CATATAN DARI PAKISTAN (6-HABIS)

PERTANYAAN yang muncul dalam diri saya ketika berada di Pakistan, dan mendengarkan uraian sejawat Pakistan tentang Abdus Salam: mengapa Pakistan bisa melahirkan pemikir-pemikir kaliber dunia? Abdus Salam adalah contoh di bidang sains, sementara di bidang sastra dan humaniora, Pakistan masih punya sederet tokoh dunia macam Muhammad Iqbal ataupun Fazlur Rahman.

Sejawat saya itu tak segera — atau tak bisa — menjawabnya. Dalam dalam kunjungan singkat di Pakistan, saya mencatat beberapa hal yang agaknya menjadi faktor penting dalam mempercepat kemajuan manusia-manusia Pakistan.

Pertama, penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Pakistan beruntung menjadi salah satu negara bekas jajahan Inggris, yang membuat seantero negeri menggunakan bahasa Inggris. Pada umumnya sekolah-sekolah di Pakistan menggunakan kata pengantar Bahasa Inggris, atau kalau tidak, mengajarkan bahasa Inggris dalam porsi yang sangat tinggi. Saat ini, bahasa Inggris memang menjadi bahasa resmi (official language) Pakistan, dan bahasa Urdu sebagai bahasa nasionalnya (national language). Tak heran, kalau anda berbelanja di pasar-pasar Pakistan, rasanya Anda tidak perlu guide untuk berkomunikasi. Umumnya orang Pakistan bisa berbahasa Inggris kok!

Hal inilah yang membuat bahasa Inggris seolah-olah sudah menjadi bahasa ibu bagi orang Pakistan. Maka tak heran, untuk melanjutkan studi ke mana saja di seluruh antero dunia, orang Pakistan tidak kesulitan sama sekali. Tes TOEFL? Siapa takut, begitu mungkin ujar orang Pakistan.

Lain halnya dengan kita di Indonesia, bahasa Inggris masih merupakan barang sangat mewah dan mahal. Jangankan kalangan bawah, di kalangan perguruan tinggi pun bahasa Inggris boleh dikatakan masih jadi masalah. Banyak sekali kita dengar dosen-dosen perguruan tinggi kita yang tidak bisa melanjutkan studi ke luar negeri hanya karena skore TOEFL-nya sangat rendah.

Jika Indonesia tidak memberi perhatian pada peningkatan kualitas penguasaan bahasa Inggris – belum lagi bahasa asing lainnya – rasanya sulit bagi Indonesia untuk bersaing di kancah ilmu pengetahuan dan ekonomi di masa yang akan datang (saya sendiri sempat berhayal – sekaligus juga berdoa: suatu hari nanti, di Indonesia akan diberlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional…).

Kedua, apresiasi terhadap sastra, sejarah dan budaya. Umumnya orang Pakistan dengan fasih bisa bercerita tentang sastra, budaya ataupun sejarahnya. Penghargaan terhadap pujangga Muhammad Iqbal misalnya, bisa terlihat dari kebanggaan orang Pakistan dalam memasang foto Iqbal di dinding rumahnya. Pakistan tidak memandang ilmu sains lebih hebat dari sastra, atau sebaliknya. Orang yang studi sains perlu belajar sastra untuk mempertebal cita-rasanya terhadap alam, sedangkan orang sastra atau budaya perlu pula belajar sains untuk memahami bahwa keindahan alam ini ternyata juga bisa diurai dengan amat dahsyat!

Ketiga, penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berhasil. Abdus Salam ataupun Iqbal telah menjadi icon yang memotivasi orang Pakistan untuk maju. Mereka menghargai para tokohnya itu untuk memacu diri untuk berprestasi dan melanjutkan prestasi yang sudah dicapai sebelumnya.

Agak miris juga saya ketika teringat Indonesia. Padahal kita punya ilmuwan bereputasi internasional macam Habibie yang juga taat beragama. Tapi entah kenapa, banyak orang yang sinis padanya – baik sebelum maupun sesudah beliau jadi presiden. Kita kehilangan momentum dalam mencari dan menjadikan seseorang sebagai icon yang bisa memotivasi orang Indonesia sendiri untuk berprestasi.

JADI persoalan sumber daya manusia (SDM) memang merupakan modal yang luar biasa bagi sebuah negara untuk maju. Amjad Zafar Khan, LEADNet Pakistan Director memberi contoh: ada 5000 orang Pakistan yang jadi sarjana komputer di berbagai negara tiap tahun!

Meski secara ekonomi Pakistan belum maju – lebih disebabkan oleh kebijakan pembangunan ekonomi yang plin-plan akibat instabilitas politik – tapi dengan SDM yang luar biasa semacam itu, tidak akan sulit baginya untuk keluar dari krisis dan menjadi pemenang. Hanya tinggal menunggu waktu.

Untunglah, pentingnya SDM dan kepemimpinan sudah menjadi concern banyak pihak di berbagai belahan dunia sekarang ini. Dan ini pulalah yang menjadi salah satu kesadaran di balik berdirinya program LEAD International.

LEAD yang berdiri tahun adalah yayasan pendidikan, global, independen yang dipelopori the Rockefeller Foundation yang menggelar pendidikan profesional lanjutan bagi para individu mid-career yang berbakat, baik dari sektor publik maupun swasta, memperkenalkan mereka dengan isu-isu lingkungan dan pengembangan masyarakat, mencoba mengasah kemampuan dan ketrampilan mereka sebagai pemimpin masa depan yang akan berhadapan dengan persoalan-persioalan ini di seluruh dunia.

Sejak berdiri, LEAD memiliki 7 member programs yakni Brazil, Cina, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria dan CIS (bekas Uni Soviet), kemudian Kanada bergabung tahun 1994, Afrika Selatan (1995), Eropa (1995), Jepang (1997) dan Franchophone Afrika (2000). Saat ini, sudah ada 13 Member Program yang berasalan dari lebih dari 60 negara di dunia.

Kandidat yang berhak ikut seleksi di tiap member program adalah individu yang berusia 28-40 tahun dan bekerja full time di sektor seperti akademia, bisnis, pemerintahan, media dan LSM. Mereka yang terpilih ini disebut associate dan akan menjalani capacity building melalui selama dua tahun; sesi nasional dan sesi internasional.

Selama pelatihan, mereka diberikan kurikulum standar mengenai ekonomi, lingkungan, politik, sosiologi dan lain-lain. Untuk mengasah kemampuan mereka untuk menjadi calon pemimpin, mereka diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan melakukan presentasi, cara mengatasi masalah (problem solving), pengambilan keputusan, negosiasi, resolusi konflik dan kemampuan membuat skenario (scenario building skills).

Associate yang berhasil lulus dari program akan mendapat gelar LEAD Fellow. Sebagai fellow, mereka punya kesempatan untuk magang di sejumlah lembaga internasional sebagai badan-badan di bawah PBB, Bank Dunia, IMF, WTO, WWF dan IUCN. Mereka bekerja dengan gaji yang diberikan oleh LEAD dengan standar yang berlaku di lembaga tersebut. Selain itu, fellow juga berhak mendapat bantuan dana untuk mengikuti seminar-seminar internasional atau melakukan penelitian bersama dengan LEAD fellow yang lain. Dengan kata lain, gelar fellow bisa disandang dan dimanfaatkan seumur hidup dan tetap menjadi keluarga besar LEAD International.

Di sinilah arti penting program ini yang senantiasa memelihara jaringan. Setidaknya lebih dari 1000 LEAD fellow dan associate yang ada di berbagai negara saat ini, dan semuanya kini terhubung melalui apa yang disebut LEADNet. Berbagai konferensi jarak jauh kerap dilaksanakan untuk merespon perkembangan global. Calon pemimpin memang harus disiapkan, dan tak mungkin hanya menunggu ada pemimpin yang dilahirkan begitu saja.[G!]

Advertisements

CATATAN DARI PAKISTAN (5):

TANAH kelahirannya adalah Pakistan, negeri yang tak pernah lekang memaut kecintaannya sampai akhir hayatnya. Abdus Salam dilahirkan pada 29 Januari 1926 di kota Jhang, tidak jauh dari Lahore di Propinsi Punjab. Pada umur 14 tahun ia lulus ujian matrikulasi untuk Universitas Punjab di Lahore dengan angka tertinggi yang pernah dicatat. Konsentrasi studinya adalah matematika dan fisika, tetapi ia juga tekun mempelajari agama, filsafat, dan literatur.

Dengan beasiswa ''Foundation Scholar'' membawanya ke Universitas Cambridge di St. John's College. Di Cambridge ia mengambil ''Mathematics Tripos II'' dan ''Physics Tripos II'' (1946-1949), lulus sebagai ''Wrangler'' (peringkat pertama) dalam tradisi Universitas Cambridge yang didirikan pada 1231. Menjadi mahasiswa peneliti (1951) yang menyelesaikan tesis Ph.D dalam waktu lima bulan, yaitu suatu sumbangan orisinal yang penting tentang ''renormalisasi'' (menghilangkan bentuk tak terhingga) dalam teori Meson.

Dari Fakultas Sains Universitas Cambridge ia dipandang sebagai salah satu dari ahli fisika teoretis terbaik di dunia. Pada 1950 ia memenangkan Hadiah Smith di Cambridge karena sumbangan yang luar biasa dalam fisika untuk kategori pra-doktor. Sejak itu ia secara kontinyu menggali lapisan dasar tambang sains. Abdus Salam mengambil peran utama dalam setiap usaha membuka drama penemuan dan pemahaman entitas primer dari fisika kuantum.

Adalah mengherankan bahwa seorang yang juga begitu aktif dalam masalah politik bisa menerbitkan 2250 hasil karya ilmiah berasas tinggi, puluhan di antaranya seminal bagi fisika partikel elementer!

Dengan prestasi awal dan penuh harapan, ia kembali ke Lahore sebagai Guru Besar pada umur muda 25 tahun. Tetapi waktu tiga tahun lamanya dalam tugas itu tidak membahagiakannya. Salam kehilangan kontak dengan sejawat ilmuwan peneliti problema yang menggairahkan. Menurutnya, inilah penyebab utama atmosfir penelitian yang menyedihkan menggelayuti hampir seluruh negara berkembang. Mereka yang mendapat pendidikan peneliti di luar negeri, bila kembali ke negara asal menghadapi banyak kesulitan dan ketidaksesuaian untuk berkembang terus. Mereka terlalu kecil jumlahnya dan terpecah-pecah sehingga tak berhasil membentuk massa kritis, tak ada perpustakaan yang menunjang bidang keahlian; tak ada komunikasi dengan kelompok-kelompok peneliti di luar negeri. Tak ada kritikan atas apa yang dikerjakan; ide-ide baru sampai ke mereka terlalu lambat; kerja mereka kembali lagi ke dalam alur-alur yang sebelumnya. Orang-orang ini terisolasi, dan pengisolasian dalam fisika teoretis –seperti halnya pada umumnya kerja intelektual– adalah ''mati''. Inilah pula yang dihadapi Salam ketika berasosiasi dengan Universitas Lahore.

Walaupun Salam adalah jenius yang berputar sendiri, ia tidak bisa menerima keadaan ''dikubur hidup-hidup'' secara perlahan-lahan. Pada 1954 ia kembali ke Inggris, pertama sebagai Lektor di Cambridge. Setelah merumuskan teori neutrino pada umur belia 31 tahun Salam menjadi Profesor Fisika Teoretis selama 30 tahun (1957-1987) di London Imperial College untuk Sains dan Teknologi yang bergengsi. Dengan usaha dan ambisi Salam maka Imperial menjadi salah satu pusat terkemuka dalam teori medan. Salam mendorong teoretisi di Imperial ke arah problema simetri dalam klasifikasi partikel, dan teori grup dalam fisika partikel. Namun demikian, ia tak pernah kehilangan kontak pribadi dan profesional yang erat dengan tanah airnya, dan merasa bangga sebagai Muslim yang pertama mendapatkan Hadiah Nobel (1979). Ia tak pernah kembali menduduki jabatan akademi reguler di Pakistan.

Dapat dikatakan Salam adalah dua sosok manusia yang berfusi dalam satu tubuh menghasilkan keajaiban manusia. Ia adalah seorang cendekiawan sekaligus ulama. Sebagai cendekiawan, yaitu ilmuwan fisika teoretis, ia adalah pengikut akhir dari tradisi fisikawan klasik. Baginya ruang lingkup intelektual sains ialah memanunggalkan hukum-hukum alam yang terdiri dari secukupnya prinsip/asas sederhana, di mana kemanunggalan agung adalah salah satu prinsip. Pencarian tapak ini dimulai pada zaman Yunani Kuno dan dilanjutkan dalam Islam oleh Al-Biruni (973-1050 M) yang menegaskan bahwa alam memiliki hukum yang sama di mana saja, di Bumi atau di Bulan. Dengan diwujudkannya pertemuan dua peradaban ini maka dimuilah sains moderen dari Galileo ke Einstein; Salam telah memberikan sumbangan fundamental dengan teori electroweak, yaitu kemanunggalan gaya elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah yang dihargai oleh dunia masyarakat sains dengan Hadiah Nobel Fisika 1979.

Sebagai orang berkearifan, Salam juga adalah dua profil: ia adalah manusia yang taat sekali pada agama, menemukan di dalam Alquran pembenaran dari dasar pikiran karya keilmiahannya dan diilhami oleh Alquran. Dan ia adalah seorang politisi dalam arti asas tinggi dan arti mulia, dan bukan dalam arti merendahkan bagi politisi yang mempraktekkan realpolitik untuk memperoleh kekuasaan. Ia menyediakan tenaganya untuk memperbaiki kondisi kehidupan di Dunia Ketiga dengan menempatkan dirinya secara implisit sebagai pejuang dalam hak-hak seluruh bangsa untuk berpartisipasi secara kreatif di dalam pengukiran sejarah dunia.

Hanya sambungkan saja! Inilah tema sepanjang hidup dan karya AS. Ia mengikuti ajaran-ajaran Islam dan telah membaktikan hidupnya pada prinsip kemanunggalan-kemanunggalan Alam dengan Manusia. Sebagai seorang filosof alam ia melihat bahwa pelbagai interaksi partikel elementer haruslah tidak lebih daripada aspek bermacam-macam gaya tunggal primer. Sebagai pemimpin politik dan moral ia membuktikan bahwa pelbagai interaksi antarbangsa dan budaya bukanlah penghalang bagi persaudaraan manusia dalam sains.

Yang mendasar bahwa hampir seluruh yang dikerjakan oleh Salam ialah kuatnya keterkaitan kepada agama Islam, dijabarkan dari tanah airnya Pakistan. Dengan ciri segala kerendahan hati ia menyampaikan bahwa apa yang telah dicapainya dianggap berasal dari semangat warisan Islam. Ia berkata: ''Saya banyak melibatkan diri pada pemikiran kesimetrian alam, yang datang dari konsep Islam, karena dalam Islam kita merenungkan universum ciptaan Allah dengan ide keindahan dan kesimetrian serta keharmonisan, dan diperoleh kepuasan dapat melihat sebagian kecil dari rahasia alam ini.''

Abdus Salam tidak percaya adanya konflik antara sains dengan Islam. Ia menegaskan bahwa dari tahun 750-1100 M hampir seluruh sains adalah sumbangan Islam, yang menurut George Sarton (A History of Science ) secara tak putus serta berturut-turut adalah zamannya Jabir, Khwarizmi, Haytham, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Ibn Sina, Omar Khayyam dll. — Arab, Turki, Afghani, dan Irani. Dan ia sendiri hanya berusaha mengobarkan kembali tradisi itu.

Selain AS, tokoh berpengaruh dalam bidang sains ialah Ishrat Usmani, Ketua Komisi Tenaga Atom Pakistan. Menurut Usmani, ''Kebanyakan usaha keilmiahan di Pakistan ditimbulkan oleh imajinasi Abdus Salam dan bobot pengaruh pribadinya. Abdus Salam adalah simbol kebanggaan dan gengsi bangsa Pakistan dalam dunia keilmiahan. Karena pengaruhnya maka penghargaan berlebih-lebihan yang sebelumnya diberikan kepada seni dan ilmu-ilmu sosial dengan mengorbankan sains telah dipatahkan. Presiden Ayub Khan sendiri membagi kegairahan perhatian Abdus Salam pada penerbitan buku-buku pelajaran sains. Bertambah banyak mahasiswa mengambil studi sains di universitas.''

Meskipun orang tuanya mengikuti salah satu sekte dalam Islam (Ahmadiyah), Salam mengaku tidak ikut sekte manapun. Baginya hanya ada satu Islam dengan sumber Alquran dan Hadis, serta kemampuan individu untuk memahaminya menurut kepercayaan imannya dan keyakinan pikiran serta intuisi bagi dirinya sendiri yang harus dipertanggungjawabkan di kehidupan akhirat.

Abdus Salam menderita stroke, dan dengan itu ia tak bisa berfungsi lagi sebagai Direktur ICTP. Sebagai penghormatan kepada pendirinya, selama ia masih sanggup menilainya sebelum kekuatannya hilang samasekali, di Trieste diadakan 3 hari pertemuan fisika yang dihadiri oleh rekan, pengagum dan mantan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia. Salah seorang ialah Yang Chen-Ning (penerima Hadiah Nobel Fisika 1957) yang pembicaraannya dalam seminar di Seattle pada 1956 memberikan kesan mendalam kepada Salam untuk meneliti lebih dalam tentang simetri di dalam alam materi.

Puncak dari pertemuan ini adalah pemberian gelar honoris causae (yang ke-35) dari Universitas St. Petersburg (dahulu Leningrad). Rektor Universitas khusus datang memberikannya. Salam mendengarkan sambil duduk di atas kursi roda tetapi ia tak bisa berbicara lagi. Sesudah upacara resmi, peserta tenang berdiri berbaris masing-masing menyampaikan ucapan selamat. Cuma sedikit reaksi yang diperlihatkannya, tetapi semuanya mengharap bahwa pesan mereka tersampaikan kepada tubuh yang lumpuh serta bisu itu.

Sesudah nama-nama besar, maka datang giliran peneliti muda. Yang terakhir adalah seorang peneliti muda yang gugup berasal dari Pakistan. Ketika ia membungkuk ke arah Salam yang duduk di kursi roda itu, ia berkata ''Pak, saya adalah mahasiswa dari Pakistan. Kami sangat membanggakan Bapak.'' Bahu AS tampak tergetar dan air mata pun mengalir di pipinya.

Sesudah tak sanggup lagi berkomunikasi selama tiga tahun terakhir oleh penyakit yang melumpuhkan, ruh itu meninggalkan jasadnya pada 20 November 1996 di Oxford, diiringi oleh doa Salam sendiri, jauh dari tanah air yang dicintainya. Tanah Inggris menyimpan jasadnya.

PERTANYAAN yang muncul dalam diri saya ketika berada di Pakistan, dan mendengarkan uraian sejawat Pakistan tentang Abdus Salam: mengapa Pakistan bisa melahirkan pemikir-pemikir kaliber dunia? Abdus Salam adalah contoh di bidang sains, di bidang sastra dan humaniora, Pakistan masih punya sederet tokoh dunia macam Muhammad Iqbal ataupun Fazlur Rahman.

Sejawat saya itu tak segera, atau tak bisa menjawabnya. Dalam dalam kunjungan singkat di Pakistan, saya mencatat beberapa hal yang agaknya menjadi faktor penting dalam mempercepat kemajuan manusia-manusia Pakistan.

Pertama, penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Pakistan beruntung menjadi salah satu negara bekas jajahan Inggris, yang membuat seantero negeri menggunakan bahasa Inggris. Pada umumnya sekolah-sekolah di Pakistan menggunakan kata pengantar Bahasa Inggris, atau kalau tidak, mengajarkan bahasa Inggris dalam porsi yang sangat tinggi. Saat ini, bahasa Inggris memang menjadi bahasa resmi (official language) Pakistan, dan bahasa Urdu sebagai bahasa nasionalnya (national language). Tak heran, kalau anda berbelanja di pasar-pasar Pakistan, rasanya Anda tidak perlu guide untuk berkomunikasi. Umumnya orang Pakistan bisa berbahasa Inggris kok!

Hal inilah yang membuat bahasa Inggris seolah-olah sudah menjadi bahasa ibu bagi orang Pakistan. Maka, tak heran, untuk melanjutkan studi ke mana saja di seluruh antero dunia, orang Pakistan tidak kesulitan sama sekali. Tes TOEFL? Siapa takut, begitu mungkin ujar orang Pakistan.

Lain halnya dengan Indonesia, bahasa Inggris masih merupakan barang sangat mewah dan mahal. Jangankan kalangan yang lebih bawah, di kalangan perguruan tinggi pun bahasa Inggris boleh dikatakan masih jadi masalah. Banyak sekali kita dengar dosen-dosen perguruan tinggi kita yang tidak bisa melanjutkan studi ke luar negeri hanya karena skore TOEFL-nya sangat rendah. Jika Indonesia tidak memberi perhatian pada peningkatan kualitas penguasaan bahasa Inggris – belum lagi bahasa asing lainnya – rasanya sulit bagi Indonesia untuk bersaing di kancah ilmu pengetahuan dan ekonomi di masa yang akan datang (saya sendiri berhayal – sekaligus juga berdoa: suatu hari nanti, di Indonesia akan diberlakukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional…).

Kedua, apresiasi terhadap sastra, sejarah dan budaya. Umumnya orang Pakistan dengan fasih bisa bercerita tentang sastra, budaya ataupun sejarahnya. Penghargaan terhadap pujangga Muhammad Iqbal misalnya, bisa terlihat dari kebanggaan orang Pakistan dalam memasang foto Iqbal di dinding rumahnya. Pakistan tidak memandang ilmu sains lebih hebat dari sastra, atau sebaliknya. Orang yang studi sains perlu belajar sastra untuk mempertebal cita-rasanya terhadap alam, sedangkan orang sastra atau budaya perlu pula belajar sains untuk memahami bahwa keindahan alam ini ternyata juga bisa diurai dengan amat dahsyat!

Ketiga, penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang berhasil. Abdus Salam atau pun Iqbal telah menjadi icon yang memotivasi orang Pakistan untuk maju. Mereka menghargai para tokohnya itu untuk memacu diri untuk berprestasi dan melanjutkan prestasi yang sudah dicapai sebelumnya.

Agak miris juga saya ketika teringat Indonesia. Padahal kita punya ilmuwan bereputasi internasional macam Habibie yang juga taat beragama. Tapi entah kenapa, banyak orang yang sinis padanya – baik sebelum maupun sesudah beliau jadi presiden.

Padahal Indonesia punya Haji Agus Salim, tokoh multidimensi yang diakui oleh dunia pada zamannya. Tapi coba tanya anak muda sekarang, siapakah Agus Salim? Paling banter yang mereka ingat cuma jenggotnya, atau menyebut nama salah satu stadion olahraga.

Apakah kita bangsa yang tidak mau menghargai prestasi orang lain, dan bahkan prestasi orang Indonesia sendiri? [G!]

Kuncinya, Inisiatif Lokal

4, March, 2001

CATATAN DARI PAKISTAN (4)

MENURUT standar Bank Dunia, Pakistan adalah salah satu dari sekian banyak negara berkembang, seperti Indonesia. Tapi yang namanya standar “negara berkembang” tetap saja menurut perspektif ekonomi, tanpa apresiasi dan pendekatan budaya dan kearifan lokal. Uraian berikut menunjukkan betapapun masih belum majunya Pakistan dalam segi ekonomi, inisiatif masyarakatnya ternyata tidak sulit untuk digerakkan – suatu hal yang sebenarnya terkait dengan kultur mereka. Dan ini merupakan modal utama untuk keluar dari krisis dan mencapai kemajuan di masa yang akan datang – dengan atau tanpa bantuan lembaga donor macam Bank Dunia.

Topografi Pakistan terdiri dari kawasan pegunungan Transhimalaya, dataran tinggi, gurun serta lembah sungai Indus yang menjadi kawasan pertanian tersubur. Pertanian menjadi andalan ekonomi Pakistan, selain industri ringan. Komoditas pertanian unggulannya adalah beras, gandum dan kapas. Besarnya potensi pertanian Pakistan membuat ia sempat mencapai swasembada pangan.

Sedangkan industri beratnya yang dinasionalisasi pada 1971, malah mengalami kebangkrutan. Satu-satunya bahan tambang andalan hanyalah gas alam. Kondisi ini menyebabkan perekonomian Pakistan relatif tertinggal. Apalagi sektor pertanian tak mampu lagi memikul beban jumlah penduduk yang tinggi. Akibatnya tingkat urbanisasi penduduk yang semula 70 persen diantaranya tinggal di desa sangat besar. Kota-kota besar selain Islamabad seperti Karachi, Hyderabad dan Lahore, dihiasi pemukiman kumuh.

Pakistan adalah negeri yang sangat beragam, dengan ketergantungan masyarakatnya yang amat tinggi terhadap basis-basis sumber daya dan ekosistem untuk bertahan hidup. Pola pembangunan yang diterapkan cenderung mengabaikan pemerataan. Lahan dan aset-aset industri sama sekali tidak merata terdistribusikan.

Kebijakan sentralistik baik di tingkat pemerintahan federal maupun provinsi, menyebabkan kesenjangan (disparitas) yang amat menyolok. Tingkat kemiskinan absolut, yang terjadi pada dekade 1970-an dan 1980-an, malah meningkat di tahun 1980-an, belum lagi inflasi sampai 11 % pada dekade 1990-an.

Dengan hutang luar negeri sebesar USD 36 miliar, ekonomi Pakistan boleh dikatakan amat goyah. Dengan performa ekonomi yang demikian dan masih berlangsung sampai sekarang, masih lemahnya penataan (governance), baik di tingkat pemerintahan maupun di masyarakat sendiri, menjadi isu utama yang dihadapi Pakistan dewasa ini. Hal itu diperburuk lagi oleh instabilitas politik akibat pertikaian kalangan sipil dan militer.

Sebagaimana lazimnya terjadi di negara-negara berkembang, pangkal bala kegagalan pembangunan ekonomi di Pakistan akibat pola yang dipilih adalah memacu pertumbuhan ekonomi. Skema ini membenturkan tujuan yang hendak dicapai pertumbuhan ekonomi dengan kondisi ideal pengembangan masyarakat di tingkat akar rumput (grass root).

Dalam 50 tahun terakhir, pendekatan sektor publik terhadap pengembangan masyarakat di masyarakat sangat dicirikan oleh pergeseran yang tidak sistematik dan tidak terencana dari modernisasi pertanian ke pengembangan pedesaan yang integral, infrastruktur dan sumberdaya manusia. Penyebabnya antara lain, kurangnya komitmen politik, manajemen yang buruk, alokasi sumberdaya yang amburadul, dan menafikan partisipasi publik.

Menurut Tariq Husain, doktor ekonomi lulusan University of Chicago, kondisi semacam itulah yang kemudian mengundang munculnya lembaga-lembaga yang mempromosikan program pengembangan masyarakat (community development). “Tanpa menunggu-nunggu respon pemerintah, inisiatif-inisiatif lembaga, maupun individu-individu di masyarakat bermunculan,” ujar Managing Director Enterprise adn Development Consulting (Pvt) Ltd, Islamabad.

Dalam skema ini, menurut Tariq, masyarakat dirangsang untuk mengorganisir diri mereka sendiri untuk mewujudkan kemitraan pembangunan dengan organisasi yang berbasis masyarakat.

Saat ini, ada tiga kategori utama organisasi semacam itu yang bekerja dalam wilayah pertanian dan pembangunan pedesaan maupun dalam pengembangan infrastruktur masyarakat urban. Kategori pertama, organisasi tingkat nasional untuk capacity building (peningkatan kapasitas masyarakat) ataupun funding (penyandang dana). Kedua, organisasi pendukung yang bekerja langsung dengan organisasi berbasis masyarakat di kawasan-kawasan khusus, yang membantu masyarakat untuk mengembangkan partisipasinya. Dan ketiga, program pendukung pembangunan pedesaan alias Rural Support Program (RSP).

Menurut Shandana Khan, seorang motor penggerak RSP, pada tahun 1991, UNDP mengumumkan ada 4.833 LSM di Sindh. Pada tahun 1994, dilaporkan jumlah itu bertambah menjadi 8.547 organisasi. “Tumbuhnya organisasi semacam ini akan mempercepat pertumbuhan Pakistan di masa datang, terutama kapasitas dan inisiatif masyarakat lokalnya,” ujarnya.

Village AID Programme (V-AID) misalnya, adalah organisasi pelopor dalam bidang pengembangan masyarakat. Didirikan tahun 1952, lembaga ini dimaksudkan sebagai wadah koordinasi antara sejumlah departemen pemerintahan dengan kelompok di masyarakat. Program ini sudah berjalan beberapa tahun, namun tak bisa dihilangkan kesan bahwa program ini lebih merupakan exercise administratif ketimbang pengembangan masyarakat.

Sedangkan Rural Work Program (RWP) yang berdiri tahun 1963 ditujukan untuk menciptakan infrastruktur fisik, peningkatan pendapatan dan pengembangan ekonomi di seluruh negeri. Program ini, sebagai yang terdahulu, tidak terfokus oleh gangguan-gangguan yang muncul akibat kepentingan-kepentingan tertentu di pemerintahan.

Barulah pada tahun 1972, didirikan the Integrated Rural Development Programme (IRDP) yang bertujuan meningkatkan kondisi populasi di pedesaan melalui partisipasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan implementasi. Tujuan utama gerakan ini adalah mendorong berbagai lembaga publik di tingkat lokal yang disebut markaz. Proyek-proyek yang berhasil dilaksanakan adalah penyedian air minum, sanitasi, kesehatan, pendidikan, kesempatan kerja dan partisipasi kaum wanita. Namun, karena ketiadaan peran pemerintah lokal terutama dalam melakukan assessment, program ini tidak berhasil mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan.

Perubahan rezim pemerintahan pada tahun 1990 juga membawa perubahan pada organisasi pengembangan masyarakat ini. Saat itu, diluncurkan Tameer-e-Watan Programme yang memfokuskan diri dalam pencapaian keseimbangan sosial dan memperkokoh kerangka sosial untuk pembangunan ekonomi.

Program yang paling sukses mungkin Orangi Pilot Project (OPP) yang dilaksanakan di kawasan pemukiman kumuh di Karachi. Program ini adalah pemberdayan inisiatif masyarakat lokal untuk memperbaiki taraf hidupnya.

Sebagai salah satu kota terbesar di Pakistan, Karachi merupakan sarang urbanisasi yang cukup besar. Namun ini melahirkan ratusan titik perkampungan kumuh yang disebut katchi abadi. Dimulai tahun 1980, OPP digagas pertama kali oleh Akhtar Hameed Khan, yang mengorganisir 20 keluarga untuk bekerja dengan kemampuan dan modal sendiri untuk memperbaiki sistem drainase dan pengadaan air minum hingga memperbaiki jalan. Keberhasilan ini menginspirasi anggota masyarakat yang lain untuk berinisiatif untuk melakukan apa saja untuk memajukan perkampungannya. Mereka punya konsep gotong-royong dalam arti yang sesungguhnya!

OPP merupakan program pengembangan masyarakat yang sangat unik: diminati masyarakat dengan nol persen kontribusi pemerintah lokal. Sebab, bila menunggu subsidi dari pemerintah, hidup mereka tidak akan berubah, karena itu tak mungkin ada.

Bagaimana kiatnya? “Dengarkan mereka, dan berdayakan mereka (listen to them, and empower them),” ujar Ali Tauqeer Sheikh, National Program Director LEAD Pakistan. Berbuatlah sesuatu untuk kita semua, begitu mungkin jurus ampuh masyarakat di perkampungan kumuh di Karachi untuk secara perlahan memajukan kawasan tempat tinggalnya. Dan itu hanya menunggu waktu. [G!]

CATATAN DARI PAKISTAN (3):

KAWASAN ini selalu menghangat, karena terlibat perebutan wilayah Kashmir dengan bekas 'induk semangnya', India. Pakistan semula memang bagian dari India. Pada 1947 memisahkan diri karena mayoritas (97%) dari 133,5 juta penduduknya beragama Islam, mendapat perlakuan tak adil dari pemerintah India yang didominasi ummat Hindu. Pada1968, Pakistan juga dilanda kerusuhan internal antara wilayah barat dengan timur.

Di sini India mendukung Pakistan Timur, hingga pada 1972 wilayah itu menjadi negara tersendiri dengan nama Bangladesh. Pakistan meliputi wilayah seluas 803.940 km2 dengan ibu kota Islamabad. Wilayahnya berbatasan dengan Afghanistan dan Cina di utara, Laut Arab dan India di selatan, Iran di barat dan Bangladesh di timur. Peradaban Pakistan bermula dari lembah Sungai Indus yang menjadi satu dari empat pusat peradaban dunia. Kerajaan Gandhara diperkirakan sudah berdiri di sana pada tahun 3500 SM.

Selanjutnya wilayah ini menjadi daerah taklukan Persia dan Romawi. Hindu masuk pada abad ke-3 SM dan berpengaruh kuat. Namunkemudian memperoleh perimbangan saat Islam masuk ke sana pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Pada abad ke-8, kekuasaan Islam di sana sangat terorganisasi hingga berhasil mendirikan kesultanan di New Delhi. Namun kesultanan itu diambil alih Dinasti Moghul pada abad ke-16. Kekuasaan dinasti keturunan Timur Lenk ini berakhir di tangan Inggris pada 1757.

Lebih dari seabad, wilayah tersebut dikuasai Inggris. Tuntutan untuk memisahkan diri dari India yang dimotori Muhammad Ali Jinnah mengkristal pada 1940 dengan dibentuknya Liga Islam. Baru pada 1947 Pakistan diakui menjadi negara tersendiri sebagai dominion dalam Persemakmuran Inggris. Selain dalam masalah Kashmir yang berlarut hingga kini, Pakistan dan India sempat terlibat perebutan wilayah Punjab dan Bengal.

Penduduknya terbilang multietnis, terlihat dari keragaman bahasa pengantar yang digunakan seperti Urdu, Punjabi, Shindhi dan Pasthun. Namun keragaman itu disatukan oleh kesamaan agama yaitu Islam. Pemilu pertama digelar 1977, namun berakhir dengan ketidakpuasan partai oposisi. Ini karena partai yang berkuasa pimpinan Zulfikar Ali Buttho menguasai sampai 155 dari 200 kursi parlemen. Konflik politik memaksa Bhutto memerintah secara diktator.

Krisis politik terus berlanjut hingga Kepala Staf Angkatan Darat, Jendral Zia ul-Haq mengambil alih kekuasaan. Ia menghukum gantung Bhutto dengan tuduhan telah membantai lawan-lawan politiknya. Zia ul-Haq berkuasa lebih dari 10 tahun hingga pada 17 Agustus 1988 tewas karena pesawat yang ditumpanginya meledak.

Ini memudahkan jalan bagi Partai Rakyat Pakistan pimpinan Benazir Bhutto, puteri Ali Bhutto, untuk berkuasa. Pada masanya, Pakistan dikenal sebagai pendukung perjuangan Mujahiddin Afghanistan.

Militer kembali berkuasa setelah kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Nawaz Sharif. Keberadaan Pakistan di wilayah yang kerap diguncang konflik, memaksanya memperkuat militer. Pakistan termasuk satu dari sedikit negara dunia ketiga yang memiliki reaktor nuklir dan rudal-rudal berhulu ledak nuklir. Kekuatan militer ini dibangun atas kerjasama dengan Cina. Kondisi ini yang membuat hubungan Pakistan tak terlalu baik dengan Amerika Serikat. Bahkan konflik keduanya memuncak pada 1987 saat AS mencanangkan proliferasi nuklir.

KEJATUHAN Perdana Menteri Nawaz Sharif tahun lalu tidak sempat mengusik perhatian. Tetapi setelah penguasa baru militer melakukan banyak langkah lanjutan, tak urung orang berspekulasi kembali. Sharif sudah disidang di pengadilan, dan — tak jauh beda dengan Anwar Ibrahim di Malaysia — sidang itu berjalan dengan berat sebelah.

Jenderal Pervez Musharraf yang mengambil alih kekuasaan, telah memberi contoh kesuksesan kudeta di zaman modern. Ini mengkhawatirkan, sebab gampang sekali militer negara lain menirunya. Ia menemukan momen tepat, sehingga sekalipun terpaksa, orang harus mengalah kepadanya.

Kendatipun demikian, militer Pakistan tidaklah terlibat politik sedalam di Indonesia. Mereka tak punya wakil di parlemen. Sejak kejatuhan Zia ul-Haq lewat kecelakaan pesawat, pemerintahan sipil mendominasi. Tetapi pemerintahan sipil itu terus ganti-berganti, karena pemilu tidak menghasilkan satu pihakmayoritas. Presiden Pakistan juga terkesan begitu mudah menyatakan bubarnya sebuah kebinet, bahkan dengan alasan yang belum dibuktikan: korupsi dan kesalahan administratif.

Kekuasaan presiden seperti itulah yang ditentang Nawaz Sharif pada termin kekuasaannya yang terakhir. Ia bersikukuh mengamandemen UUD negaranya, dan berhasil. Presiden jadi kehilangan kewenangan untuk semena-mena menjatuhkan Perdana Menteri, dan tidak lagi mengangkat Panglima Militer.

Sayang, pelepasan kekuasaan itu menjadi sulit diterima lantaran sebaliknya membuat PM sangat berkuasa. Salah satu korbannya adalah militer. Nawaz Sharif gampang mengganti-ganti pucuk pimpinan militer, hingga mengusik `ketenangan' tentara.

Kekecewaan tentara bertambah setelah Sharif tidak cukup bereaksi dengan tindakan India yang menyerang Kargil, wilayah di Kashmir. Rumor yang berkembang, Sharif sedang menjalin bisnis gula dengan PM India Atal Behari Vajpayee, sehingga tidak punya nyali untuk membalas serangan. Ia memang pengusaha tulen, mewarisi bisnis orang tuanya yang sudah sukses sebelum Nawaz memasuki dunia politik. Maka militer kemudian mengambil langkah ekstrim menyingkirkannya.

Ada juga faktor eksternal yang memperburuk citra Nawaz dan menguntungkan militer, yakni hubungannya dengan Amerika. Sebenarnya, sejak jatuhnya Zia, Amerika sangat berperan di kancah perpolitikan Pakistan. Untuk mengendalikan negeri itu, Amerika memegang tiga kekuatan kunci, yakni Nawaz Sharif, Benazir Bhutto, dan pejabat Presiden. Ketiga pihak juga saling memanfaatkan. Itulah sebabnya, begitu mudah kekuasaan berpindah, dari Benazir ke Nawaz, ke Benazir lagi, ke Nawaz lagi. Memang ada proses pemilu yang menyelainya, tetapi pemilu itu hanya menetapkan 25% suara bagi Nawaz Sharif. Toh Presiden (Farooq Leghari saat itu) bisa mempersilakannya membentuk kabinet.

Rupanya Sharif kemudian terlalu jauh bermain. Setelah Presiden`dikalahkannya', ia mengancam Amerika pula. Sharif memanfaatkan kondisi dalam negeri untuk memeras Amerika, karena kalau PamanSam tidak membantu, katanya, Pakistan akan menjadi pusat gerakan radikal Islam. Setelah sekian lama setuju, akhirnya Amerika memilih jalan sendiri, lewat konspirasinya dengan pihak militer Pakistan.

KUDETA yang dilakukan Jenderal Pervez Musharraf tak ubahnya saat Zia ul-Haq menggulingkan Ali Bhutto. Sulit mengukur seberapa besar dukungan rakyat terhadap langkah ini, sebab semua stasiun radio, televisi, juga kantor pemerintahan di provinsi, dikuasai militer. Maka tuduhan korupsi terhadap Nawaz Sharif tidak ada yang membantah. Padahal semula publik kecewa dengan kudeta itu, yang jelas-jelasmemaksakan kehendak. Pervez yang sedang berkunjung ke Srilanka, dipecat Nawaz, diganti dengan jenderal yang dekat dengannya, Jenderal Ziauddin. Itulah penggantian kedua dalam setahun terakhir. Ternyata Pervez menolak, dan menggerakkan anak buahnya untuk menggulingkan PM. Nawaz langsung ditangkap, dan tentara bergerak ke lembaga-lembaga vital. Termasuk menguasai bandara, yang semula menolak pesawat Pervez mendarat hingga menahannya 45 menit di udara.

Belakangan, tuduhan mengancam keselamatan penumpang justru dituduhkan ke Nawaz Sharif, dengan alasan bila 5 menit saja tertunda mendarat, pesawat itu akan kehabisan bahan bakar. Apakah kini Pakistan akan kembali ke pemerintahan militer? Bisa jadi demikian, sekalipun Pervez pada awalnya menyatakan tidak. Ia melakukan itu, katanya, untuk menyelamatkan negara. Artinya setelah kondisi membaik, militer akan mengembalikannya ke pangkuan sipil.

Tetapi menilik langkah-langkahnya, Pervez justru akan menghabisi politisi penting sipil lewat tuduhan korupsi dan penyalahgunaan utang. Kebetulan, utang para pengusaha besar dan (sebagian) politisi itu mencapai 4 miliar dollar, cukup untuk modal memperbaiki perekonomian yang morat-marit. Pervez hanya memberi waktu sebulan untuk melunasi, atau mereka akan dipenjara. Tentu saja mayoritas tidak bisa memenuhi deadline itu, sehingga menjadi buron, termasuk mantan PM Benazir Bhutto maupun keluarga Nawaz Sharif yang kemudian ditangkapi. Yang paling mengkhawatirkan adalah bila pengadilan di bawah pengawasan militer itu menyimpulkan Nawaz Sharif layak dihukum mati, sebagaimana bunyi salah satu tuntutan. Sidang itu sendiri tidak bisa dipantau publik, sehingga benar dan salah sulit diuji secara fair. Sejelek apapun prestasinya, Sharif memiliki pendukung cukup banyak, yang potensial menjadikan Pakistan semakin kacau bila pemimpinnya diusik secara tidak adil. (Akhirnya, Nawaz diasingkan ke Mesir, tidak jadi dihukum mati).

Pakistan juga akan memasuki episode ketidakpastian baru, karena dua kekuatan politik yang selama ini saling bersaing akan bergabung melawan militer, yakni kubu Nawaz dan Benazir. Sebelum kudeta, Pervez dinilai sebagai jenderal lugu. Tetapi ia kini adalah kepala pemerintahan yang direstui oleh Presiden. Sebagaimana Zia dulu, sekali berkuasa, ia akan semakin kuat. Bukti dari janjinya masih ditunggu, yaitu apakah ia akan mengalah kepada sipil, atau memilih untuk `dikalahkan' lewat people's power.[G!]

CATATAN DARI PAKISTAN (2)

BERBEDA dengan tradisi di Indonesia yang suka memasang foto presiden dan wakil presidennya dalam ruangan di kantor-kantor, di Pakistan justru dipasang foto dua orang tokoh yang bukan presiden, atau perdana menterinya saat ini. Tapi dua orang tokoh sejarah mereka: Muhammad Ali Jinnah dan Muhammad Iqbal. Yang pertama adalah pendiri Republik Islam Pakistan, satunya lagi adalah pujangga terkenal yang ikut memotivasi Jinnah dalam memerdekakan Pakistan.

Ali Jinnah memang identik dengan sejarah kontemporer Pakistan dan ia digelari dengan quaid-i-zam, pemimpin besar. Meski kecewa berat terhadap sikap tokoh-tokoh Partai Kongres India dan pukulan yang menghantam dari berbagai sudut, namun Ali Jinnah tidak bisa bertahan lama ber-uzalah di London, Inggris. Sebagai seorang nasionalis, panggilan "bumi pertiwi" selalu menggema di telinganya. Karena itu, pada 1934 ia pulang ke India.

Setibanya di tanah air yang dicintainya, Ali Jinnah diminta kembali untuk memimpin Liga Muslimin. Kali ini, ia diangkat menjadi ketua tetap partai umat Islam tersebut. Untuk membawa Liga Muslimin ke arah kejayaan, Ali Jinnah mengubah gaya kepemimpinannya.

Apabila sebelumnya, ia hanya berorientasi kepada kaum elite, hartawan, pegawai tinggi, dan kaum cendekiawan, kini ia menggalang kekuatan rakyat banyak. Sebelumnya, walaupun Liga Muslimin adalah partai Islam, namun hubungan partai ini dengan kaum muslimin awam hampir tidak ada. Wilayah operasional partai ini, hanya kalangan atas dengan menggalang kelompok elite muslim India.

Pada 1937, Liga Muslimin mendapat kesempatan ikut pemilihan umum daerah. Namun, suara yang diperoleh partai ini sangat tipis, bahkan di daerah-daerah yang mayoritas muslim pun Liga Muslimin mengalami kekalahan dari Partai Kongres. Akibatnya, tidak ada seorang pun tokoh Liga Muslimin yang diangkat menjadi menteri di daerah.

Menteri-menteri yang diangkat, adalah tokoh-tokoh nasionalis Partai Kongres. Kalaupun ada tokoh beragama Islam yang diangkat menjadi menteri, tokoh itu adalah tokoh muslim dari Partai Kongres, bukan dari Liga Muslimin.

Kenyataan pahit ini tidak hanya memukul Liga Muslimin, tetapi juga membawa partai ini makin dikucilkan dalam percaturan politik di India. Partai Kongres makin menganggap remeh Liga Muslimin. Hal ini terlihat, antara lain ketika Nehru, pemimpin Partai Kongres, menyatakan bahwa hanya ada dua kekuatan politik di India, yaitu Partai Kongres dan Pemerintah Inggris. Ini berarti Liga Muslimin tidak diperhitungkan sama sekali.

Sikap Nehru tidak cuma sampai di situ. Ia juga secara transparan menunjukkan sikap politik diskriminatif terhadap umat Islam. Posisi umat Islam yang minoritas makin terjepit. Kenyataan ini pada akhirnya membangkitkan kesadaran kaum muslimin India, untuk menyusun kekuatan baru.

Mereka sadar, apabila terus berpangku tangan dan tidak bersatu, mereka akan semakin tersudut dan eksistensi mereka makin terancam.

Pada sisi yang lain, Sir Muhammad Iqbal menulis surat kepada Ali Jinnah yang mengingatkan, bahwa organisasi politik tidak akan mendapat dukungan mayoritas massanya, apabila organisasi itu tidak menjanjikan perbaikan-perbaikan dan terpenuhinya kebutuhan dan aspirasi mereka.

Usaha-usaha menggalang kekuatan umat Islam pun dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kegiatan ini ternyata membawa hasil yang menggembirakan. Kaum muslimin, terutama di daerah-daerah mayoritas muslim, mulai memperhatikan Liga Muslimin.

Secara perlahan tapi pasti, mereka akhirnya mendukung partai ini dan mengakui sebagai satu-satunya partai umat Islam untuk memperjuangkan kepentingan mereka di seluruh India. Dukungan mengalir tidak saja dari kalangan bawah, tetapi juga dari para menteri di wilayah mayoritas Islam. Mereka mulai menjalin kerja sama dengan Ali Jinnah, seperti perdana menteri Punjab, Bengal dan Sind.

DERASNYA dukungan yang mengalir kepada Liga Muslimin makin memperkuat keberadaan partai ini. Kenyataan tersebut ingin dimanfaatkan Ali Jinnah untuk, sekali lagi, berunding dengan golongan nasionalis di Partai Kongres dengan harapan Liga Muslimin mendapat tempat untuk ikut serta menentukan masa depan India.

Namun perundingan itu selalu gagal. Golongan nasionalis India tetap tidak mengakui Liga Muslimin sebagai satu-satunya organisasi politik umat Islam India.

Setelah berbagai usaha untuk menjalin kerja sama dengan Partai Kongres tidak berhasil, Ali Jinnah sadar bahwa kepentingan umat Islam India tidak bisa lagi dijamin melalui perundingan-perundingan. Harapan agar kepentingan umat Islam dapat terjamin secara konstitusional, tercantum di dalam Undang-undang Dasar India yang akan disusun sudah pupus.
Kepercayaannya terhadap Partai Kongres telah hilang, kesimpulan yang diambilnya adalah — sebagaimana dicita-citakan Sir Muhammad Iqbal — kepentingan umat Islam India hanya bisa terlindungi, apabila mereka memiliki negara sendiri yang terpisah dari umat Hindu.

Untuk merealisasi ini, Liga Muslimin harus bekerja keras dan Ali Jinnah pun mulai mengatur strategi perjuangannya. Pada tahun 1940 diadakan rapat tahunan Liga Muslimin di Lahore. Rapat yang dipimpin langsung oleh Ali Jinnah ini, melahirkan sebuah resolusi yang dikenal dengan nama "resolusi Lahore".
Isinya antara lain: Pertama, sebagai suatu bangsa, umat Islam India memerlukan tanah air yang terpisah untuk hidup sebagaimana layaknya suatu bangsa yang bebas dan terhormat, dan sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Kedua, daerah yang berpenduduk mayoritas Islam dan yang secara geografis berdampingan, seharusnya menjadi sebuah negara baru. Negara ini diberi nama Pakistan.

Sebagai tindak lanjut dari resolusi ini, Liga Muslimin menetapkan tujuan perjuangannya adalah mewujudkan negara Pakistan itu dalam kenyataan. Langkah-langkah kearah itupun mulai disusun dan berbagai aktivitas dilakukan.

Resolusi Lahore dan penetapan tujuan perjuangan Liga Muslimin tersebut, ternyata membawa pengaruh besar terhadap kaum muslimin di berbagai lapisan. Dukungan dari umat Islam makin mengalir deras. Bahkan, sejumlah tokoh muslim yang sebelumnya bergabung dengan Partai Kongres, meninggalkan partai ini untuk bergabung dengan Liga Muslimin.

Dukungan tidak hanya diberikan oleh warga masyarakat dan tokoh-tokoh Islam, tetapi juga dari organisasi Islam lain yang ada di India, sehingga Liga Muslimin semakin bertambah kuat.
Kenyataan ini membawa perubahan pandangan terhadap tokoh-tokoh Partai Kongres. Mereka mulai memperhitungkan kekuatan baru Liga Muslimin. Karena itu, pada 1944 mereka bersedia mengadakan perundingan dengan Liga Muslimin tentang aksi bersama terhadap Inggris.

Namun perundingan ini tidak menghasilkan apa-apa, karena perbedaan pandangan di antara kedua belah pihak mengenai masa depan India sangat tajam. Kedua belah pihak, akhirnya kembali ke "markas" masing-masing tanpa membawa kesepakatan berarti.
Sementara itu, apabila di dalam resolusi Lahore tentang negara Pakistan belum begitu jelas, maka kini Ali Jinnah mempertegas bagaimana wujud negara Pakistan yang diperjuangkan oleh Liga Muslimin.

Menurutnya, negara ini meliputi enam daerah yaitu daerah perbatasan Barat Laut, Bulukhistan, Sindi, dan Punjab di sebelah barat serta Bengal dan Assam di sebelah timur. Jumlah penduduk muslim di daerah-daerah tersebut, 70 juta jiwa yang merupakan 70 persen dari jumlah penduduk. Pemerintahan di daerah-daerah itu akan berada di tangan umat Islam dengan tetap mengikutsertakan umat nonmuslim sesuai persentasi penduduk mereka masing-masing di tiap daerah.

Makin jelasnya konsep tentang negara Pakistan membawa Liga Muslimin makin populer, sehingga lahir sebuah slogan yang meluas di kalangan masyarakat Pakistan ka Matlab Kiya, la Ilaha Ilallah (Pakistan merupakan tuntutan. Tidak ada Tuhan selain Allah).

Pada 1946 dilaksanakan kembali pemilihan umum. Kali ini suara yang diperoleh Liga Muslimin melonjak drastis, jauh dibanding pemilu 1937. Seluruh kursi yang disediakan untuk golongan Islam di Central Assembly (dewan pusat), dapat direbut oleh Liga Muslimin.

Kemenangan ini merupakan kemenangan besar dan gemilang. Kemenangan yang membawa Liga Muslimin naik ke puncak kejayaan, dan pada akhirnya mampu mewujudkan cita-cita, yaitu lahirnya negara Pakistan yang merdeka. [G!]

CATATAN DARI PAKISTAN (1):

PENGANTAR – Selama dua pekan mulai 19 Februari 2001, saya berada di Pakistan untuk mengikuti International Training Session. Bersama 14 orang lainnya dari berbagai profesi yang terpilih sebagai LEAD (Leadership for Environment and Development) associate, saya bergabung dengan 140 peserta lain dari 25 negara di Lahore University of Management Sciences. Training ini merupakan sesi internasional pertama bagi LEAD Cohort 9 (angkatan kesembilan) dan masih akan mengikuti berbagai sesi nasional dan sesi internasional berikutnya selama dua tahun ini. Berikut beberapa carik catatan saya tentang kunjungan tersebut:

SENIN malam 19 Februari 2001, pukul 19.30 (dua jam lebih awal dari WIB), pesawat Singapore Airlines SQ 153 mendarat dengan mulus di Lahore International Airport, Pakistan. Setelah terbang selama enam jam dari Singapura, kilatan-kilatan lampu dari bumi Pakistan di malam hari seolah menyambut kedatangan kami.

Ada sedikit kekuatiran juga dalam diri kami begitu sampai di Pakistan. Selama ini, media barat sering mempersepsikan Pakistan sebagai negara yang tidak aman, sering terjadi kudeta, tempat berkeliarannya teroris,  bom di mana-mana, dan segala macam biang masalah lainnya. Benarkah demikian?
Yang jelas, sejak malam itu, saya mulai mencatat kejutan-kejutan yang dijumpai. Kesan kita sebelum dan sesudah berada di Pakistan nampaknya akan jauh berbeda…
Begitu menginjakkan kaki di bandara Lahore tersebut, saya agak terkesima juga: bandara internasional? Rasanya kok bandara-bandara domestik di Indonesia masih lebih bagus dari ini? Konstruksi bangunannya boleh dikatakan biasa saja, apalagi sudah sangat tua. Tapi, berbeda dengan sejumlah bandara domestik di Indonesia, lalu-lintas orang luar biasa ramai di sini. Pesawat yang datang dan pergi frekuensinya cukup tinggi, mungkin setiap satu jam ada.

Saking ramainya, sehingga belum cukup tertampung oleh bandara yang tidak begitu luas ini. Buktinya, pesawat kami harus menunggu setengah jam dulu begitu mendarat, karena ada pesawat lain yang mau take-off. Setelah itu, baru kemudian menuju ke landasan parkir.

Ternyata, bukan ukuran bandara yang menjadikannya bandara internasional atau tidak, tapi tingkat kebutuhan orang terhadap kawasan tersebut. Bandara Lahore mungkin biasa-biasa saja, tapi karena banyak orang asing yang berkunjung ke sini, baik untuk bisnis atau pendidikan, akhirnya bandaranya harus bisa mengakomodasi bandara internasional.

Meskipun secara fisik bandaranya biasa-biasa saja, tapi jangan salah sangka, kaliber bandara internasional memang pantas dilekatkan padanya. Petugas-petugas di bandara ini cukup profesional, segala sesuatu bisa diselesaikan dengan cepat, counter keimigrasiannya cukup banyak sehingga dengan cepat dapat memproses setiap orang asing yang masuk.

Aroma bahwa Pakistan saat ini dikuasai oleh sebuah pemerintahan militer pasca kudeta sejak setahun yang lalu, langsung terasa ketika kami melihat begitu banyak petugas keamanan bertugas di bandara ini. Tampangnya rada-rada sangar juga: berkumis dan berjenggot lebat sambil menyandang senjata api. Tapi mereka cukup ramah juga, helpful, dan menyapa “Assalamualaikum…”.

Kami dijemput oleh Javeed Afzal, salah seorang panitia di sana, dan bus langsung membawa kami menuju tempat penginapan.

Melewati jalan-jalan di kota Lahore, rasanya tak jauh beda dengan kota-kota besar di Indonesia seperti Bandung atau Bogor. “Anda beruntung saat ini berada di Lahore, karena saat ini sedang diadakan Spring Festival,” ujar Javeed, LEAD Cohort 7.

Dan memang, sungai yang berada di tengah kota sudah ‘didandani’ dengan berbagai lampu dan berbagai dekorasi. Berbagai pasar malam juga digelar di sejumlah sudut kota. Meriah sekali Lahore di malam hari.

Akhirnya kami sampai di Lahore University of Management Sciences (LUMS), di kawasan Lahore Cantt. Sebuah kampus megah yang berarsitektur ala Inggris dengan fasilitas sangat lengkap dan canggih. Di sinilah, International Training Session akan diadakan dan sekaligus penginapan bagi para pesertanya. “Silahkan check-in dulu, istirahat, dan segera mampir ke Executive Dining Room untuk makan malam. Associate lain yang datang lebih awal sudah berada di sana,” ujarnya lagi.

Rombongan LEAD Indonesia termasuk yang datang tepat waktu, yakni pada malam sebelum acara dimulai – rombongan lain, karena alasan ketersediaan flight, ada yang datang besoknya, ketika acara sudah dimulai.
LEAD Indonesia datang full-team. Ke-15 Indonesian associate itu didampingi oleh M.S Kismadi (National Program Director) dan Taufik Alimi (Academic Coordinator).

Mereka adalah: Fetty Fajriati (penyiar RCTI Jakarta), Swari Utami Dewi (Lembaga Pembela Hak Sipil dan Politik UNIFEM), Rachmawati S. Djembarmanah (dosen ITENAS Bandung), Nosi Lestariwati (Manajer HRD The Club Store), Yulia Indawardhani Lubis (Grameen Bank Replica NGO, Medan), Anjelita Malik (Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah), Laode Asmar Parsan (PT Industri Kapal Indonesia, Makassar), Semiarto Aji Purwanto (Dosen Antropologi FISIP UI), Budi Putra (wartawan Mimbar Minang), N. Imamsjah Roesli (PT National Gobel), Joko Roesmanto (Pusat Penelitian Gula, Pasuruan), Susi Sarumpaet (Dosen Unila), Suryaningsih Farianto (Konsultan PT Spektra Megah Semesta), Jarot Wahyudi (dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) dan Chandra Wirman (konsultan PT Pama Persada Nusantara, Jakarta).

LAHORE adalah kota kedua terbesar setelah Karachi (bekas ibukota), dan kemudian baru Islamabad — ibukota saat ini. Kota dengan jumlah penduduk  5,5 juta jiwa ini dijuluki kota Metro Kultural karena mewarisi berbagai macam peninggalan kebudayaan Hindu dan Islam. Sebelumnya, kota ini bernama Lohwar, Lohor dan Lahoure.

Terletak di sepanjang Sungai Ravi, Lahore juga dikenal sebagai ‘city of gardens’ (kota taman). Lahore menjadi ibukota Punjap sejak Pakistan memisahkan diri dari India, 1947, sebagai Negara Islam.

Puncak kejayaan kawasan ini terjadi pada masa Dinasti Mughal (1326-1707). Pada masa ini, Lahore memang menjadi alternatif utama bagi para raja, yakni Raja Akbar, Jehangir, Shah Jahan dan Aurengzeb untuk berdomisili, ketimbang Delhi atau Agra.

Lahore memang menyimpan berbagai situs Sejarah Islam. Banyak orang yang datang ke Lahore untuk mempelajari arsitektur Mesjid Badshahi (Raja Aurengzeb), Taman Salimar (Raja Shah Jahan), dan Royal Fort (Raja Akbar).

Tak salah kalau orang datang ke Lahore untuk belajar. Kota ini memang kota yang nyaman, cool dan ramah bagi para pelajar dan mahasiswa. Tak heran kalau para raja di zaman dahulu sangat betah berada di kota ini. [G!]