujar Presiden Creative Strategies ini, “Boleh jadi ini bagian dari upaya Microsoft untuk memonopoli sistem operasi.”

Memang bukan rahasia lagi bahwa Microsoft, yang berbasis di Seattle, dan Apple, yang berada di Cupertino, California, sudah lama menjadi seteru bebuyutan dalam merebut pasar sistem operasi (lihat 20 Tahun Perseteruan). Akibatnya, produsen dan konsumen dibuat repot. Setiap merilis produk, produsen harus membuat setidaknya dua versi: Windows dan Mac. Konsumen pun, ketika membeli software, harus menyesuaikan pilihannya dengan jenis sistem operasi yang dimilikinya.

Namun, sejak 1988, pengguna Mac sebenarnya sudah cukup tertolong ketika aplikasi Connectix memungkinkan mereka mengoperasikan Windows di Mac-nya. Tapi, bagi Microsoft, yang sejak awal punya impian ada Windows di setiap komputer, Virtual PC tentulah sangat menggoda. Apalagi, dalam perkembangannya, aplikasi ini juga bisa menjalankan Mac dan sejumlah sistem operasi lain seperti Linux, Netware, dan OS/2. Microsoft tentu melihat prospek yang menarik.

Selain Windows, Virtual PC juga mampu mengoperasikan lebih dari satu sistem operasi pada satu komputer pribadi (PC). Semua versi Windows, dari versi 95, 98, ME, hingga XP, bisa dijalankan sekaligus dengan Mac, Linux, Netware, dan OS/2. Ini jauh berbeda dari sistem dual boot, yang membutuhkan proses penginstalan yang rumit dan menggunakan salah satu sistem operasi sebagai boot
manager.

Aplikasi “ajaib” itu dianggap merupakan implementasi pertama yang mampu menghadirkan memori virtual untuk PC. Connectix, menurut Made Wiryana, memang aplikasi yang sudah mature dalam menyediakan solusi ini dan “sejarahnya juga sudah cukup lama.”

Bagi pengguna yang fanatik pada sistem operasi tertentu, atau hanya memiliki software yang cuma bisa jalan di sistem operasi tertentu pula, Virtual PC ibarat mimpi yang jadi kenyataan. “Ini tentu akan sangat praktis dan meningkatkan efisiensi,” ujar seorang pejabat Connectix.

Keandalan teknologi Virtual PC terutama terletak pada kemampuannya dalam proses integrasi lintas-platform (cross-platform integration), migrasi aplikasi sebelumnya (legacy application migration), dan konsolidasi server. Virtual PC untuk Windows, misalnya, memungkinkan pengguna menciptakan sejumlah mesin maya (virtual machine) terpisah di desktop Windows yang berfungsi sebagai host. Masing-masing mesin virtual akan menampilkan sistem hardware komplet–dari prosesor hingga card jaringan–dalam format tersendiri dan di lingkungan software yang terpisah. Paket ini bisa menjalankan XP, 2000, NT, 98, 95, 3.1, bahkan DOS, OS/2, Netware, atau Linux pada saat bersamaan tanpa perlu reboot (menghidupkan komputer kembali) untuk mengaktifkan masing- masing sistem operasi itu.

Paket Virtual PC untuk Mac mampu menghadirkan PC kompatibel yang memungkinkan Mac menjalankan aplikasi Windows, mengakses jaringan PC, menggunakan aplikasi internet khusus Windows, dan berbagi file dengan rekan- rekan pengguna PC. Aplikasi ini menghadirkan kompatibilitas PC Pentium melalui fasilitas maya yang disebut emulator. “Tak ubahnya seperti menaruh sebuah PC yang powerful ke dalam komputer Mac Anda,” ujar Roy K. McDonald, CEO Connectix. Untuk ini, spesifikasi komputer yang dibutuhkan adalah Pentium 3 atau 4, Windows 2000 atau XP, memori 512 RAM, dan free disc space 3 GB.

Paket lainnya adalah Connectix Virtual Server, yang lebih merupakan solusi bagi kalangan bisnis dalam melakukan konsolidasi server dan manajemen efisiensi terhadap lingkungan dengan sistem operasi beragam (multi-operating system). Virtual Server ini mampu menjalankan sejumlah sistem operasi dalam sebuah server.

Bagi perusahaan korporat, aplikasi buatan Connectix tentu sangat membantu. “Dengan Virtual PC, kami terhindar dari rencana membeli 300 mesin, menyebarkan 700 unit lagi, dan mampu menghemat hampir US$ 1 juta untuk pos hardware dan operasi,” ujar Lenny Goodman, Direktur Desktop Management Baptist Memorial Health Care Corporation.

Dilihat dari kenyataan itu, kekhawatiran bahwa Microsoft akan “membunuh” Connectix agaknya berlebihan. Apalagi Virtual PC tak mematikan sistem operasi yang ada, tapi malah akan tetap mengakomodasinya. “Memang, terlalu dini untuk panik soal akuisisi ini,” kata Zeiler, pengguna fanatik Mac itu, kemudian.

Untuk sementara, boleh dibilang Windows masih menang dalam pertarungannya melawan Macintosh.

Budi Putra

TEMPO Edisi 030316-002/Hal. 60      Rubrik Teknologi Informasi