Penemu domba kloning Dolly kini berkarya di pusat riset Singapura. Negeri jiran itu ingin menjadi pusat sains dunia.

DOLLY telah tiada. Tepat di hari kasih sayang, domba pertama yang diciptakan dengan teknik kloning itu disuntik mati. Penyakit paru-parunya yang tak tersembuhkan yang ia derita karena proses penuaan dini menyebabkan para ilmuwan di Roslin Institute di Edinburgh, Skotlandia, harus mengambil jalan yang menyedihkan ini.

Selama hampir tujuh tahun usianya, Dolly dengan mukanya yang lucu itu kerap menghiasi pelbagai penerbitan. Meski sudah mati pun, domba ini akan tetap dikenang. Kelahirannya dianggap sebagai puncak keberhasilan manusia dalam menyempurnakan teknik kloning dan kematiannya berpengaruh besar pada kemungkinan penggunaan cara ini untuk manusia–suatu hal yang kini seperti diperlombakan di antara ilmuwan.

Di pihak lain, tak banyak orang yang membicarakan koki si Dolly. Padahal dari tangan dingin tim ilmuwan Inggris itulah kloning sebuah sel hewan dewasa terbukti bisa menghasilkan bayi hewan.
Di mana Dr. Ian Wilmut, Dr. Keith Campbell, dan Dr. Alan Colman? Masihkah mereka meneruskan penelitian di Skotlandia? Hanya sedikit yang tahu bahwa Alan Colman kini sudah tak berkarya lagi  di negaranya. Maret tahun lalu, ia hijrah ke negara tetangga kita, Singapura. Ia menerima tawaran memimpin sebuah lembaga riset bioteknologi, ES Cell International, di Negeri Singa itu.

Kepindahan direktur eksekutif pusat riset PPL Therapeutics (mitra kerja Roslin Institute saat melahirkan Dolly) itu sempat mengagetkan kalangan ilmuwan Eropa. Lelaki berusia 53 tahun yang rambutnya sering awut-awutan inilah yang bersama mitranya, Ron James, mendirikan lembaga bioteknologi itu pada 1987, yang kemudian sangat dikenal di dunia sains. “Kepergian Colman memunculkan pertanyaan besar menyangkut masa depan bioteknologi Inggris,” ujar Pat Hagan di The-scientist.com.

Masalah uang? Ya, tapi yang paling utama, pria bertubuh jangkung itu pergi justru karena ia setia pada ilmunya. Sudah lama Colman kecewa pada regulasi Inggris yang dianggapnya kaku dalam mendorong riset dan pengembangan sel induk embrio manusia. Amerika Serikat, negara yang mengagung-agungkan sains, sama saja: melarang pengembangan teknik tersebut. Selain itu, “Sangat butuh waktu di Inggris dan AS untuk mencari dana baru buat memulai riset bioteknologi,” ujar doktor lulusan Laboratory of Molecular Biology di Cambridge tahun 1974 ini.

Dengan pindahnya Colman, pada tahun-tahun mendatang tak usah heran bila kabar tentang kemajuan teknik kloning akan bersumber dari Singapura. Negara pulau ini rupanya tak puas hanya dijadikan pusat bisnis, tapi juga ingin menjadi pusat sains. Menempati salah satu titik di kawasan Science Park II, The Gemini, Science Park Road, Singapura, pusat riset ES Cell International (ESI) I memang mampu menarik perhatian dunia sains. Dengan skema kerja sama joint venture antara Economic Development Board Singapura dan investor swasta Australia serta dukungan teknis dari Monash University, perusahaan ini didirikan dengan investasi US$ 10 juta dua tahun lalu. Dari pusat riset yang memperkerjakan 40 orang ilmuwan itu–delapan di antaranya orang Singapura –diharapkan muncul teknik untuk meningkatkan efisiensi produksi sel induk.

Titik perhatian ESI difokuskan pada pengembangan sel induk embrio manusia. Lahan ini merupakan terobosan medis paling mutakhir dan menarik minat banyak peneliti untuk bergabung. Menurut Colman, sel induk embrio manusia pertama dibuat di Singapura pada 1994 dalam sebuah kegiatan riset yang tidak dipublikasikan. “Ini sebuah track record yang bagus buat Singapura,” ujarnya.

Mengapa Singapura memilih bioteknologi? Mengapa tidak memfokuskan diri pada industri hi-tech elektronik dan kimia, dua bidang yang sudah bisa dikembangkan Singapura? “Negara ini tahu persis bahwa puncak industri elektronik sudah berakhir dan pemerintahnya melihat bidang ini sebagai investasi paling prospektif,” tulis James Randerson di Newscientistjob.com.

Gagasan ini bermula dari rekomendasi Economic Development Board yang ingin Singapura menjadi pusat riset bioteknologi di dunia. Karena itu, kebijakan dalam pengembangan masalah itu relatif longgar. Badan Penasihat Bioetika Singapura, misalnya, telah mengizinkan–dengan syarat dan pengawasan yang amat ketat–kegiatan penelitian sel induk manusia dan kloning terapeutik, tapi tetap melarang kloning reproduksi manusia.

Proses pembuatan kloning terapeutik mirip dengan kloning reproduksi seperti kasus Dolly. Bedanya, pertumbuhan dihentikan pada tahap embrio karena yang akan dimanfaatkan adalah sel induk. Sel induk adalah sel yang memiliki kemampuan membelah dalam jangka waktu tak terbatas dan membentuk 220 jenis sel penyusun tubuh manusia. Sel induk ini bisa diumpamakan sebagai pabrik suku cadang sel–di antaranya sel ginjal, sel otot jantung, sel pankreas, sel saraf, sel kulit, dan sel darah–yang bisa dicangkokkan ke organ tubuh terkait untuk mengganti jaringan yang rusak. Teknik ini diharapkan dapat mengobati pelbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, parkinson, alzheimer, stroke, kanker, dan gangguan jantung.

Dengan memiliki sel induk sesuai dengan informasi genetis tubuhnya, diharapkan seseorang memiliki sumber suku cadang tak terbatas dari sel tubuhnya. Jika ada organ yang terganggu, tinggal ditransplantasi. Bidang inilah yang menjadi perhatian khusus dan obsesi Colman cukup lama. “Singapura memiliki garis kebijakan yang liberal dalam hal pengembangan sel induk manusia,” ujarnya.

Untuk menjadikan dirinya pusat hi-tech Asia–dengan bioteknologi menjadi salah satu pilarnya–Singapura tak ragu mengeluarkan dana US$ 8,2 miliar untuk jangka 15 tahun. Menurut Asia Today International, anggaran sebesar itu merupakan taruhan besar bagi Singapura dalam mewujudkan impiannya. Proyek itu meliputi pembangunan proyek Biopolis, Teknopolis, dan Mediapolis. Lahan seluas 200 hektare di kawasan Science Park telah disediakan “untuk pengembangan lingkungan futuristis,” ujar Ko Kheng Hwa, Managing Director EDB.

Sebagai pilar keempat setelah elektronika, kimia, dan rekayasa, bioteknologi sudah diguyur dana US$ 1,6 miliar. Biopolis, sebuah pusat riset tercanggih di bidang ini, sudah akan beroperasi pada tahun ini dan pembangunannya akan rampung pada 2006. Sejumlah lembaga, seperti Institute of Molecular and Cell Biology, Bioinformatics Institute, Bioprocessing Technology Centre, Institute of Bioengineering, dan Genome Institute of Singapore, juga sudah dibentuk. Industri farmasi terkemuka seperti GlaxoSmithKline dan Merck Sharp & Dohme telah menyatakan akan bergabung dan bekerja sama dengan pusat riset kanker yang disebut Singapore Tissue Network.

Ko Kheng sendiri mengharapkan Biopolis akan menjadi tempat berkarya bagi 2.000 orang ilmuwan. Mendapatkan sekian banyak ilmuwan dari negeri yang populasinya hanya 4 juta orang itu bukan hal yang mudah. Tapi, dengan uang, hal itu bisa diatasi. Beberapa ilmuwan dunia sudah bisa dibajak ke sana.

Bagaimanapun, mimpi berbiaya miliaran dolar ini mendatangkan kritik. Seorang analis di DBS Vickers Securities mengatakan bahwa gagasan yang terkesan sekadar untuk diversifikasi dari bidang elektronika yang dominan selama ini harus dicermati.

Masalahnya, “Bioteknologi adalah sebuah industri ventura berisiko tinggi dan akan membuat investasi jadi tidak menentu,” ujar Eddie Lee seperti dikutip Feer.com. Hambatan lainnya adalah masih belum matangnya industri modal ventura di kawasan tersebut. “Kelemahannya terutama pada uji tuntas yang tidak memadai. Dan ini akan berpotensi menjadi problem yang serius,” ujar Foo Fatt Kah, Direktur Ekuitas SG Securities.

Tapi modal sudah dikucurkan dan pembangunan proyek pun sudah dijalankan. Tekad pemerintah Singapura tak terbendung.

Budi Putra

TEMPO Edisi 020303-052/Hal. 60      Rubrik Ilmu & Teknologi

Advertisements

Cerita tentang penemuan struktur asam pembawa sifat genetis 50 tahun lalu. Ibarat pisau bermata dua, genetika maju pesat sekaligus mencemaskan.

“KITA sudah menemukan rahasia kehidupan.” Kalimat itulah yang menandai ditemukannya struktur DNA (deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat), yang memungkinkan para ahli mengetahui bagaimana sifat makhluk hidup diturunkan. Penemuan untuk menguak misteri kehidupan itu bukan terjadi di sebuah laboratorium, melainkan di pojokan sebuah kafé di tengah Kota Cambridge, Inggris. Saat itu, di sebuah meja di pinggir jendela Kafé Eagle, Francis Crick sibuk membuat banyak coretan sketsa asam amino –pembentuk protein– bersama koleganya, James Watson, yang sama-sama bekerja di Universitas Cambridge, untuk meneliti susunan asam itu. Struktur DNA mereka dapatkan setelah berjam-jam membuat sketsa. Kalender ketika itu menunjuk tanggal 28 Februari 1953.

Penemuan duet ilmuwan keturunan Inggris itu sudah bertahun-tahun berlalu. Inilah gol dari rangkaian riset tentang penurunan sifat yang telah dipelajari ratusan tahun sebelumnya, dan hingga kini manusia telah memperoleh banyak manfaat dari hasil coretan di Kafé Eagle itu. Masalahnya, benarkah mereka yang menemukan struktur DNA. Soal itu masih jadi perdebatan di saat para peneliti merayakan 50 tahun penemuan tersebut akhir bulan lalu.

Sebenarnya, ketika duet Crick-Watson menemukan rahasia kehidupan itu, para ilmuwan hayati sudah memahami cara kerja hereditas, sel, enzim, protein, DNA–bagian-bagian terpenting dari ilmu genetika. George Mendel, misalnya, dengan percobaan penyilangan kacang polong berhasil menemukan prinsip pewarisan sifat (hereditas) di abad ke-18–suatu hal yang masih diajarkan di sekolah menengah hingga hari ini. Istilah sel dan gen juga sudah ditulis Mendel sebagai “sesuatu yang menentukan sifat”–tanpa bisa menjelaskannya lebih detail.

Di tahun 1944, Oswald Avery mulai mengenalkan istilah DNA sebagai pembawa sifat, dan bukan protein. Susunannya juga sudah terpetakan, yakni terdiri dari air, fosfat, gula, dan empat macam basis yang diberi nama adenin, timin, guanin, dan sitosin. Itulah inti penyusun gen itu. Sayangnya, ia berhenti sampai peristilahan saja karena tak berhasil menyelidiki mekanismenya. Sedangkan skema penyandian asam itu sudah pernah dikerjakan oleh George Gamow, fisikawan pencetus Teori Big Bang, mirip dengan skema yang dikembangkan dua ilmuwan di atas.

Yang belum terjawab adalah seperti apa struktur si pembawa sifat, untuk memahami cara kerjanya. Ilmuwan yang dianggap pertama kali menemukan struktur awalnya, menurut situs BBC, adalah Rosalind Elsie Franklin, doktor wanita yang saat itu juga sedang melakukan penelitian di Cambridge. Dengan mempelajari hasil pemotretan sinar-X terhadap DNA, Franklin menyimpulkan bentuknya kira-kira seperti helix–bentuk rantai anak tangga–dan berganda. Nyatanya, duet peneliti Watson-Crick dan seorang peneliti lain, Maurice Wilkins, yang diakui sebagai penemu struktur DNA dan karena itu berhak menerima hadiah Nobel di tahun 1962. Penyebabnya adalah mereka yang pertama kali mempublikasi dan mengklaim struktur double helix sebagai temuan mereka, seperti yang mereka kemukakan di majalah Nature Edisi 2 April 1953.

Perdebatan tentang siapa penemu pertama struktur DNA agaknya akan terus jadi misteri karena para penelitinya sendiri sudah lama tiada. Yang tidak lagi jadi misteri adalah pentingnya struktur DNA yang mirip ular tangga itu. Jawaban paling penting yang mereka dapatkan, dengan struktur demikian, ia bisa bereplikasi dan bersintesis. Di dalam struktur rantai anak tangga berganda, setiap basis yang terdiri dari empat untaian itu saling berpasangan. Maka, mereka bisa digandakan. Prinsip penggandaan ini sederhana saja, kedua untaian itu bisa saling menjauh dan segera membentuk struktur DNA baru. Adenin berpasangan dengan timin, dan guanin dengan sitosin. Begitu seterusnya. Ketika seorang bayi dikandung, otomatis ia mewarisi
sifat-sifat bapak dan ibunya, yang berasal dari gen di sel telur dan sperma.

Inilah penguakan rahasia hidup, seperti yang dibisikkan oleh Watson. Rahasia hidup makin terkuak dengan berbagai penemuan lainnya, seperti penemuan struktur asam ribonukleat (RNA) yang berfungsi sebagai pembawa pesan genetis dari DNA ke pabrik protein. Delapan tahun setelah tulisan di Nature, Marshall Nirenberg menemukan kode genetis. Yang terakhir, penemuan cara kerja ribosom dalam sel melengkapi pemahaman tentang protein. Bermula dari penemuan di Kafé Eagle itu, para ilmuwan kini bisa memahami bagaimana satu sifat genetis mendominasi yang lain, dan membuat sifat-sifat unggul tetap bertahan.

Apakah pemahaman ini sudah diketahui oleh duet penemu tersebut? Dalam bukunya yang terkenal, The Double Helix, dengan terus terang Watson mengakui bahwa ia tidak terlalu tahu banyak apa saja dampak dari penemuannya itu.

Jawaban justru datang dari berbagai pusat riset, terutama dari kalangan pengusaha. Penemuan itu rupanya bisa dipakai untuk menghasilkan uang jutaan dolar, mulai dari pemakaian DNA pada kedokteran forensik, deteksi mikroba penyebab berbagai penyakit, tes paternalitas untuk mengetahui asal-usul keturunan, sampai dua hal yang paling kontroversial, yakni menciptakan tanaman transgenik dan menggandakan (kloning) makhluk hidup, termasuk manusia.

Ini bukan mimpi. Sudah ada domba hasil kloning atau pelbagai tanaman transgenik. Memang belum sempurna, karena domba Dolly harus dimatikan lantaran berbagai penyakit kelainan gen. Protes terhadap percobaan ini merebak. Manusia telah mempermainkan kehidupan dan melampaui Tuhan, begitu kata para pemrotes. Tapi kloning manusia, kata beberapa ilmuwan, tak akan berhenti karena
satu kegagalan saja. Seperti yang diduga oleh Abdi Dharma, pakar bioteknologi dari Universitas Andalas, Padang, teknologi hayati hampir tak bisa dicegah, “Pengembangannya tinggal menunggu waktu,” katanya.

I G.G. Maha Adi, Budi Putra

TEMPO Edisi 030316-002/Hal. 109     Rubrik Ilmu & Teknologi