TANPA disadari kita mulai sudah memasuki era digital. Kita mungkin belum memiliki sejumlah perangkat digital yang canggih, tapi setidaknya kita sudah lama meninggalkan sejumlah aktivitas yang sudah usang.

Menyingkirkan album foto konvensional misalnya. Menaruh foto keluarga di desktop komputer di kantor, memasang foto-foto kenangan di galeri digital gratisan sejumlah situs web atau memajang foto anak di wallpaper di telepon genggam.

Anda tentu sudah lama sekali tidak mengirim kartupos, bukan? Jika sekian tahun lalu, ketika sedang berada di luar negeri, Anda sering tergopoh-gopoh ke kantor pos setempat hanya mencari kartupos bergambar obyek wisata ataupun landmark negara setempat dan mengirimkannya untuk para sejawat Anda di tanah air – mungkin sekadar kangen, atau sekadar pamer kalau lagi berada di luar negeri.

Apa yang terjadi? Anda sudah kembali ke tanah air dan sudah masuk kerja lagi ketika kartupos itu baru sampai ke alamat tujuan! “Ini kamu kirim dari sana, atau barusan kamu taruh di mejaku?” begitu mungkin ledek teman-teman.

Penggunaan kartupos tradisional kini sudah digantikan oleh kartupos digital macam layanan Bluemountain, termasuk kartu ucapan selamat Lebaran atau Tahun Baru.

Menggunakan kartupos untuk kuis dan sayembara berhadiah pun sudah mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pesan singkat (short message service) yang jauh lebih praktis dan cepat.

Masihkah Anda ingat kapan terakhir Anda mengirim uang lewat wesel-pos? ATM dan mobile banking telah berhasil menyingkirkan semua itu dari hidup Anda.

Anda juga tak perlu antri hanya untuk membayar tagihan telepon, listrik atau biaya pendidikan. Anda cukup menggerakkan jari-jari Anda di atas keypad ponsel untuk melakukannya.

Lalu, kapankah terakhir Anda mengirim telegram? Masihkah ingatkah Anda bagaimana cara mengirimkannya?

Sekali-dua mungkin Anda masih mengirim surat via pos. Surat elektronik yang murah, cepat, praktis, egaliter, personal dan tepat sasaran, membuat surat tradisional sudah hampir kehilangan kekuatan dan pesonanya. Anggapan bahwa tulisan tangan lebih menunjukkan karakter dan kepribadian itu adalah soal lain.

Bertumpuk-tumpuk kertas dokumen, kertas kerja, makalah, diktat, bahkan naskah buku, tak perlu lagi memenuhi tas Anda, tapi sudah bisa digantikan dengan cara menyimpannya ke dalam media penyimpan mungil dan portabel macam flash drive. Atau, Anda juga bisa menyimpannya di laci virtual macam di server Internet.

Akibatnya, penggunaan kertas juga semakin berkurang. Paperless society, sebuah masyarakat tanpa kertas, cepat atau lambat, akan terwujud.

Jadi Anda tak perlu merasa berkecil hati jika belum memiliki gadget
andalan, smart phone, atau smart home saat ini. Jika Anda telah
mulai meninggalkan sekian banyak aktivitas tradisional, sesungguhnya Anda telah, seperti judul buku Nicholas Negroponte, menjadi digital.

Tapi bagaimana halnya dengan sebagian orang yang terkesan masih setengah- setengah atau ragu-ragu untuk menjadi digital? Tidak ada masalah. Menurut saya, itu hanyalah masalah waktu saja.

Soalnya memang masih ada orang yang lebih familiar membaca naskah hasil cetakan (print-out) ketimbang format digital. Masih ada orang yang sudah mengirim e-mail tetapi tetap menyusulkan faksimili atau surat via pos sebagai cadangan.

Tidak masalah. Hal itu adalah bagian dari proses menuju dunia serba digital. Tapi saya melihat fenomena tersebut masih wajar dan logis. Pemahaman terhadap perubahan menjadi digital tentulah bukan perkara gampang.

Yang tidak wajar, atau malah sangat lucu, justru fenomena berikut ini: Anda akan menemukan sebuah fenomena menarik: biaya mencetak foto digital jauh lebih mahal ketimbang mencetak film negatif dari kamera biasa! Umpamanya, biaya cetak foto digital 4R tarifnya Rp2000 per buah, sedangkan cetak film negatif Rp1750 per buah.

Coba bayangkan, di mana logikanya? Apakah orang akan dipaksa untuk kembali menggunakan kamera biasa, membeli rol film, mencuci dan mencetaknya?

Inilah gaya hidup digital ala negara berkembang.

Solusinya ada dua: Pertama, jika semakin banyak studio foto yang memiliki perangkat teknologi pencetakan digital ini, monopoli tarif akan bisa teratasi.

Jelas, segmen yang mereka bidik adalah orang yang setengah-setengah masuk ke dunia digital: yang telah memilih membuat foto digital, tapi tetap ingin mencetaknya.

Kedua, memperkuat keyakinan bahwa aktifitas digital mestinya pelan-pelan mulai meninggalkan aktivitas tradisional yang membutuhkan banyak kertas.

Mulailah hidup cerdas dan hemat ala digital sehingga kita tak perlu lagi, misalnya, mengutuki biaya cetak digital yang mahal. (KT 311004)

Advertisements

HINGGA awal 1990-an, pemutar musik walkman — istilah generik yang bermula dari produk Sony — masih populer di kalangan penikmat musik di Indonesia.

Yang menjadi masalah adalah kualitas musik dan kasetnya sendiri. Lebih jelek dari kualitas kaset yang diputar pada compo, betotan bass kadang membuat gendang telinga kita seperti digedor-gedor dengan kejam.

Kasetnya sendiri juga sebuah persoalan besar. Berbasis pita dengan dua sisi yang harus dibolak-balik, kadang kita merasa tidak sabaran kalau harus mengulang sebuah lagu. Belum lagi ada kekhawatiran kalau sebuah kaset sering di-rewind atau di-forward, akan memperburuk kualitas kaset — yang sudah buruk.

Tak ada seorang pun di kalangan industri kaset yang berani bertaruh kalau kaset adalah masa depan industri musik.

Karenanya, kemunculan cakram padat (CD) audio membuat secercah harapan: dengan pemutar musik digital, selain kualitas suaranya jauh lebih bening, penggunaannya pun sangat praktis. Mengulang lagu, memajukan, menghentikan sementara, melompat ke lagu yang lain, bisa dilakukan dengan hanya satu sentuhan pada tombol.

Seiring dengan maraknya penggunaan CD pada pemutar musik digital rumahan, walkman versi CD pun bermunculan. Namanya discman, istilah generik yang masih merupakan anugerah dari Sony.

Saya membeli discman Sony pada pertengahan 1996 ketika berada di Tokyo, Jepang. Harganya 12.000 yen (Rp 264 ribu dengan kurs 1 yen = Rp 22) waktu itu, tidak termasuk CD Celine Dion (Falling Into You) dan Matsuda Seiko (Anata ni Aitakute).

Suara yang dihasilkan pemutar portable sebesar CD itu memang bening. Namun, masalahnya tetap ada. Dengan durasi kemampuan baterai yang relatif pendek, kenyamanan menikmati musik sambil tetap mobile menjadi terusik.

Belum lagi karena lagu dalam CD yang cuma maksimal 20 judul, tentu akan jadi membosankan kalau kita hanya menikmati lagu yang sama berulang-ulang. Selain itu, menggonta-ganti CD pada Discman kadang juga dirasakan agak ribet.

Kendala ini kemudian bisa teratasi ketika sejak awal tahun 2000, format musik MP3, muncul menggoncang dunia. Sebuah CD bisa berisi hingga 300 judul lagu. Namun, format musik ini tidak direstui oleh kalangan industri musik, karena hanya dengan software macam Napster dan Kazaa, semua orang bisa men-download MP3 dari Internet ke PC-nya.

Untuk keluar dari krisis pembajakan MP3 ini, Apple Computer menawarkan sebuah warung musik digital — bernama iTunes — di mana setiap orang bisa men-download lagu apa saja setelah membayar sejumlah uang terlebih dahulu. Dengan hanya satu klik, pengguna internet dapat dengan mudah men-download lagu.

Satu kali download lagu, pengguna dikenakan biaya US$ 0,99 (99 sen dolar). Setelah di-download, lagu itu dapat disalin ke tiga komputer, sejumlah pemutar portable seperti iPod — dan sejumlah pemutar lainnya yang kini bermunculan menyaingi iPod — atau dipindahkan ke dalam maksimal 10 keping cakram padat.

Dari setiap lagu yang dibeli oleh pengguna, Apple membayarkan royalti sebesar US$ 0,65 (65 sen dolar) kepada pemilik lagu. Inilah yang membedakan iTunes dengan layanan musik bajakan seperti KaZaA.

Tak salah lagi, iPod menjadi sangat terkenal. Hampir empat juta unit iPod sudah terjual di dunia. Kesuksesan ini membuat Apple juga meluncurkan iPod mini, yang kini juga sudah masuk ke Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya sempat mencoba sebuah iPod mini. Berkapasitas 4 GB, iPod mini bisa menyimpan hingga 1.000 judul lagu. Layarnya cukup cerah, tajam, namun tetap sejuk di mata. Juga tidak banyak tombol yang memusingkan. Teknologi Click Wheel yang intuitif membuat sentuhan jari kita bisa sangat fungsional memilih lagu.

Dengan kualitas lebih bagus dibanding MP3 — seolah-olah ada sebuah konser kolosal dalam kepala kita — membawa-bawa iPod memang mengasyikkan.

Kemampuan baterainya juga relatif panjang — hingga 10 jam, membuat Anda bisa menikmati lagu-lagu di iPod secara nonstop, bahkan selama Anda tidur. Artinya, Anda bebas memilih soundtrack apa saja untuk mimpi Anda.

Dan ketika terbangun, suara lirih Audy, senandung Rio Febrian atau alunan Peter Pan, masih tetap bergema di telinga. 17/10/2004

ADA pertanyaan yang tidak selalu bisa saya jawab dengan mudah. Pertanyaan itu sebetulnya sederhana saja: “Lebih bagus mana GSM atau CDMA ponsel? Saya sudah punya ponsel GSM, apakah beralih ke CDMA sebuah ide yang baik? Atau memiliki kedua-duanya sekaligus?”

Sebelum menjawabnya, mungkin ada baiknya kita telisik dulu seperti apa dua teknologi telekomunikasi bergerak tersebut. Ternyata, pilihan teknologi juga dipengaruhi oleh berbagai macam situasi dan kebutuhan.

Mari kita longok dulu GSM (Global System for Mobile Communications). Teknologi yang berbasis Time Division Multiple Access (TDMA) ini adalah sebuah teknologi digital yang memecah-mecah transmisi menjadi paket (burst) lebih kecil berdasarkan waktu dan menyusun kembali informasi-informasi tersebut pada saat penerimaan sehingga bisa dipahami oleh penggunanya.

Namun, CDMA (Code Division Multiple Access) sendiri merupakan metode yang paling menarik. Sistem ini tak punya saluran, tapi mengubah setiap panggilan menjadi kode-kode unik. Pada akhir penerimaan sinyal, informasi dari urutan kode dikirimkan dan memungkinkan sinyal dapat diekstrak dan direkonstruksi kembali.

Sejauh ini, sistem CDMA merupakan teknologi terkini di pasar seluler. Dari sisi teknis, sistem CDMA bisa mendongkrak kualitasnya di atas kapasitas TDMA dan GSM.

Selain itu, teknologi CDMA dikenal unggul, khususnya CDMA 20001x yang kini mulai marak di Indonesia, terutama terletak pada kejernihan suara dan kecepatan transfer data. Sementara, kelebihan GSM terutama terletak pada kemampuan roaming dan luasnya penggunaan teknologi ini.

Menurut data akhir 2003, pengguna GSM global tercatat 863,6 juta orang sedangkan pengguna CDMA global baru mencapai 174 juta orang. Lebih dari itu, sejak dilahirkan, teknologi GSM sudah disepakati sebagai sebuah teknologi open standard, artinya pabrikan manapun dapat dengan mudah merakitnya tanpa membayar lisensi satu sen pun.

Berbeda dengan GSM, teknologi CDMA cenderung menganut close-standard, sehingga siapa saja yang ingin memproduksi ponsel CDMA, harus membayar lisensi kepada si pemegang lisensi, Qualcom.

Ini juga bisa menjelaskan mengapa sejumlah vendor ponsel terkemuka tidak masuk ke bisnis ini, misalnya, Siemens dan Sony Ericcsson. Mungkin keduanya menganggap CDMA tidak feasible.

Coba kita lihat situasinya di Indonesia. GSM sudah masuk sejak 1996 dan penggunanya sekarang sudah lebih dari 25 juta orang. Tak heran, BTS-BTS operator GSM sudah menyebar di seluruh pelosok di Indonesia. Ponsel-ponsel GSM yang masuk pun sangat banyak pilihannya.

Yang menarik, sejak tahun lalu, pasar teknologi bergerak di Indonesia diramaikan oleh pemain baru: operator CDMA 20001x. Sudah ada empat pemain di sini: Flexi, Esia, Fren dan Star-One. Kecuali Fren yang lisensinya adalah seluler, layanan lainnya berlisensi fix-wireless (telepon tetap nirkabel), sehingga tidak bisa dibawa-bawa ke luar kota.

Sekarang, pilihannya tergantung pada kebutuhan masing-masing. Kalau Anda sering mobile ke luar kota di seluruh wilayah Indonesia, mempertahankan nomor GSM tentu sangat tepat. Fasilitas roaming internasionalnya pun jauh lebih praktis dan mudah.

Sebaliknya, jika aktivitas Anda hanya dalam kota, memilih ponsel CDMA tentu menjadi pilihan menarik. Selain Anda bisa bertelepon dengan murah dan jernih, ponsel CDMA juga bisa diandalkan sebagai modem untuk akses Internet dengan kecepatan lumayan tinggi — lebih cepat dibanding GSM/GPRS.

Nah, bagaimana jika aktivitas Anda di dalam dan luar kota dengan frekuensi yang relatif sama? Mengorbankan nomor GSM tentu tidak mungkin — apalagi nomor tersebut sudah tersebar ke banyak teman dan kenalan bisnis — sementara nomor CDMA juga Anda perlukan.

Jangan khawatir, Anda masih punya pilihan ketiga: Golput. Anda bisa mencoblos eh, memilih kedua-duanya. Apalagi sekarang, memiliki dua atau tiga ponsel sekaligus sudah menjadi hal yang biasa.

Namun, satu hal yang cukup jelas: mengingat GSM lebih awal masuk ke Indonesia, wajar bila penggunanya jauh lebih banyak. Layanan CDMA harus rela menjadi yang kedua, bahkan ketiga. (KT 101004)

Gagasan awalnya adalah bagaimana semua orang–tanpa terkecuali–bisa menikmati akses internet, jaringan pintar yang mengubah dunia itu, dengan gratis.

“Internet untuk rakyat jelata,” begitulah cita-citanya. Berangkat dari gagasan itu, ribuan penggila teknologi ini bergotong-royong mengutak-atik hardware, software dan antena sendiri untuk menggelar sentra akses internet berpita lebar nirkabel Wi-Fi (wireless fidelity) mereka.

Dimotori para pelopor macam Rob Flickenger di San Francisco dan Anthony Townsend di New York, mereka merakit sentra Wi-Fi berbasis Linux yang murah meriah, lantaran perlengkapan Wi-Fi yang tersedia masih mahal.

Tujuannya mulia: mereka menginginkan masyarakat di mana pun bisa menikmati Internet berpita lebar dan berkecepatan tinggi dari jaringan dengan cuma-cuma.

Teknologi ini memang dilahirkan oleh komunitas “rakyat jelata” sebagai buah dari gerakan antikomersialisasi Internet.

Romantisme jalanan itu akhirnya menemukan momentumnya ketika mereka menemukan bahwa sinyal radio bisa digunakan untuk memancarkan akses Internet dan melahirkan jabang bayi Wi-Fi.

Apa itu Wi-Fi? Inilah teknologi dengan sinyal radio yang memancarkan koneksi Internet berkecepatan tinggi hingga radius 100 meter.

Teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b yang menggunakan spektrum 2,4 GHz mampu mentransmisikan sinyal sekuat 11 megabit per detik (Mbps).

Sementara teknologi 802.11a yang menggunakan spektrum 5 GHz, memungkinkan transmisi hingga 54 Mbps. Sedangkan 802.11g, yang hanya menggunakan spektrum 2.4 GHz, mampu melakukan transfer data hingga dua kali lipat, 22 Mbps.

Jika peranti mungil ini ditempelkan pada modem dengan koneksi berpita lebar, semua komputer yang memiliki penerima Wi-Fi di sekitarnya bakal kecipratan akses Internet.

Tak peduli modem itu berada di ruang kantor sebelah, kamar tetangga, atau rumah di seberang jalan; juga tak peduli apakah si pemilik modem itu mengizinkan akses Internetnya dinikmati orang lain tanpa izin. Ini memang sebuah metode canggih yang didasari gagasan liar yang cerdas.

Karenanya, di kedai-kedai kopi, resto, atau ruang tunggu bandara, Anda tak perlu sibuk mencari sambungan telepon hanya untuk mendapatkan akses Internet di laptop Anda. Lupakan saja kabel-kabel itu. Lupakan pula warung Internet.

Bagi para inisiatornya, Wi-Fi adalah bagian dari upaya memperjuangkan akses internet sebagai salah satu bentuk “hak asasi manusia”.

Sebaliknya, bagi kalangan bisnis, Wi-Fi tetaplah menjadi tambang uang baru yang harus terus-menerus dikeruk. Pemilik resto dan kafe misalnya menjadikan hot spot sebagai magnet bagi pengunjung untuk menikmati sajian mereka sambil berinternet.

Aspek bisnis Wi-Fi memang sangat menggiurkan. Bagi penyedia jasa Wi-Fi, tentulah sulit untuk tidak mengutip bayaran dari para penggunanya. Sebab, teknologi ini juga tak bisa dikatakan murah. Sementara para penggunanya juga tak keberatan membayar karena aksesnya memang yahud.

Namun selain sisi bisnis, secara simultan sisi sosialnya mestinya juga menjadi perhatian semua. Mungkin ke depan akan muncul semakin banyak gerakan yang memungkinkan Wi-Fi bisa diakses semua orang.

Cuma di Indonesia kendalanya cukup berat. Bukannya mendukung atau memberikan subsidi agar Wi-Fi berkembang di negeri ini, pemerintah malah memberlakukan pajak kepada siapa saja yang menggunakan spektrum 2,4 GHz–spektrum teknologi standar Wi-Fi alias 802.11b.

Artinya apa? Wi-Fi sebagai akses bagi kalangan rakyat jelata semakin jauh dan menjauh. Boro-boro dapat internet gratis jika aktivis pengelolanya keburu bangkrut karena dipajaki pemerintah! (KT 281104)

TERNYATA cukup berat jadi pelanggan layanan seluler di Indonesia. Saya mencatat ada beberapa keluhan dari para calon pengguna seluler, khususnya dari kalangan masyarakat biasa yang secara rata-rata tidak menguasai teknologi.

Pertama, ketika membeli telepon genggam baru. Sekadar menyalakan ponsel yang sudah disisipkan kartu SIM, tentulah perkara mudah. Mulai mengirim dan menerima pesan singkat (SMS) juga tak terlalu sulit.

Masalah baru muncul ketika si pengguna ingin mengirimkan pesan multimedia (MMS). Jangan harap akan semudah SMS. Ponsel merek apa pun, tak ada yang langsung bisa menjalankan MMS dan GPRS tanpa disetel terlebih dahulu.

Setelannya pun ada dua. Setelan MMS dan setelan GPRS. Semua ini harus dilakukan oleh konsumen sendiri dengan terlebih dahulu mencari tahu nomor layanan operator.

Setelah nomor kontak operator diperoleh, pekerjaan panjang masih menunggu. Apakah Anda menginginkan setelan ini dilakukan OTA (over the air) atau manual? Yang pertama cukup mengetikkan jenis ponsel dan kirim ke nomor tertentu, meskipun prosesnya paling cepat 1 x 24 jam.

Jika ponsel Anda adalah keluaran termutakhir, dan jika operator belum sempat mengetes ponsel tersebut, alhasil setelan OTA tidak bakalan jalan. Anda pasti diminta melakukan setelan manual dengan mengikuti parameter yang diberikan operator.

Jika semuanya berjalan dengan lancar, MMS dari ponsel Anda siap dikirim.

Apakah masalahnya selesai? Belum, saudara-saudara. Jika ponsel penerima belum berkemampuan MMS dan GPRS, kiriman Anda akan mental, pending, failed, atau apalah istilahnya.

Belum lagi soal kapasitas jaringan seluler di Indonesia yang masih belum memadai, tidak jarang kiriman MMS gagal atau mengalami delay sekian jam (yang tidak pernah delay adalah tagihannya).

Masalah kedua, ketika Anda ingin menikmati akses Internet di komputer pribadi seperti PC atau laptop. Pertanyaan yang paling sering muncul dari seorang pengguna: bagaimana caranya?

Ia harus tanya kiri-kanan dulu, atau berinisiatif menelisiknya di Internet. Ada dua cara: menggunakan kabel data yang akan menghubungkan ponsel dengan PC atau menggunakan koneksi nirkabel bluetooth.

Kalau ia sudah memiliki salah satunya, pekerjaan berikutnya adalah membuat setelan koneksi Internet di PC. Langkah-langkah dan parameter setelan harus diminta dulu ke operator.

Bagi orang yang sudah terbiasa menggunakan komputer, memasukkan setelan semacam ini mungkin tidak masalah. Tapi bagi yang tidak terbiasa — misalnya hanya menggunakan komputer sekadar untuk mengetik dan jarang mengotak-atiknya — ini adalah pekerjaan yang sulit, membosankan dan bahkan menyebalkan.

Jika setelannya sudah sukses, dan akses Internet sudah jalan dengan wajar, mungkin Anda sudah bisa bernafas sedikit lega.

Tapi apakah urusan Anda selesai? Ternyata belum. Masih ada pekerjaan Anda berikutnya. Anda harus bisa menghitung berapa besar kapasitas akses GPRS yang Anda pakai berinternet.

Nyatanya memang tidak gampang. Operator seluler menetapkan unit penghitungannya berbasis kilobytes per second (kbps). Contoh tarif-tarif GPRS di Indonesia: Rp10/kbps, Rp15/kbps, Rp25/kbps dan Rp30/kbps.

Teman saya langsung berteriak: “Gimana sih cara menghitungnya? Kalau membuka halaman depan Yahoo misalnya, itu berapa kbps sih? Membuka e-mail di Outlook berapa kbps?”

Di sinilah uniknya operator seluler di Indonesia. Yang ngerti hitungan-hitungan ini cuma mereka, sementara penggunanya pusing tujuh keliling.

Padahal tarif flat yang pernah diterapkan salah satu operator sebenarnya adalah ide yang baik.

Sebenarnya ide yang lumayan adalah unit penghitungan ala TelkomNet Instan. Penghitungannya sederhana saja: Rp9000 per jam. Mudah sekali, bukan? Menghitung jam tentu lebih mudah dibanding kilobytes.

Operator seluler sebaiknya mencari solusi yang praktis dan ramah, mulai dari setelan MMS, GPRS, PC hingga unit tarifnya.

Bukankah sebagai penjual para operator mestinya memberikan kenyamanan kepada konsumen, bukannya membebani mereka urusan macam-macam? (KT 241004)

SEORANG teman di Yogyakarta pernah melontarkan celutukan menarik soal teknologi wireless alias tanpa kabel. Menurut dia, teknologi nirkabel, sebetulnya sangat religius.

“Kalau masih menggunakan kabel, sama saja seperti ketika kita berhubungan dengan Tuhan masih memerlukan perantara seperti pemuka agama, dukun, dan lain-lain,” ujarnya. “Lain halnya dengan wireless. Kita cukup langsung saja berhubungan dengan Tuhan dengan cara berdoa.”

Ia tentu tidak sedang berfatwa. Tapi setidaknya, imajinasi uniknya itu menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berada di “mazhab” nirkabel.

Perlahan tapi pasti, teknologi yang kita gunakan sehari-hari memang sudah mulai mengarah pada nirkabel. Mulai dari telepon, mouse hingga modem kini tak lagi menggunakan kabel.

Diawali dengan teknologi inframerah yang mampu membuat mesin-mesin bisa saling berkomunikasi, kini juga diramaikan oleh teknologi Bluetooth yang sangat populer di kalangan pengguna telepon seluler. Pesona Wi-Fi melengkapi deretan kemajuan itu.

Bukan komputer pribadi, tapi teknologi seluler-lah yang mendorong kita segera masuk ke era nirkabel. Telepon seluler kini sudah jadi semacam oksigen, dibutuhkan hampir oleh setiap orang. Perkembangan teknologi bergerak ini memang cepat sekali, lebih cepat dan lebih luas ketimbang penggunaan PC.

Lihatlah evolusinya yang relatif cepat dan proyeksinya ke depan pun sudah kian terang benderang.

Sistem telepon seluler yang umumnya digunakan sekarang adalah teknologi generasi 2,5G dan 3G. Teknologi ini masih akan berkembang dan disempurnakan. Setidaknya hingga 2010, sudah ada peta jalan yang disiapkan.

Generasi pertama (1G) telepon seluler adalah analog. Generasi pertama seperti standar AMPS masih populer di Amerika Serikat dan NMT di negara-negara Skandinavia, tapi jarang digunakan di negara lain.

Generasi kedua (2G) yang paling populer adalah GSM (Global System for Mobile Communication), tapi ada juga beberapa sistem lain yang juga digunakan – seperti TDMA (Time Division Multiple Access) dan CDMA (Code Division Multiple Access) — di berbagai belahan dunia.

Sebagian besar operator meningkatkan kapasitas jaringan 2G mereka menjadi akses kecepatan yang lebih tinggi. Berbeda dengan WAP (Wireless Application Protocol), GPRS (General Packet Radio Service) muncul sebagai primadona teknologi 2,5G.

Selanjutnya, ada EDGE yang dianggap sebagai langkah awal menuju 3G. Generasi ketiga ini mencoba menghadirkan berbagai layanan terdepan, termasuk kecepatan data hingga 2 Mbps dan video-conference.

Jaringan generasi keempat (4G) yang masih di laboratorium ini, penggunaannya ditargetkan pada awal 2010. Sistem ini akan melayani kecepatan data hingga 100 Mbps, cukuplah untuk telepresence.

Seorang editor senior majalah Network yang berbasis di San Francisco, Andy Dornan, menyusun sebuah prediksi bagaimana teknologi nirkabel berkembang.

Pada 2005, ia memperkirakan akan muncul standar LAN nirkabel di komputer: Setiap komputer baru akan memiliki koneksi LAN nirkabel built-in, yang memungkinkan penggunaan jaringan yang simpel.

Percakapan dengan komputer akan bisa dilakukan pada 2007. Internet di Mars diperkirakan sudah ada pada 2008. Dua tahun kemudian, 2010, akan sangat sulit menemukan perkakas-perkakas rumah tangga yang tak memiliki koneksi Internet built-in.

Setelah itu akan muncul mobil berpengendali jarak jauh, holophone di mana telepon seluler akan mampu memproyeksikan gambar-gambar bergerak tiga dimensi. Pada 2025, pengenalan pikiran akan menjadi bentuk input yang standar.

Lima tahun kemudian, 2030, diperkirakan manusia akan memiliki perangkat keras data nirkabel di otaknya, yang memungkinkan komunikasi telepati instan.

Kegiatan belajar misalnya, akan menjadi kegiatan yang usang sebab jaringan-jaringan berkecepatan tinggi akan memungkinkan orang untuk mengakses seluruh pengetahuan orang lainnya semudah ia mengingat apa yang ada di kepalanya sendiri.

Bukan manusia, ternyata teknologi-lah yang mendekati manusia. Sebuah persahabatan era digital. Kalau kita mencoba menjauh, kitalah yang akan rugi. Sebab teknologi hanyalah alat — yang akan membantu dan mempermudah kita — dan bukanlah tujuan. (KT 031004)