Hacker atau penyusup yang selama ini “menghantui” situs web Partai Golkar akhirnya dicokok polisi.

Iqra Syafaat digelandang oleh Unit Cybercrime Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia saat berada di sebuah warung Internet di Batam, Kepulauan Riau. Pria berusia 27 tahun itu terlacak oleh polisi dari penelusuran alamat server melalui Internet Service Provider.

Iqra menjebol situs Golkar pada 9-13 Juli lalu. Ia melakukan deface dengan mengganti tampilan foto penjabat Golkar di situs itu dengan wajah gorila. Ia juga sempat memajang foto seronok dan mengganti semboyan partai dengan tulisan “Bersatu untuk Malu”. Akibat ulahnya, situs web “beringin rimbun” itu sempat dibekukan hingga beberapa hari.

Kontan saja penangkapan Iqra disambut girang Ketua DPP Partai Golkar Muladi. Ia menyatakan penghargaannya terhadap keberhasilan polisi itu. “Karena Golkar betul-betul merasa terganggu dan dilecehkan,” katanya, Senin lalu. Muladi bahkan menduga adanya motif politik di balik pembobolan itu.

Sesuai dengan Undang-Undang tentang Telekomunikasi dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Iqra terancam hukuman maksimal enam tahun penjara. DIMAS ADITYO

Koran Tempo, Rabu, 09 Agustus 2006

Artikel terkait:

Intel Indonesia Corporation dan beberapa perusahaan perakit PC lokal Indonesia, termasuk Arta Computer, Metrodata dan Multicom Persada International memperkenalkan PC Home Entertainment di pameran komputer Mega Bazaar hari ini di Jakarta.

PC Home Entertainment ini memungkinkan para penggunanya menikmati beragam fitur hiburan digital yang terintegrasi ke dalam satu sistem pusat dengan format PC.

Harganya bervariasi antara Rp7 sampai dengan 15 juta rupiah, tergantung dari fungsi dan kinerjanya. Spesifikasi sistemnya yang terbagi atas tiga tipe –-menggunakan prosesor-prosesor berkinerja tinggi Intel Pentium D inti-ganda atau Intel Pentium 4 dengan teknologi Hyper-Threading -– tersedia untuk memenuhi beragam kebutuhan fungsi dan tingkat finansial yang berbeda dari para konsumen Indonesia dalam menikmati hiburan digital.

Menurut Budi Wahyu Jati, Country Manager, Intel Indonesia Corporation, pihaknya optimis bahwa PC Home Entertainment ini nantinya dapat membantu pengadopsian platform rumah digital yang lebih luas di Indonesia.

Kerja sama Intel dengan para perakit PC lokal ini akan membantu berkembangnya industri komputer lokal Indonesia untuk berevolusi menuju penggabungan digital dari komputasi, komunikasi dan konsumen elektronik. “Industri PC lokal yang kuat sangatlah penting bagi perkembangan tingkat literasi TI di Indonesia,” ulasnya.

Acer Raih Posisi Ketiga

1, March, 2006

Produsen komputer Acer dinyatakan mengalahkan posisi Toshiba dengan meraih peringkat ketiga pada pasar notebook dunia di kwartal keempat 2005. Berdasarkan data  Gartner Dataquest, angka pertumbuhan tahunan notebook Acer mencapai 66,7 persen yang merupakan pertumbuhan tertinggi di antara lima vendor notebook terbesar saat ini.

Acer berhasil meraih urutan pertama di Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA) dan urutan ketiga di Asia Pasifik dengan angka pertumbuhan sebesar 117,1 persen.

Untuk pasar PC secara keseluruhan, Acer juga telah berhasil menempati urutan keempat dan menunjukkan angka pertumbuhan tahunan paling tinggi, yaitu sebesar 56,2 persen. Acer juga berada pada urutan ketiga di EMEA dan kelima di Asia Pasifik dengan angka pertumbuhan tahunan masing-masing sebesar 48,3 persen dan 62,4 persen.

Pada bulan Desember 2005, pendapatan terkonsolidasi Acer mencapai US$718,75 juta, meningkat sebesar 19 persen dari tahun sebelumnya  US$606,06 juta. Sedangkan pada bulan Januari 2006, Acer mengumumkan pendapatan terkonsolidasi sebesar US$762,89 juta, di mana adanya peningkatan tahunan sebesar 3,1% dari bulan Desember 2005.

Egadget-Vista1.jpgAkhirnya sistem operasi terbaru Microsoft, Windows Vista, akan dirilis ke pasarans pada Desember 2006. Padahal sebelumnya produsen peranti lunak terkemuka sempat berjanji akan melepas Vista ke pasaran pada semester kedua 2006. Microsoft berjanji Vista akan tampil dengan performa yang lebih cepat dan lebih baik dalam hal pencarian data seperti e-mail, musik, foto dan content video. Vista juga meningkatkan sistem sekuriti, seperti untuk kontrol orang-tua dan media player

baru.

Bergaya dengan Si Putih Piano

14, February, 2006

Egadget-presario-2800.jpgTongkrongannya memang menyita perhatian: berkulit halus, putih, segar dan langsing. Siapakah dia? Bukan wanita cantik nan bening, tetapi sesuatu yang bisa membuat seorang wanita ‘cemburu’ ketika kekasihnya mendadak punya “pasangan” baru: notebook PC Compaq Presario B2800.

Proyek pertama dari inisiatif Made in Asia for Asia (MIAFA) dan sudah diluncurkan untuk pasar Indonesia, Presario B2800 memang khusus dirancang untuk konsumen dan pasar Asia. Inilah notebook warna putih pertama Hewlett Packard yang merefleksikan gaya konsumen muda Asia saat ini yang chic dan minimalis.

Putih? Ya, boleh jadi Apple Inc merasa sedikit gusar: Notebook Macintoshnya sejak lama mengusung warna ini. BenQ juga baru saja meluncurkan notebook putihnya, JoyBook S53, dan kemudian disusul oleh Presario B2800 ini. Diperkuat dengan prosesor Pentium M dengan teknologi Intel Centrino Mobile, Presario B2800 memiliki kemampuan pemrosesan multitugas, konsumsi tenaga yang efisien dan masa aktif baterai yang lebih panjang sehingga bisa diandalkan sebagai perangkat bergerak.

Penggunaan ATI Mobility Radeon X600SE memungkinkan laptop ini menjalankan fungsi-fungsi harian sebuah komputer pribadi, seperti video online, chat, jelajah web. Screen refresh bisa dilakukan berbarengan dengan presentasi multimedia yang sarat dengan tampilan video ataupun saat menyetel DVD berdurasi panjang tanpa perlu koneksi listrik. Dengan citra putih piano, touchpad cahaya biru LED pada indikasi status sebagai peningkah warna putih, Presario B2800 adalah perangkat bergerak yang tampil beda. Desainnya yang inovatif dan inspiratif, membuat setiap orang akan melirikkan mata padanya. Tak salah, jika ada yang ‘cemburu’ karenanya.

Ada Komputer, Ada Hacker

25, August, 2005

ADA dua hantu yang kini paling ditakuti di dunia: teroris dan hacker. Yang pertama mengancam nyawa manusia dan berdampak secara politik, yang kedua mengancam komputer dan berdampak secara ekonomi dan bisnis.

Yang satu ditakuti oleh pemimpin negara, satunya lagi ditakuti oleh direktur perusahaan besar. Pendeknya, bagi kedua makhluk yang berkedudukan sebagai bos ini, hidup pasti akan lebih indah tanpa hantu-hantu itu.

Tapi yang namanya hantu tak pernah mau berlalu begitu saja. Dunia hantu ini juga sangat misterius. Banyak sekali mitos dialamatkan kepada mereka, tapi juga tak sedikit fakta yang membelalakkan mata.

Fakta terbaru kembali terjadi pekan lalu. Seorang pemrogram komputer asal Austria berhasil mengeksploitasi celah-celah dalam teknologi yang akan menjadi bagian dari sistem operasi Microsoft teranyar, Windows Vista.

Bukan hanya Microsoft, vendor jaringan terbesar, Cisco Systems, juga tak luput dari ancaman hacker. Para penyusup ini berhasil memanen data dan password dengan cara memanfaatkan celah pada peranti lunaknya.

Jelas bukan hal sederhana: penyusup berhasil mengusik Windows, yang menguasai 90 persen pasar sistem operasi di dunia, dan mencolek Cisco, yang menguasai pasar jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dunia.

Mengapa para hacker ini sangat doyan menyusup dan mengusik? Mengapa mereka harus lahir ke dunia ini?

Ada banyak motivasi yang melatari hacker untuk beraksi: sekadar pamer kekuatan, menguji kemampuan, menjawab keingintahuan, atau karena ketagihan.

Bahkan ada juga hacker yang niatnya membantu. Mereka misalnya membobol kode-kode tertentu dan membaginya kepada siapa saja yang membutuhkan. Alasannya, bukan orang berduit saja yang berhak terhadap informasi.

Selain itu, ada hacker yang secara profesional memang dibayar untuk mencari kelemahan suatu produk teknologi. Bahkan ada yang berasal dari orang dalam perusahaan yang kemudian menjadi target. Artinya, ada motivasi ekonomi di dalamnya.

Namun, menurut seorang pakar komputer, meski dirasakan lebih banyak menimbulkan kerugian, keberadaan hacker tidak bisa dinafikan dalam sejarah perkembangan komputer. “Di mana ada komputer, di situ ada hacker,” ujar Randall.

Malah, katanya lagi, sejatinya mereka ikut membantu membesarkan dunia komputer. “Merekalah yang membuat para insinyur teknologi tak boleh lengah, tak boleh rakus, dan harus bersedia dikoreksi kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam produknya.”

Bravo hacker!

–Koran Tempo, 7/8/2005

PC Tak Akan Pernah Mati?

25, August, 2005

“SEBUAH komputer pada setiap meja dan di setiap rumah,” begitulah impian Bill Gates ketika mendirikan Microsoft pada 1975 setelah hengkang dari Universitas Harvard.

Kurang dari 25 tahun kemudian, ia berujar lagi: “Komputer pribadi tak akan pernah mati. Memang, komputer akan berubah menjadi bentuk-bentuk tertentu. Tapi akan selalu menjadi mesin serbaguna. Kita akan sangat bergantung padanya.”

Inilah ketika komputer–yang kini sudah terjual lebih dari 1 miliar unit di dunia–mulai menjadi ubiquitous device–perangkat yang bisa ditemukan di mana-mana.

Contoh yang paling gampang adalah listrik. Anda pasti heran kalau ada gedung atau rumah yang tak pakai listrik, bukan? Ya, karena listrik adalah ubiquitous device, bukan lagi sebagai barang mewah.

Lain halnya dengan komputer. Khususnya di negara-negara berkembang, komputer masih menjadi barang mewah. Orang masih terkagum-kagum kalau melihat ada komputer canggih.

Namun, semua itu segera berubah. Penetrasi komputer, terutama di negara-negara berkembang, sudah semakin membaik. Hal itu didorong oleh kecenderungan harga komputer yang semakin menurun.

Babak terbaru dari kiprah mesin pintar ini adalah grid computing. Teknologi ini memungkinkan kumpulan sumber daya computing yang tersebar dapat digunakan bersama dan dikelola sebagai satu komputer virtual yang besar.

Salah satu motivasi di balik gagasan ini adalah untuk meminimalkan kemubaziran. Hampir setiap organisasi saat ini memiliki kapasitas “computing” yang tidak terpakai, yang tersebar di berbagai tempat.

Hasil sebuah survei menunjukkan, 40 persen dari waktu mainframe tidak digunakan, Unix (90 persen) dan PC (95 persen).

“Di kemudian hari, apabila grid sudah banyak digunakan di perusahaan-perusahaan, grid akan bergerak melampaui batas dinding enterprise,” ujar Betti Alisjahbana, Presiden Direktur IBM Indonesia, dalam sebuah perbincangan dengan penulis di Jakarta pekan lalu.

Grid dalam enterprise–yang dibincangkan dalam IBM Forum di Jakarta Kamis (11/8/2005)–akan terhubung ke grid eksternal sehingga Internet akan menjadi sumber computing virtual.

Pesannya jelas: semua orang akan dapat menikmati komputer dan Internet secara lebih leluasa. Seleluasa orang menggunakan listrik seperti sekarang. –Koran Tempo, 14/8/2005