Egadget-mobile-phone.jpgAkses jaringan berpita lebar memang jadi impian bagi pengguna teknologi yang hobi Internet, transfer data, dan multimedia. Kini konsumen sudah bisa menikmati akses Internet pita-lebar nirkabel di ponsel tanpa harus repot-repot mencari hotspot–sentra akses wireless fidelity (Wi-Fi) yang tak selalu gampang ditemukan. Kini Andalah yang jadi hotspot-nya.

Semua itu berkat teknologi evolution data optimized (EV-DO), evolusi teranyar dari teknologi seluler CDMA2000 1x. Layanan multimedia, seperti video streaming, video sharing, tele-conference, hingga mobile TV, akan dapat dinikmati dengan mudah di ponsel–semudah menggunakannya di laptop.

Di Indonesia, pengguna layanan seluler CDMA 1x akan segera menikmati layanan ini. Mobile-8 Telecom sudah meluncurkan layanan ini untuk wilayah Jakarta. Adapun Telkom (Flexi), Indosat (StarOne), dan Bakrie Telecom (Esia) juga segera meluncurkan layanan serupa.

Sejak versi Rilis-0 dengan kecepatan data maksimum 2.400 kilobita per detik (kbps), generasi ketiga dari jalur CDMA ini berkembang dengan cepat. EV-DO Revisi-A, misalnya, memiliki kecepatan maksimal 3.100 kbps dan EV-DO Revisi-B memiliki kecepatan maksimum mencapai 46 ribu kbps alias 46 megapita per detik!

Bandingkan dengan generasi teranyar jalur GSM: 3G W-CDMA/UMTS, hanya memiliki kecepatan maksimum 2.000 kbps, dan 3,5G high-speed downlink packet access (HSDPA) memiliki kecepatan maksimum 14.400 kbps. Pertarungan dua kubu ini makin seru, kan?

KUBU GSM:

GPRS
Standar: 2,5-G
Kecepatan maksimum: 160 kbps

EDGE
Standar: 2,75-G
Kecepatan maksimum: 384 kbps

W-CDMA/UMTS
Standar: 3-G
Kecepatan maksimum: 2.000 kbps

HSDPA
Standar: 3,5-G
Kecepatan maksimum 14.400 kbps

KUBU CDMA:

CDMA2000 1x
Standar: 2,75-G
Kecepatan maksimum: 153 kbps

CDMA 1x EV-DO Rel-0
Standar: 3-G
Kecepatan maksimum: 2.400 kbps

CDMA 1x EV-DO Rev-A
Standar: 3-G
Kecepatan maksimum: 3.100 kbps

CDMA 1x EV-DO Rev-B
Standar: 3-G
Kecepatan maksimum: 46.500 kbps

Advertisements

egadget-Ibm-Logo2.gif Ilmuwan IBM hari ini mengumumkan mereka telah menciptakan sebuah chipset kecil berbiaya rendah yang memungkinkan perangkat elektronik nirkabel mengirim dan menerima data sepuluh kali lebih cepat dari jaringan WiFi (wireless fidelity) tercanggih saat ini. Dengan menggunakan teknologi pembuatan chip IBM yang disebut silicon germanium, chipset ini mampu mengirim dan menerima informasi dalam spektrum radio yang lebih kecil, tidak berlisensi dan dapat mengangkut data dalam jumlah yang lebih besar. Ini merupakan keunggulan tersendiri karena format media digital yang padat data, seperti HDTV, kini semakin merebak. Beberapa perusahaan elektronik sedang berupaya untuk menelusuri potensinya, termasuk memasukkan chipset ini ke dalam produk-produk mereka sebelum akhir tahun ini.

Ketika Balon Jadi Hotspot

23, October, 2005

ERA akses Internet di mana-mana memang sudah di depan mata. Sejak ditemukannya akses Internet berpita lebar nirkabel berbasis Wi-Fi (wireless fidelity), sentra-sentra akses alias hotspot kini sudah bertebaran di tempat-tempat publik, khususnya di kota-kota besar di Indonesia.

Inilah teknologi dengan sinyal radio yang memancarkan koneksi Internet hingga radius seratus meter.

Jika peranti mungil ini ditempelkan pada modem dengan koneksi berpita lebar, semua komputer atau perangkat genggam di sekitarnya yang memiliki kemampuan Wi-Fi bakal bisa masuk ke Internet.

Teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b yang menggunakan spektrum 2,4 GHz mampu mentransmisikan sinyal sekuat 11 megabit per detik (Mbps). Belum lagi kehadiran dua standar baru, 802.11a dan 802.11g, yang makin mengundang decak kagum.

Teknologi 802.11a, yang menggunakan spektrum 5 GHz, memungkinkan transmisi hingga 54 Mbps. Sedangkan 802.11g, yang hanya menggunakan spektrum 2.4 GHz, mampu melakukan transfer data hingga dua kali lipat, 22 Mbps.

Sebagian besar hotspotaccess point yang berfungsi sebagai sumber akses nirkabel bagi orang yang berada di sekitarnya–terdapat di kafe, restoran, hotel, gedung perkantoran, dan bandara. Bahkan ada yang membuat hotspot sendiri di rumah.

Sebuah ide cemerlang yang baru saja dilakukan sejumlah peneliti dari Eropa berhasil membuat hotspot pada balon gas yang melayang di stratosfer dan dapat memancarkan akses hingga 1,25 gigabita per detik!

Untuk pertama kalinya, balon tanpa awak yang melayang pada ketinggian 24 ribu meter dan berisi gas helium 12 ribu meter kubik tersebut diuji sebagai wahana Internet selama beberapa jam.

Balon ini dilengkapi dengan dua sistem komunikasi: antena radio berdaya tinggi dan sebuah sistem komunikasi optik berkecepatan ekstratinggi.

Hebatnya lagi, sistem pengiriman data dari balon ini menggunakan teknologi berbasis protokol 802.11b–protokol yang tadinya hanya mampu memancarkan akses puluhan meter.
Wahana ini dikembangkan oleh Konsorsium Capanina, yang terdiri atas 14 lembaga akademik dan industri dari Uni Eropa.

Seperti yang dilaporkan New Scientist, mereka berharap, wahana ini mampu menyediakan komunikasi nirkabel di daerah bencana ataupun akses Internet murah bagi negara-negara berkembang.

Wi-Fi dari udara ini benar-benar telah menjadikan akses Internet sebagai “oksigen” bagi semua orang. (Koran Tempo, 23/10/2005)

Pindah Frekuensi, Apa Lagi Ini?

12, September, 2005

SEORANG sejawat yang menjadi operator telepon CDMA (code division multiple access) pernah berujar. “Menurut survei yang kami lakukan, pengguna layanan bergerak tidak terlalu memusingkan teknologi apa yang ada di belakang handset mereka, GSM atau CDMA, yang penting nyaman digunakan,” ujarnya.

Rekan saya itu mungkin benar, meski juga tak sepenuhnya. Pasalnya, teknologi ini masuk ke Tanah Air ketika pasar GSM (global system for mobile communications) sudah sangat matang.

CDMA200-1x mulai beroperasi dua tahun lalu–yang ditandai oleh hadirnya Telkom Flexi–ketika pengguna GSM sudah mencapai lebih 20 juta orang.

Saat ini saja, ketika pengguna CDMA baru mencapai 5 juta orang lebih–Flexi (3,7 juta orang), Mobile-8 (1 juta), Esia (300 ribu), dan StarOne (123 ribu)–GSM sudah melewati angka 30 juta orang.

Pengguna GSM juga sudah terbiasa gonta-ganti ponsel, kartu, dan ke mana pun pergi, ponselnya tetap bisa digunakan.

Lain halnya dengan CDMA. Kecuali Mobile-8 yang dapat lisensi sebagai operator seluler, layanan CDMA di bawah operator berlisensi fixed-wireless hanya bisa digunakan dalam satu kode area saja.

Sementara itu, operator gencar mempromosikan produknya dengan iming-iming murah, tapi tak cukup sosialisasi tentang teknologinya sendiri sehingga penggunalah yang harus bekerja keras untuk memahami teknologi ini.

Sekarang keruwetan itu masih ditambah lagi dengan keharusan pindah frekuensi bagi Flexi dan StarOne.

Kedua layanan tersebut di Jabotabek yang beroperasi di pita frekuensi 1.900 MHz–pada rentang 1920-1980 MHz–itu sudah harus minggir karena frekuensi tersebut akan digunakan untuk layanan generasi ketiga (3G) WCDMA/UMTS.

Jelas ini sebuah kelucuan–kalau tidak dikatakan blunder. Sudah jelas tidak boleh kenapa masih saja nekat menempatinya, sehingga akhirnya harus dibayar mahal dengan pindah frekuensi?

Lalu mau pindah ke mana? Tak ada jalan lain, pilihannya hanya satu: frekuensi 800 MHz. Tapi, masalahnya, frekuensi itu sudah dinaungi oleh Mobile-8 dan Esia. Dengan pertimbangan kesamaan lisensi, Flexi dan StarOne harus bisa membujuk Esia agar mau berbagi.

Taruhlah Esia mau. Tapi ada konsekuensinya. Seluruh handset 1.900 MHz layanan Flexi dan StarOne harus diganti jadi handset 800 MHz. Nah, siapakah yang harus menanggung semua ini?

Sekalipun akhirnya tidak ikut menanggung, tetap saja proses ini membuat pengguna merasa tak nyaman. Tampaknya pengguna layanan CDMA di Indonesia memang harus ekstrasabar…. (Koran Tempo, 11/9/2005)

INFORMASI mestinya bukan lagi barang mahal bagi semua orang, termasuk petani, nelayan, dan pedagang di pedesaan di pedalaman atau daerah terpencil lain. Karena itu, sarana telekomunikasi yang memadai akan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut.

Keberhasilan uji coba telepon berbasis protokol Internet di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pekan lalu, merupakan langkah tepat dalam menjadikan teknologi informasi sebagai perangkat penting dalam mengembangkan ekonomi jaringan.

Infrastruktur telekomunikasi berbasis Internet protokol yang dibangun PT Pasifik Satelit Nusantara ini bertujuan meningkatkan fasilitas telepon di daerah pedesaan. Setidaknya 43 ribu dari sekitar 72 ribu desa di Indonesia dilaporkan belum memiliki akses telekomunikasi.

Gagasan pengembangan ekonomi jaringan sangat strategis dalam memajukan kawasan pedesaan di mana rakyat bertindak sebagai pelaku usaha.

Intinya adalah pengembangan sistem jaringan berbasis teknologi informasi yang menghubungkan sentra-sentra kemandirian usaha masyarakat sehingga memungkinkan terbentuknya jaringan pasar domestik, regional, nasional, hingga internasional.

Jaringan ini dikembangkan agar anggota masyarakat siap bersaing dalam era globalisasi, pasar bebas, atau apalah namanya.

Namun, untuk mendapatkan sinergi maksimal antara teknologi dan masyarakat, sistem kepemilikan jaringan haruslah berbentuk koperasi yang bersifat publik. Jaringan tersebut dapat menerapkan sistem koperasi masyarakat konsumen terbuka, dengan konsumen sebagai pemilik layanan itu sendiri.

Sistem ini harus didukung jaringan telekomunikasi, jaringan pembiayaan, jaringan usaha dan perdagangan, jaringan advokasi usaha, serta jaringan sumber daya lainnya. Misalnya hasil riset, etalase inovasi baru, dan informasi pasar.

Pada akhirnya, ekonomi berbasis jaringan adalah suatu pendekatan perekonomian yang menghimpun para pelaku ekonomi, baik produsen, konsumen, penyedia jasa jaringan, content, maupun pihak-pihak lain dalam jaringan yang terhubung secara elektronik.

Bila akses terhadap berbagai sumber daya dilakukan secara bebas, berbagai ketidakseimbangan aliran informasi dan praktek-praktek disinformasi bisa diatasi.

Gagasan ini akan sangat membantu masyarakat dalam menghindari praktek-praktek disinformasi yang selama ini banyak merugikan petani.

Saban hari petani sudah mengetahui berapa harga sayur pagi ini di pasar kabupaten atau harga kopi di London; petani suatu daerah tidak akan menanam suatu komoditas pertanian jika sudah mengetahui petani lain sudah menggarapnya sehingga tak membuat harga jatuh ketika panen tiba; para pedagang juga sudah tahu daerah mana saja yang akan panen jeruk di akhir pekan ini.

Bila informasi sudah didapatkan dengan sangat murah oleh para petani, pedagang, dan masyarakat, tidak mustahil lagi dicapai kemajuan penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat di masa mendatang.

Agaknya gagasan yang sangat konkret soal pemanfaatan Internet bagi masyarakat ini perlu didukung, terutama oleh perusahaan-perusahaan teknologi informasi sehingga akan melahirkan sinergi yang amat luar biasa: akses Internet makin luas dan masyarakat langsung merasakan dampaknya terhadap peningkatan yang signifikan di bidang ekonomi.

Terkait dengan pemanfaatan Internet, inilah peluang yang paling relevan bagi negara seperti Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermukim di desa dengan mata pencarian terbesar di sektor pertanian. Sebuah langkah strategis dalam menyiapkan petani masa depan. –Koran Tempo, 08/05/2005

TERNYATA cukup berat jadi pelanggan layanan seluler di Indonesia. Saya mencatat ada beberapa keluhan dari para calon pengguna seluler, khususnya dari kalangan masyarakat biasa yang secara rata-rata tidak menguasai teknologi.

Pertama, ketika membeli telepon genggam baru. Sekadar menyalakan ponsel yang sudah disisipkan kartu SIM, tentulah perkara mudah. Mulai mengirim dan menerima pesan singkat (SMS) juga tak terlalu sulit.

Masalah baru muncul ketika si pengguna ingin mengirimkan pesan multimedia (MMS). Jangan harap akan semudah SMS. Ponsel merek apa pun, tak ada yang langsung bisa menjalankan MMS dan GPRS tanpa disetel terlebih dahulu.

Setelannya pun ada dua. Setelan MMS dan setelan GPRS. Semua ini harus dilakukan oleh konsumen sendiri dengan terlebih dahulu mencari tahu nomor layanan operator.

Setelah nomor kontak operator diperoleh, pekerjaan panjang masih menunggu. Apakah Anda menginginkan setelan ini dilakukan OTA (over the air) atau manual? Yang pertama cukup mengetikkan jenis ponsel dan kirim ke nomor tertentu, meskipun prosesnya paling cepat 1 x 24 jam.

Jika ponsel Anda adalah keluaran termutakhir, dan jika operator belum sempat mengetes ponsel tersebut, alhasil setelan OTA tidak bakalan jalan. Anda pasti diminta melakukan setelan manual dengan mengikuti parameter yang diberikan operator.

Jika semuanya berjalan dengan lancar, MMS dari ponsel Anda siap dikirim.

Apakah masalahnya selesai? Belum, saudara-saudara. Jika ponsel penerima belum berkemampuan MMS dan GPRS, kiriman Anda akan mental, pending, failed, atau apalah istilahnya.

Belum lagi soal kapasitas jaringan seluler di Indonesia yang masih belum memadai, tidak jarang kiriman MMS gagal atau mengalami delay sekian jam (yang tidak pernah delay adalah tagihannya).

Masalah kedua, ketika Anda ingin menikmati akses Internet di komputer pribadi seperti PC atau laptop. Pertanyaan yang paling sering muncul dari seorang pengguna: bagaimana caranya?

Ia harus tanya kiri-kanan dulu, atau berinisiatif menelisiknya di Internet. Ada dua cara: menggunakan kabel data yang akan menghubungkan ponsel dengan PC atau menggunakan koneksi nirkabel bluetooth.

Kalau ia sudah memiliki salah satunya, pekerjaan berikutnya adalah membuat setelan koneksi Internet di PC. Langkah-langkah dan parameter setelan harus diminta dulu ke operator.

Bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan komputer, memasukkan setelan semacam ini mungkin tidak masalah. Tapi bagi yang tidak terbiasa — misalnya hanya menggunakan komputer sekadar untuk mengetik dan jarang mengotak-atiknya — ini adalah pekerjaan yang sulit, membosankan dan bahkan menyebalkan.

Jika setelannya sudah sukses, dan akses Internet sudah jalan dengan wajar, mungkin Anda sudah bisa bernafas sedikit lega.

Tapi apakah urusan Anda selesai? Ternyata belum. Masih ada pekerjaan Anda berikutnya. Anda harus bisa menghitung berapa besar kapasitas akses GPRS yang Anda pakai berinternet.

Nyatanya memang tidak gampang. Operator seluler menetapkan unit penghitungannya berbasis kilobytes per second (kbps). Contoh tarif-tarif GPRS di Indonesia: Rp10/kbps, Rp15/kbps, Rp25/kbps dan Rp30/kbps.

Teman saya langsung berteriak: “Gimana sih cara menghitungnya? Kalau membuka halaman depan Yahoo misalnya, itu berapa kbps sih? Membuka e-mail di Outlook berapa kbps?”

Di sinilah uniknya operator seluler di Indonesia. Yang ngerti hitungan-hitungan ini cuma mereka, sementara penggunanya pusing tujuh keliling.

Padahal tarif flat yang pernah diterapkan salah satu operator sebenarnya adalah ide yang baik.

Sebenarnya ide yang lumayan adalah unit penghitungan ala TelkomNet Instan. Penghitungannya sederhana saja: Rp9000 per jam. Mudah sekali, bukan? Menghitung jam tentu lebih mudah dibanding kilobytes.

Operator seluler sebaiknya mencari solusi yang praktis dan ramah, mulai dari setelan MMS, GPRS, PC hingga unit tarifnya.

Bukankah sebagai penjual para operator mestinya memberikan kenyamanan kepada konsumen, bukannya membebani mereka urusan macam-macam? (KT 241004)