Alasan Memilih Teknologi

14, August, 2006

Dua hari lalu saya ngobrol dengan beberapa orang kolega soal akan diluncurkannya layanan telekomunikasi generasi ketiga alias 3G di Indonesia. Salah satu operator GSM sudah memastikan akan meluncurkan layanan 3G-nya satu-dua bulan ini.

Di sinilah menariknya: secara komersial, layanan 3G baru akan diluncurkan. Tapi Anda tentu tahu bahwa telepon seluler yang berkemampuan 3G sudah dijual–dan laris–sejak dua tahun lalu di Indonesia!
Read the rest of this entry »

Gadget Baru: Mylo

10, August, 2006

sony_mylo.jpg

Wahai para gadgetter, ada kabar baru nih: Sony meluncurkan gadget Wi-Fi untuk pengguna yang tak mau putus dengan Internet.

Gadget yang seukuran PlayStation Portable (PSP) itu diberi nama Mylo, kependekan dari My Life Online. Sony berharap, dengan makin maraknya jaringan nirkabel (wireless fidelity/Wi-Fi) di kampus-kampus, ruang publik, dan di dalam rumah, Mylo menjadi pilihan bagi mereka yang tak bisa terputus dengan Internet, asal terdapat akses Wi-Fi 802.11b.

Mylo diperkirakan mulai tersedia hanya di toko online Sony Amerika Serikat, September mendatang. Harga jualnya sekitar US$ 350 (sekitar Rp 3,2 juta). Menurut analis pasar, ini merupakan produk pertama dari jenis ini yang menggunakan jaringan nirkabel Wi-Fi. Mylo bukan ponsel, dan tak dikenai biaya langganan bulanan. Kalau ingin membuat panggilan telepon, mesti menggunakan fitur telepon via Internet (voice over Internet protocol).

Begitu juga jika mau berkirim surat elektronik pakai saja e-mail yang berbasis web. Tentu saja tidak bisa mendukung program e-mail perusahaan. Memang Mylo disasarkan Sony untuk pasar orang muda berusia 18-24 tahun.

Untuk memberi fitur-fitur komunikasi berbasis Internet yang andal, Sony bermitra dengan Yahoo Inc. dan Google untuk layanan pesan instan. Juga dalam penjajakan kerja sama dengan Time Warner Inc., penyedia pesan instan terkemuka America Online. Untuk layanan telepon via Internet, Sony menggandeng eBay Inc., pemilik layanan VoIP Skype.

Mylo tak sekadar personal communicator, tapi juga pemutar media. Ia dapat memainkan musik digital (format MP3, ATRAC, dan WMA). Selain itu, ia dapat menyimpan serta menayangkan foto (JPEG) dan video (MPEG 4) yang ada di memori flash berkapasitas satu gigabitanya atau kartu Memory Stick yang dijual terpisah. Layar Mylo berupa layar kristal cair berwarna dengan resolusi 320 x 240 piksel dan berukuran diagonal 2,4 inci.

[G!]

Setidaknya dibutuhkan waktu enam jam mengendarai mobil untuk mencapai Desa Buay Bahuga, Kabupaten Way Kanan, dari Kota Tanjung Karang, Provinsi Lampung.

Hampir separuh perjalanan harus dilewati dengan menempuh jalan sempit, berlubang, turun-naik, dan penuh tanjakan.

Di kanan-kiri jalan, kita bisa melihat betapa desa-desa di sepanjang jalan ini adalah desa-desa tertinggal.

Sebagian besar penduduknya mengandalkan sumber mata pencarian dari pertanian padi dan sawit. Sebagiannya lagi berdagang.

Melihat betapa terpencilnya kawasan ini, sungguh tak terbayangkan kalau di sebuah sekolah menengah umum di Desa Bahuga, kita dapat menikmati akses Internet pita lebar dengan throughput hingga 700 kilobita per detik!

Meskipun belum ada jaringan Telkom di sini, kita tetap bisa berkomunikasi dengan dunia luar menggunakan telepon nirkabel. Ya, wireless world sudah sampai di desa ini!

Semua itu dimungkinkan dengan pemanfaatan teknologi CDMA450 plus versi layanan generasi ketiga (3G) dengan 1xEV-DO-nya.

Setelah menggelar inisiatif Wireless Reach di kawasan pedesaan di Pacitan, Jawa Timur, pada April lalu, Qualcomm kembali meluncurkan program inisiatif Wireless Reach di Way Kanan, Lampung, 21 Juli lalu.

Bekerja sama dengan Sampoerna Telekom, Axesstel Inc., IndoNet, Departemen Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Qualcomm memperkenalkan teknologi nirkabel CDMA di frekuensi 450 MHz di Way Kanan, yang memberikan akses layanan berpita lebar nirkabel untuk suara dan data.

Program ini diawali dengan pembangunan laboratorium komputer yang dilengkapi oleh akses Internet di lima sekolah yang berada di Kabupaten Way Kanan, yaitu di Buay Bahuga, Negeri Besar, Negara Batin, Rebang Tangkas, dan Pakuan Ratu.

Selain itu, warung seluler juga sedang dibangun di 59 desa dan 5 sekolah menengah untuk menyediakan akses telekomunikasi yang lebih baik.

Sementara itu, di kota seperti di Jakarta, pengguna layanan bergerak saat ini baru bisa sebatas ngobrol soal 3G–baik WCDMA maupun 1xEV-DO. Tapi di sini, di desa terpencil ini, kenikmatan akses Internet berpita lebar berbasis 3G sudah bisa dinikmati dan bukan lagi sekadar wacana. Bravo!

Budi Putra

Koran Tempo, 30 Juli 2006 | e-culture

franklin_usb.jpg

Penerbit Franklin Electronic Publishers Inc melepas kamus bahasa Inggris yang berisi 300 ribu definisi kata serta 500 ribu sinonim dan antonim dari kamus Merriam-Webster dan Franklin Thesaurus. Namun, bukan berupa buku, melainkan berupa USB flash drive berkapasitas 256 megabita. USB flash drive ini hanya salah satu perangkat digital yang dikembangkan Franklin. Toko online-nya juga menjual sebuah kamus elektronik yang dilengkapi dengan pemutar MP3.

Secuil kecil batang flash drive ini siap dicolokkan ke PC untuk memberikan aplikasi-aplikasi yang agak berbeda dengan kamus online, seperti petunjuk tata bahasa, pengecek ejaan, pembanding dua kata yang memiliki pengucapan mirip, dan pencari jawaban puzzle.

Namun, peluncuran kamus berbentuk flash drive ini bisa dianggap terlambat. Mungkin berguna kalau muncul 15 tahun silam, tulis Gizmodo. Soalnya, di era saat ini, setiap aplikasi pengolah kata di komputer telah menyediakan pengecek ejaan.

Untungnya, Franklin juga memikirkan hal ini. Makanya, selain kamus, flash drive ini dilengkapi toko e-book dan fitur Newsstand, yang memungkinkan pengguna mencari buku serta majalah dan, jika dapat, lalu membelinya secara online. Link [G!]

Menelepon dengan Jari

3, July, 2006

ilustrasi-wristwatch-metamorfosis-ponsel-nttdocomo-co-jp.jpg
Buang headset telepon seluler Anda. Bahkan Anda juga tak perlu sebuah handset. Cukup tempelkan jari ke telinga: dengarlah atau bicaralah dengan orang yang menelepon Anda.

Itulah teknologi ponsel terbaru rancangan NTT DoCoMo, Jepang, yang dinamai Finger Whisper Phone. Pada awalnya prototipe telepon ini dipakai di pergelangan tangan seperti arloji. Namun, pada versi mutakhir seperti yang dipamerkan di ajang CommunicAsia, Singapura tempo hari, alat itu mengecil hingga sebesar cincin (Koran Tempo, 1 Juli 2006).

Media Computing Laboratory, pusat penelitian dan pengembangan DoCoMo, berhasil mengembangkan sebuah prototipe ponsel yang menggunakan anggota tubuh penggunanya sebagai media transmisi suara.

Ponsel ini menggunakan pergelangan tangan sebagai sarana mengkonversi gelombang suara digital menjadi vibrasi melalui tulang pergelangan tangan.

Hasilnya bisa didengar dengan cara mendekatkan jari ke telinga. Jari telunjuk dan jempol yang disentuhkan akan berfungsi sebagai tombol on/off untuk menerima atau mengakhiri panggilan telepon.

Transmisi suara melalui tulang dianggap lebih baik ketimbang melalui udara. Kualitas suara teknologi telepon bergerak terbaru itu diharapkan jauh lebih bagus ketimbang ponsel tradisional: tetap nyaman saat menerima panggilan di tengah kebisingan.

Selain berfungsi mengirim suara melalui pergelangan tangan dan jari ke telinga, metode itu mengkonversi suara pengguna yang dikirim balik melalui jari dan pergelangan tangan, kemudian ditangkap oleh mikrofon di ponsel yang disulap menjadi sebentuk arloji.

Ponsel itu memang sengaja dirancang sepraktis mungkin. Karena berukuran sangat mungil, agar tidak ribet, ponsel itu didesain tak memiliki keypad. Untuk membuat panggilan, pengguna hanya perlu mengucapkan nomor tujuan.

Jadi tibalah saatnya handset diganti dengan fingerset.

Selain orisinal, seperti diungkapkan analis Amanda Akien, ponsel–arloji dan ponsel–cincin ala Negeri Sakura itu itu merupakan “Konsep eksentrik lain yang pernah disumbangkan Jepang untuk Planet ini, setelah sumo, karaoke, sushi, dan geisha“.

Moshi moshi!

Budi Putra
Koran Tempo, 2 Juli 2006 | e-culture

Kemarin, putaran 16 besar Piala Dunia 2006 dimulai. Perhatian kita mulai terfokus pada tim-tim yang berjuang keras untuk maju ke babak berikutnya.

Siapa yang Anda jagokan? Tim mana pun favorit Anda, teruslah mengikuti perkembangannya lewat berbagai media: televisi, surat kabar, dan tentu saja Internet.

Nah, di Internet, Anda bisa memilih dan memilah sumber-sumber berita yang Anda perlukan. Pasalnya, di sini tersedia sekian banyak pilihan: mulai situs berita, portal, hingga blog yang bejibun banyaknya.

Blog? Media online berbasis web yang interaktif dan impresif itu dewasa ini makin digemari. Berawal hanya berupa catatan harian online pribadi, kini blog sudah merambah hampir seluruh lini: mulai sekadar catatan harian, kini blog sudah menjelma menjadi semacam media online profesional hingga blog korporat dan bisnis.

Karena itu, di antara ratusan situs berita yang gencar menginformasikan perhelatan Piala Dunia 2006, terselip blog yang juga mengabarkan informasi serupa.

Saya lebih sering melongok blog Piala Dunia 2006 ini dengan satu alasan: media ini memiliki dan menampilkan pendekatan yang khas dan spesifik. Tema dan entry-nya khas dan lebih berbasis pada komentar-komentar penonton perhelatan empat tahunan itu dan para pengakses blog sendiri.

Hebatnya lagi, sebagian besar blog ini diperbarui secara harian sehingga aktual dan baru. Memang belum secepat media-media mainstream, seperti kantor berita, surat kabar, dan situs berita, tapi karena peruntukan dan tujuannya berbeda, soal ini tidak terlalu mendesak untuk dipersoalkan.

Untuk yang berbahasa Inggris, saya sering menyambangi http://worldcupblog.org, sedangkan untuk yang berbahasa Indonesia saya suka http://jerman2006.wordpress.com yang cukup lengkap dan aktual.

Sebetulnya masih ada blog lain yang berbahasa Indonesia, yakni http://blogworldcup2006.blogspot.com dan http://pialadunia2006.blogspot.com. Tapi sayang, tidak senantiasa diperbarui.

Oh ya, mumpung kita lagi demam Jerman karena negara itu sedang menjadi tuan rumah, tak ada salahnya mencoba belajar Bahasa Jerman di blog http://syams.wordpress.com. Lumayan, bisa untuk mempelajari dasar-dasar dan istilah-istilah pentingnya.

Koran Tempo, 25 Juni 2006 | e-culture

Bagi Hartanto, sebut saja begitu, bekerja cerdas itu tidak sama dengan bekerja keras. Pengusaha muda di bidang komputer itu berpendapat efisiensi yang dipacu dengan pemilihan perangkat kerja yang tepat akan melahirkan hasil kerja yang optimal.

Sementara itu, orang yang bekerja keras, menurut dia, belum tentu hasilnya optimal bila tidak didukung oleh fasilitas yang cerdas. "Bekerja keras siang-malam bisa digantikan dengan bekerja dengan waktu yang terukur, tapi hasilnya justru lebih cepat dan akurat," ujar Hartanto.

Sejumlah perusahaan teknologi informasi menawarkan solusi kantor pintar (smart office) yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan dan jenis pekerjaan masing-masing.

"Solusi kantor pintar akan meningkatkan efisiensi dalam banyak hal, misalnya dalam hal waktu, biaya operasional, jumlah karyawan, dan tentu saja menghemat kebutuhan akan space ruangan kantor," ujarnya.

Salah satu perusahaan TI terkemuka, Hewlett Packard, menawarkan solusi Smart Office, yang diluncurkan beberapa tahun yang lalu, kini sudah merilisnya untuk sektor komersial di Indonesia.

Menurut data AMI-Partner, sektor komersial akan terus berlanjut menjadi segmen pasar yang paling tinggi tingkat perkembangannya di kawasan Asia Pasifik dan tingkat pertumbuhan diperkirakan mencapai 17,1 persen hingga 2008.

Portofolio solusi dari HP mencakup solusi keamanan, mobilitas, dan pengembangan fitur komunikasi membantu pelanggan memperoleh akses teknologi yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Solusi ini mengacu pada tiga prinsip utama: keamanan, konektivitas, dan ketersediaan.

Setiap kategori kantor pintar tersebut bisa diandalkan untuk lebih meningkatkan kinerja perusahaan dan memberi kepuasan terhadap pelanggan.

Itulah sebabnya, kini tak sedikit perusahaan yang berorientasi pada klien dan pelanggan, tak mau lagi pusing-pusing mencari kantor di lokasi-lokasi strategis yang jelas sewanya supermahal.

Kantornya bisa di mana saja, yang penting semua awaknya dilengkapi dengan perangkat kerja yang tepat.

Apalagi, faktanya, sebagian besar pelanggan lebih suka didatangi, bukannya mendatangi kantor yang menyediakan layanan terhadap mereka.

Jadi kenapa harus repot-repot?

Koran Tempo, 28 Mei 2006 | e-culture