Mengubah Nama Drive

28, February, 2006

Normalnya, Explorer Windows XP memperlihatkan label atau nama drive sebagai “Compact Disk”, “Removable Disk”, dan yang lainnya. Kalau bosan, ubah saja.

  • Ketik regedit di baris Run.
  • Pilih HKEY_LOCAL_MACHINE/SOFTWARE/Microsoft/Windows/CurrentVersion/Explorer.
  • Buat sebuah kunci DriveIcons.
  • Buat kunci lainnya di dalam DriveIcons dengan huruf drive yang diinginkan, misalnya K.
  • Buat kunci yang lain di dalam DefaultLabel, misalnya Jazz Drive.
  • Restart komputer.

IBM mengumumkan piranti lunak keamanan baru untuk membantu perusahaan kecil dan menengah mengatasi berbagai ancaman keamanan seperti serangan dari dalam dan mengotomatisasikan proses ketaatan terhadap peraturan (compliance).

Piranti lunak Tivoli Identity Manager Express memberikan perusahaan-perusahaan kecil, kemampuan pengelolaan identitas kelas enterprise, tetapi dengan versi yang lebih terjangkau dan dapat diinstal dan dikelola oleh orang awam sekalipun.

Perusahaan-perusahan kecil, seperti halnya perusahaan-perusahaan besar, juga rentan terhadap ancaman keamanan, apalagi mereka tidak memiliki anggaran atau staf yang memadai untuk mengelola suatu sistem pengelolaan identitas untuk mengendalikan siapa saja yang dapat mengakses informasi perusahaan.

Keseluruhan sistem keamanan mereka mungkin hanya terdiri dari berbagai piranti lunak antivirus atau firewall jaringan. Hal ini mengakibatkan “pintu belakang digital” mereka terbuka lebar bagi pekerja yang sudah dipecat atau pekerja kontrak yang tidak jujur, sehingga mereka dapat mengakses informasi keuangan atau rahasia perusahaan.

Menurut penelitian IBM, serangan dari dalam diperkirakan akan menjadi ancaman keamanan terbesar di tahun 2006 karena para kriminal tidak lagi melakukan hacking dari “pintu depan”, melainkan memanfaatkan rekening pengguna yang belum ditutup karena terjadinya perubahan bisnis seperti pemecatan seperti PHK, merger dan akuisisi.

Piranti IBM yang baru ini membantu mencegah terjadinya serangan dari dalam dengan memblokir mereka agar tidak dapat menggunakan nama pengguna dan rekening pengguna yang belum ditutup perusahaan. Menurut penelitian IBM, lebih dari 60 persen rekening pengguna terdiri dari apa yang disebut sebagai “rekening tak bertuan”.

Dengan Tivoli Identity Manager Express, perusahaan-perusahaan kecil dapat menghapus rekening-rekening tak bertuan tersebut dengan memberikan para manajer kemampuan mengendalikan siapa saja yang boleh mengakses informasi dan senantiasa memeriksa daftar rekening pengguna, apakah sesuai dengan informasi pekerja yang terkini.

Nortel mengumumkan ketersediaan solusi Converged Office dan pemanfaatan oleh konsumen secara luas untuk meningkatkan komunikasi bisnis dengan menyediakan pilihan untuk mengintegrasikan komunikasi suara dari Nortel dengan aplikasi bisnis Microsoft Office System. Aplikasi-aplikasi seperti Outlook, Word dan PowerPoint digabungkan dalam Microsoft Office Live Communication Server.

Nortel Converged Office ditujukan untuk memperlancar arus pekerjaan, menyederhanakan komunikasi, meningkatkan produktivitas dan mendorong efisiensi. Solusi ini dibangun berdasarkan kerjasama Microsoft-Nortel untuk menghadirkan komunikasi bisnis real-time yang telah diumumkan sebelumnya pada Agustus 2005.

“Menggabungkan fungsi telepon, email dan faksimili dalam sebuah computer dengan instant messaging dan application sharing merupakan hal yang penting terhadap keberhasilan kolaborasi untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Ettienne Reinecke, group CTO, Dimension Data. Dimension Data adalah penyedia solusi TI serta layanan global.

Solusi Converged Office menggabungkan sistem IP telephony Nortel dengan Microsoft Live Communication Server 2005 untuk menyediakan kemampuan komunikasi berbasis SIP melalui desktop, untuk keperluan bisnis.

Gabungan antara Office Communicator dari Microsoft sebagai voice endpoint, Live Communications Server dan Communication Server (CS) 1000 dari Nortel menawarkan fungsi telepon untuk bisnis dengan kemudahan click-to-call, aplikasi presence yang terintegrasi serta fungsi pengaturan jadwal, serta kemampuan content sharing yang memungkinkan karyawan bekerja bersama-sama, seakan-akan mereka berada dalam satu kantor.

TV + Internet di Kulkas

27, February, 2006

Egadge-smartzipel.jpgSemua barang yang di rumah tampaknya akan terhubung ke Internet. Contohnya kulkas buatan LG: GR-D267DTU, kulkas Internet pertama yang diumumkan pada Juni 2000 di Korea Selatan. Kini datang lagi kulkas serupa dari Samsung yang dinamai Smart Zipel (lihat foto). Istilah Zipel muncul pada 2001 untuk menyebutkan kulkas Internet buatan Samsung.

Berbeda dengan produk LG, kulkas Samsung terhubung dengan jaringan rumah secara nirkabel. Kulkas itu bisa mengakses televisi dan barang elektronik lain yang memiliki kompatibilitas dengannya. Memiliki layar berukuran diagonal 10,4 inci (sekitar 26 sentimeter), Smart Zipel merupakan kulkas dua pintu. Layar web pad terletak di pintu kanan. Kapasitas kulkas ini 756 liter. Samsung belum merilis spesifikasi detail dan harga produknya itu.

Apple MacBook Pro Dikapalkan

27, February, 2006

Egadget-MacBook.jpgMacBook Pro, komputer jinjing Apple pertama yang menggunakan prosesor Intel, mulai dikapalkan pekan ini.  Hadirnya laptop ini diharapkan analis pasar akan meningkatkan pangsa komputer pribadi Apple yang kecil di Amerika.  Dengan memakai prosesor Core Duo 2,0 gigahertz, Apple mengklaim MacBook Pro memiliki empat kali unjuk kerja laptop mereka sebelumnya, PowerBook G4 1,83 gigahertz. Harganya akan mencapai US$ 2.499.

Ketika BREW Ada di Ponsel

27, February, 2006

logo_brew.gifOperator seluler CDMA 20001x EV-DO Jepang, KDDI, pekan lalu mengumumkan kerja samanya dengan perusahaan televisi kabel, Tepco Cable Television Inc. Kedua perusahaan ini memperkenalkan solusi kode batang (bar code) melalui telepon seluler berkemampuan BREW untuk set top box TV.

Dengan sistem baru ini, informasi yang dibutuhkan untuk dapat menikmati siaran TV kabel bisa dibaca oleh pembaca kode batang berkemampuan Bluetooth dan kemudian didaftarkan melalui sistem pengelolaan pelanggan bernama Kanyu Kun, tanpa perlu repot-repot dengan proses otorisasi manual.

Solusi Binary Runtime Environment for Wireless (BREW) didesain untuk memenuhi kebutuhan yang beragam dan unik dari para operator nirkabel, pembuat peranti genggam, pencipta, dan pengembang. Itulah standar yang dirancang Qualcomm, dan kini pengembangannya terus dilakukan.

Sebagai hasil dari pendekatan ini, BREW memungkinkan penerbit, pengembang, operator, dan manufaktur perangkat genggam menciptakan dan menyampaikan layanan dan produk data nirkabel baru dengan minimum sumber daya dan investasi modal. “Jika Anda adalah salah satunya, Anda akan menemukan pintu masuk ke BREW, dengan hambatan yang sangat rendah. Itulah yang kini sedang terjadi. Sekarang,” tulis Qualcomm di situsnya.

Layanan dan produk BREW meliputi platform terbuka yang mendukung peranti lunak aplikasi dan sistem yang kukuh, termasuk antarmuka pengguna yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan branded peranti-peranti yang dipasarkan secara massal.

BREW memang tidak sedang bertarung dengan Java 2 Platform, Micro Edition (J2ME)–platform yang dikeluarkan Sun Microsystem yang hingga saat ini masih mendominasi handset GSM. Tapi seperti yang diungkapkan ahli BREW dari Qualcomm, Ted Nozaki, kepada penulis, sejumlah keunggulan yang dimiliki BREW jelas membuat pengembang aplikasi seluler tak bisa mengabaikannya begitu saja.

Saat ini tercatat setidaknya ada 45 operator komersial BREW, 35 manufaktur perangkat BREW komersial, dan 24 negara dengan layanan BREW. Hingga Juni 2005, pendapatan penerbit dan pengembang BREW di dunia sudah mencapai US$ 350 juta.

Di Indonesia, ketika layanan EV-DO secara komersial mulai dijalankan operator CDMA, otomatis handset berkemampuan BREW akan mulai menjangkau pengguna layanan seluler. Jadi tunggu saja.

Pentingnya Edukasi Teknologi

25, February, 2006

ilustrasi MMS from Nokia.jpgSEORANG bapak, dengan sedikit terengah-engah, menghampiri toko telepon seluler. “Saya mau membeli ponsel,” ujarnya.

“Boleh, Pak, silakan pilih,” sahut si penjaga toko dengan ramah. “Mau merek apa, Pak? Seri apa?”

“Terserah, pokoknya yang paling mahal,” jawab si bapak sumringah. “Yang mahal pasti bagus kan?”

Pria yang menjaga toko itu mengeluarkan sebuah model ponsel. “Kartunya sudah punya, Pak?” kartunya.

“Belum. Sama kartunya sekalian.”

“Di tempat Bapak ada sinyal nggak?”

“Nggak tahu. Ya sudah, sama sinyalnya sekalian!”

Peristiwa yang diceritakan rekan saya itu boleh jadi memang nyata, atau sekadar anekdot. Tapi pesannya jelas: edukasi terhadap teknologi bukan suatu hal yang bisa ditawar-tawar lagi.

Sebuah produk teknologi tak akan mencapai targetnya jika masyarakat yang sedang disasar itu masih belum paham, padahal mereka (merasa) membutuhkannya.

Contoh paling dekat: teknologi telepon seluler. Teknologi yang satu ini sesungguhnya terbilang cepat dan berhasil melakukan penetrasi di kalangan masyarakat.

Lihat saja, dalam waktu relatif singkat, penggunaan ponsel sudah makin meluas. Ponsel tidak lagi sekadar perangkat teknologi untuk kalangan tertentu, misalnya kalangan bisnis atau profesional, tapi sudah menembus kalangan lain yang lebih luas.

Tapi seberapa besar kualitas penggunaan teknologi tersebut di kalangan masyarakat?

Adakah mereka menggunakan ponsel tak sekadar panggilan suara atau SMS? Seberapa banyak pengguna ponsel yang bisa melakukan setelan GPRS/MMS sendiri?

Kalau belum, masalah ini merupakan “pekerjaan rumah” penting bagi penyelenggara teknologi komunikasi bergerak ini, baik itu operator maupun vendor ponsel.

Pertanyaannya, seberapa intens mereka melakukan edukasi terhadap pengguna teknologi ini? Seberapa sering mereka melakukan sosialisasi tentang bagaimana memaksimalkan penggunaan ponsel bagi pedagang dan petani misalnya?

Padahal, upaya ini pastilah cukup strategis. Program edukasi ini tidak hanya berguna bagi pengguna yang sudah ada (existing user) tapi juga akan menggerakkan para calon pengguna (expecting user) untuk bergabung.

Bukankah pangsa pasar layanan seluler masih terbuka lebar? Jika saat ini pengguna layanan GSM di Indonesia sudah mencapai lebih 30 juta orang dan 5 juta pengguna layanan CDMA, tentulah angka itu masih sangat kecil dibanding jumlah penduduk negeri ini.

Pertumbuhan jumlah pengguna harus digenjot dengan berbagai strategi: tidak hanya dengan strategi pemasaran, tapi juga strategi edukasi yang komprehensif.

Artinya, operator jangan hanya sibuk perang diskon layanan dan vendor asyik menjajakan ponsel hemat, tapi juga harus menyempatkan diri mendekati masyarakat dan menunjukkan pada mereka betapa teknologi ini sangat membantu.

Bahasa yang digunakan mestinya juga bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam. Mestinya, masyarakat jangan hanya disuruh membeli layanan yang murah, tanpa diberi tahu apa manfaatnya bagi mereka.

Saya percaya, jika mereka diberikan kesempatan untuk sedikit belajar sehingga yakin teknologi ini berguna dan dapat mempermudah pekerjaannya, mereka tidak akan ragu-ragu membeli.

Artinya, dari segi kemampuan ekonomi, rata-rata masyarakat boleh dikatakan sudah cukup lumayan. Masih ingat enam-tujuh tahun lalu ketika Indonesia dilanda krisis, kita melihat betapa dinamika ekonomi rakyat, terutama di daerah pinggiran dan pedesaan, sama sekali tak terpengaruh?

Yang penting, beri tahu dan cerdaskan mereka dulu, baru kemudian tunggu bagaimana responsnya. Mereka akan bergegas mengambil manfaat dari perangkat telekomunikasi ini.

Saya percaya tak akan ada lagi orang yang membeli ponsel dan kartu SIM, tapi juga ingin memborong sinyalnya sekalian.***(041219-ec-kt)