Lomba Karya Tulis Telkom 2006

10, September, 2006

Bagi wartawan media cetak dan online, terbuka kesempatan mengikuti Lomba Karya Tulis Jurnalistik Telkom 2006. Karya yang akan diperlombakan sudah harus dimuat di media masing-masing pada periode 1 s.d 27 September 2006. Hadiahnya lumayan: Rp25 juta bagi Juara 1.

Informasi lengkapnya lihat di sini.

Akhirnya, 3G…

23, August, 2006

Setelah ditunggu-tunggu sekian lama, akhirnya pekan lalu PT Telkomsel mengumumkan bahwa layanan telekomunikasi generasi ketiga, alias 3G, secara resmi diluncurkan.

Selain Telkomsel, ada empat operator lainnya yang juga mengantongi lisensi 3G, tapi belum meluncurkan layanan komersialnya: Indosat, Excelcom, Cyber Access Communications, dan Natrindo Telepon Selular.
Read the rest of this entry »

telkom.gif

PT Telkom mengaku akan kehilangan pendapatan Rp250 miliar gara-gara penurunan tarif interkoneksi. Tapi Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia justru menghitung ada kelebihan pendapatan yang akan dikantongi Telkom. Ternyata soal hitung-menghitung tidak gampang ya 🙂

Jakarta — PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. memprediksi kehilangan potensi pendapatan hingga Rp 250 miliar jika tarif interkoneksi yang disepakati pekan lalu diberlakukan.

Direktur Utama PT Telkom Arwin Rasyid mengatakan kehilangan potensi pendapatan itu berasal dari penurunan tarif interkoneksi dari telepon seluler ke telepon tetap yang diusulkan Telkom ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Dalam dokumen penawaran interkoneksi ke BRTI, Telkom mengusulkan Rp 268 per menit. Namun, kesepakatan BRTI dengan operator-operator hanya Rp 152. Jadi ada selisih Rp 116.

“Selisih itu menyebabkan Telkom kehilangan potensi pendapatan Rp 150-250 miliar,” kata Arwin kepada pers kemarin.

Pada 24 Juli lalu, operator-operator dan BBRTI sepakat mengenai kenaikan beberapa tarif interkoneksi. Tarif panggilan telepon tetap ke telepon tetap tidak dinaikkan, yakni Rp 73 per menit, telepon seluler ke telepon tetap naik menjadi Rp 152 per menit, dan tarif telepon tetap ke telepon seluler turun menjadi Rp 361 per menit.

Soal surat keberatan Telkom terhadap hasil kesepakatan tarif interkoneksi pada 27 Juli lalu, Arwin menegaskan pihaknya tidak berkeberatan jika kesepakatan tarif interkoneksi tersebut diberlakukan. Namun, dia hanya berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kesepakatan tersebut melalui surat yang disampaikan ke Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi sebelum tarif itu ditetapkan. “Dalam surat itu kami juga melampirkan perhitungan interkoneksi. Tapi, kalau tarif yang telah disepakati itu tetap diberlakukan, Telkom akan menerima. Jadi bukan keberatan,” ujarnya.

Dalam suratnya kepada pemerintah pada 27 Juli lalu, Direktur Network and Solution Telkom Abdul Haris menjelaskan penurunan tarif interkoneksi panggilan lokal telepon seluler ke telepon tetap, yang semula diajukan Rp 268 per menit, menjadi Rp 152 dapat menurunkan pendapatan Telkom 16,5 persen atau Rp 194,4 miliar.

Dimintai komentar, anggota BRTI, Heru Sutadi, berpendapat keberatan Telkom terhadap hasil kesepakatan tarif interkoneksi sulit diterima. Sebab, dari penghitungan tarif interkoneksi berbasis biaya itu, hasilnya justru dapat meningkatkan pendapatan Telkom. Kenaikan pendapatan itu berasal dari kenaikan tarif panggilan telepon seluler ke telepon tetap, dari Rp 125 per menit menjadi Rp 152, dan penurunan tarif telepon tetap ke seluler, dari Rp 406 per menit menjadi Rp 361. “Dari dua instrumen itu, Telkom memperoleh kelebihan pendapatan Rp 72 per menit lalu lintas komunikasi.”

Dia menegaskan BRTI tetap berpegang pada kesepakatan yang telah ditandatangani bersama dengan operator-operator telekomunikasi, baik seluler maupun tetap, pada 24 Juli lalu. “Untuk mengubahnya, tentu harus didiskusikan kembali dengan para direktur operator telekomunikasi lain,” ujarnya. Eko Nopiansyah | Fery Firmansyah

Setidaknya dibutuhkan waktu enam jam mengendarai mobil untuk mencapai Desa Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan, dari Kota Tanjung Karang, Provinsi Lampung.

Hampir separuh perjalanan harus dilewati dengan menempuh jalan sempit, berlubang, turun-naik, dan penuh tanjakan.

Di kanan-kiri jalan, kita bisa melihat betapa desa-desa di sepanjang jalan ini adalah desa-desa tertinggal.

Sebagian besar penduduknya mengandalkan sumber mata pencarian dari pertanian padi dan sawit. Sebagiannya lagi berdagang.

Melihat betapa terpencilnya kawasan ini, sungguh tak terbayangkan kalau di sebuah sekolah menengah umum di Desa Bahuga, kita dapat menikmati akses Internet pita lebar dengan throughput hingga 700 kilobita per detik!

Meskipun belum ada jaringan Telkom di sini, kita tetap bisa berkomunikasi dengan dunia luar menggunakan telepon nirkabel. Ya, wireless world sudah sampai di desa ini!

Semua itu dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi CDMA450 plus versi layanan generasi ketiga (3G) dengan 1xEV-DO-nya.

Setelah menggelar inisiatif Wireless Reach di kawasan pedesaan di Pacitan, Jawa Timur, pada April lalu, Qualcomm kembali meluncurkan program inisiatif Wireless Reach di Way Kanan, Lampung, 21 Juli lalu.

Bekerja sama dengan Sampoerna Telekom, Axesstel Inc., IndoNet, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Qualcomm memperkenalkan teknologi nirkabel CDMA di frekuensi 450 MHz di Way Kanan, yang memberikan akses layanan berpita lebar nirkabel untuk suara dan data.

Program ini diawali dengan pembangunan laboratorium komputer yang dilengkapi oleh akses Internet di lima sekolah yang berada di Kabupaten Way Kanan, yaitu di Buay Bahuga, Negeri Besar, Negara Batin, Rebang Tangkas, dan Pakuan Ratu.

Selain itu, warung seluler juga sedang dibangun di 59 desa dan 5 sekolah menengah untuk menyediakan akses telekomunikasi yang lebih baik.

Sementara itu, di kota seperti di Jakarta, pengguna layanan bergerak saat ini baru bisa sebatas ngobrol soal 3G–baik WCDMA maupun 1xEV-DO. Tapi di sini, di desa terpencil ini, kenikmatan akses Internet berpita lebar berbasis 3G sudah bisa dinikmati dan bukan lagi sekadar wacana. Bravo!

Budi Putra

Koran Tempo, 30 Juli 2006 | e-culture

network.jpg
Operator penyelenggara telekomunikasi mendukung upaya pemerintah mengenakan denda hingga Rp 10 miliar bagi operator yang tidak melakukan interkoneksi dengan baik. Menurut Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No: 08/Per/M.KOMINF/02/2006, interkoneksi adalah keterhubungan antar jaringan telekomunikasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda.
Kayaknya jelas operator yang disasar itu siapa… 🙂

Menurut Direktur Corporate Affair PT Excelcomindo Pratama Tbk. Rudiantara, peraturan pemerintah itu lebih realistis demi mengatur persaingan yang fair di industri telekomunikasi. Sebab, sanksi denda itu dapat memberikan efek jera kepada operator yang tidak menaati peraturan interkoneksi. “Yang terpenting adalah parameter yang digunakan harus detail,” kata Rudiantara kepada Tempo kemarin.

Direktur Pemasaran PT Indosat Tbk. Wahyu Wijayadi menambahkan, dia berharap peraturan pemerintah ini bisa membuat layanan telekomunikasi berjalan baik. Sebab, ada ketegasan sanksi bagi operator yang lalai membuka koneksi dengan operator lain. “Selama ini perseroan tidak mengalami masalah dalam permohonan pembukaan interkoneksi kepada dan dari operator lain.”

Pekan lalu Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar mengaku sedang menyiapkan peraturan mengenai sanksi denda hingga Rp 10 miliar bagi operator yang tidak melaksanakan interkoneksi dengan baik. “Drafnya sudah dibahas. Mudah-mudahan akhir bulan selesai dan bisa diberlakukan,” kata dia.

Menurut Basuki, penerbitan peraturan ini karena sulitnya pemerintah mengatur operator menjalankan interkoneksi secara baik dan adil, terutama operator besar. Meski ada Undang-Undang Telekomunikasi, operator masih kurang menaati aturan-aturan tersebut akibat tiadanya sanksi tegas, terutama denda.

[G!]

smscheaper.jpg

Bagi pengguna (dan penggemar) layanan seluler prabayar, segala kerepotan membeli voucher dan melakukan isi ulang adalah hal yang biasa. Tapi kalau dianggap itu sebuah “penderitaan”, salah satu operator GSM di Indonesia, menawarkan voucher yang masa berlakunya satu tahun!

Jakarta — PT Indonesia Satellite Corporation (Indosat) Tbk. meluncurkan kartu pulsa isi ulang yang memiliki masa aktif hingga satu tahun. Kartu ini untuk produk IM3, yang diberi nama Raja Voucher.

Direktur Pemasaran PT Indosat Tbk. Wahyu Wijayadi mengatakan produk ini, selain untuk kenyamanan kepada pelanggan dengan memperpanjang masa aktif, untuk mengurangi persentase kartu yang hangus atau tidak dapat digunakan akibat pelanggan terlambat melakukan isi ulang.

“Hingga Juni lalu, kartu hangus produk Indosat mencapai 12 persen. Dan hingga akhir tahun, kami mentargetkan jumlah itu berkurang menjadi 7 persen,” kata Wahyu kepada pers kemarin.

Dia menjelaskan, di produk baru itu, pelanggan akan mendapatkan bonus lima pesan pendek (SMS) gratis kepada pelanggan Indosat setiap pekan yang bersifat akumulasi.

Tahun ini Indosat mentargetkan mampu meraih tambahan pelanggan 3-4 juta orang dengan pangsa pasar 30 persen. Hingga akhir Juni, jumlah pelanggan Indosat mencapai 14 juta orang dengan pangsa pasar 27 persen. Perinciannya, pelanggan IM3 6 juta orang, Mentari 7 juta, dan Matrix 1 juta orang. l Eko Nopiansyah

[G!]

Perkembangan teknologi telekomunikasi bergulir begitu cepatnya, mulai dari telegram, telepon hingga telepon seluler — dengan berbagai inovasinya. Lalu apa yang akan terjadi, misalnya 100 tahun mendatang? Bagaimanakah kira-kira cara manusia berkomunikasi saat itu?