Alasan Memilih Teknologi

14, August, 2006

Dua hari lalu saya ngobrol dengan beberapa orang kolega soal akan diluncurkannya layanan telekomunikasi generasi ketiga alias 3G di Indonesia. Salah satu operator GSM sudah memastikan akan meluncurkan layanan 3G-nya satu-dua bulan ini.

Di sinilah menariknya: secara komersial, layanan 3G baru akan diluncurkan. Tapi Anda tentu tahu bahwa telepon seluler yang berkemampuan 3G sudah dijual–dan laris–sejak dua tahun lalu di Indonesia!
Read the rest of this entry »

Meski memiliki lisensi sebagai operator layanan telepon tetap nirkabel (fixed wireless access, FWA), PT Telkom baru saja meluncurkan layanan Flexi yang bisa digunakan di seluruh daerah yang sudah memiliki jaringan Flexi. Wah, udah kayak operator seluler dong!

Kayaknya ini sudah bertentangan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Jaringan Tetap Lokal Tanpa Kabel dengan Mobilitas Terbatas.

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk meluncurkan layanan Flexi Combo yang dapat digunakan pada 200 kota di Indonesia dengan tarif lokal.

Direktur Utama Telkom Arwin Rasyid mengatakan, layanan Fleksi Combo memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk melakukan komunikasi. Selain mendapatkan satu nomor induk, pelanggan juga dapat mendaftarkan dua nomor temporer pada kode area lain yang akan dikunjungi. “Sehingga pelanggan dapat berkomunikasi dengan tarif lokal di kota yang telah didaftarkan,” kata Arwin Rasyid di Grha Cipta Caraka Jakarta hari ini.

Arwin menjelaskan dua nomor temporer tersebut dapat diubah setiap saat oleh pelanggan jika hendak bepergian ke kota lainnya dengan masa waktu tiap nomor tiga hari melalui pesan singkat ke nomor 777.

Sedangkan tagihan yang dibebankan kepada pelanggan akan dijadikan satu dengan nomor induk. “Berbeda dengan Flexi Combo sebelumnya yang membebankan tagihan secara terpisah pada tiga nomor berbeda yang didaftarkan pelanggan,” ujarnya. Eko Nopiansyah

[G!]

smscheaper.jpg

Bagi pengguna (dan penggemar) layanan seluler prabayar, segala kerepotan membeli voucher dan melakukan isi ulang adalah hal yang biasa. Tapi kalau dianggap itu sebuah “penderitaan”, salah satu operator GSM di Indonesia, menawarkan voucher yang masa berlakunya satu tahun!

Jakarta — PT Indonesia Satellite Corporation (Indosat) Tbk. meluncurkan kartu pulsa isi ulang yang memiliki masa aktif hingga satu tahun. Kartu ini untuk produk IM3, yang diberi nama Raja Voucher.

Direktur Pemasaran PT Indosat Tbk. Wahyu Wijayadi mengatakan produk ini, selain untuk kenyamanan kepada pelanggan dengan memperpanjang masa aktif, untuk mengurangi persentase kartu yang hangus atau tidak dapat digunakan akibat pelanggan terlambat melakukan isi ulang.

“Hingga Juni lalu, kartu hangus produk Indosat mencapai 12 persen. Dan hingga akhir tahun, kami mentargetkan jumlah itu berkurang menjadi 7 persen,” kata Wahyu kepada pers kemarin.

Dia menjelaskan, di produk baru itu, pelanggan akan mendapatkan bonus lima pesan pendek (SMS) gratis kepada pelanggan Indosat setiap pekan yang bersifat akumulasi.

Tahun ini Indosat mentargetkan mampu meraih tambahan pelanggan 3-4 juta orang dengan pangsa pasar 30 persen. Hingga akhir Juni, jumlah pelanggan Indosat mencapai 14 juta orang dengan pangsa pasar 27 persen. Perinciannya, pelanggan IM3 6 juta orang, Mentari 7 juta, dan Matrix 1 juta orang. l Eko Nopiansyah

[G!]

Pemerintah akan meninjau ulang izin awal telepon tetap nirkabel (fixed wireless access alias FWA) yang diberikan kepada operator telepon berbasis code division multiple access (CDMA). Berarti operator yang dimaksud: Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (esia) dan Indosat (StarOne). Mobile-8 (Fren), yang meskipun menggunakan teknologi yang sama, tapi lisensinya sebagai operator seluler (sebagai operator seluler GSM), tentu tidak masuk dalam daftar yang akan ditinjau.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil, peninjauan kembali izin awal itu lantaran ada indikasi operator CDMA telah mengubah telepon tetap menjadi seluler. Bahkan, kata dia, operator telah mengakali aturan perizinan dengan memanfaatkan teknologi. Ia mencontohkan, saat pergi ke Bandung, konsumen diberi nomor telepon tetap nirkabel Bandung. Begitu pula saat ke Surabaya, konsumen akan diberi nomor Surabaya. “Kami sedang memikirkan bagaimana mekanisme fixed wireless,” kata Sofyan kepada wartawan di Jakarta.

Namun, ia mengakui pemerintah belum bisa mencabut izin awal operator CDMA yang mengubah telepon tetap nirkabel menjadi seluler. “Secara hukum belum bisa,” ujarnya. (pramono). Koran Tempo, Selasa 4 Juli 2006

Indonesia memang satu-satunya negara yang operator FWA-nya menjual layanan seluler. Sejatinya, lisensi FWA yang mengandalkan teknologi CDMA2000 1x, diperuntukkan untuk menggantikan fixed-phone di daerah-daerah yang sulit yang tidak mungkin dibangun jaringan kabel PSTN-nya. Jadi, dengan tujuan dan skema ini, pastilah operator FWA beroperasi di daerah pedesaan, pegunungan dan pedalaman.

Lain halnya dengan Indonesia. Sejak awal, ketika lisensi FWA diberikan kepada Telkom, pasar pertama dan utamanya justru kota metropolitan Jakarta. Benda dengan handset operator FWA yang ada di pedalaman India atau Afrika (handset rumahan), handset yang ditawarkan Telkom Flexi adalah handset yang benar-benar mobile dan sudah setara ponsel seluler GSM. Layanan yang ditawarkan pun tak ubahnya seperti seluler. Dengan demikian, layanan FWA di Indonesia benar-benar sudah jadi layanan seluler.

Nah, kalau baru sekarang, pemerintah mau menertibkan ini, apakah tidak terlambat? Apanya yang mau ditinjau ulang? Kenapa hal ini tidak diatur sejak awal? Apakah semua handset pengguna Flexi, Esia dan StarOne mau ditarik dan diganti dengan handset rumahan? Apakah operator-operator FWA akan diminta hanya menawarkan layanan panggilan dan SMS, dan melarang layanan unduh nada dering, games, wallpaper dan seterusnya yang merupakan layanan seluler? [G!]

SESO902wp.jpgBagi yang hobi menyelam, tak perlu khawatir kalau harus kehilangan kontak dengan dunia. Sony Ericsson menawarkan ponsel tahan air SO902WP+ yang bisa digunakan untuk mengirim foto dan rekaman video langsung dari bawah laut. Beroperasi di jaringan generasi ketiga (3G) W-CDMA, ponsel ini baru bisa dinikmati oleh pengguna layanan NTT DoCoMo di Jepang. [G!]

Sumber

PT Bakrie Telecom, salah satu operator layanan suara dan data fixed wireless terkemuka di Indonesia, memperbesar kapasitas dan jangkauan transmisi jaringan nirkabelnya secara signifikan dengan radio access, switching dan solusi optikal terbaru dari Nortel.

Dengan peningkatan kapasitas jaringan CDMA2000 1X tersebut, mencakup daerah Jakarta dan sekitarnya serta 15 kota di Jawa Barat dan provinsi Banten, memungkinkan Bakrie Telecom memenuhi permintaan pelanggan yang semakin meningkat terhadap layanan komunikasi suara dan akses Internet broadband fixed wireless, komunikasi data dan faks dengan merek Esia.

"Kami telah mencetak pertumbuhan sebesar 55 persen selama kuartal pertama tahun 2006 dan akan terus bertambah hingga mencapai kurang lebih 1,35 juta pelanggan di akhir 2006, atau dua kali lebih besar dibanding total tahun lalu," kata AG Rao, Chief Technical Officer, PT Bakrie Telecom.

Solusi Nortel untuk Bakrie Telecom terdiri atas CDMA Metro Cell Base Transceiver Stations (BTS) baru yang memungkinkan pertumbuhan jaringan yang hemat biaya dan tanpa hambatan, perlindungan investasi saat ini, melalui card upgrade ke infrastruktur 1xEV-DO generasi ketiga (3G) dari Nortel.

Pada jaringan intinya, Bakrie menggunakan DMS-MTX Circuit Switching Platform fleksibel dari Nortel yang memungkinkan pelanggan dapat menerima pelayanan yang dapat diandalkan secara terus menerus. [G!]

Sebuah e-mail dari pengakses Weblog [theGadget!] masuk ke Inbox saya. Rekan yang berdomisili di Jakarta itu menulis: “Saya ingin migrasi total dari GSM ke CDMA. Bagusnya pilih layanan yang mana? Flexi, Esia, StarOne, atau Fren?”

Keempat layanan tersebut menggunakan teknologi CDMA2000 1x. Namun meski teknologinya sama, tapi ada di antaranya yang memiliki lisensi berbeda. Telkom (Flexi), Bakrie Telecom (Esia) dan Indosat (StarOne) memiliki lisensi fixed-wireless access (FWA), sedangkan Mobile-8 (Fren) berlisensi seluler.

Apa bedanya? Lisensi FWA menggunakan penomoran telepon biasa yakni menggunakan kode are misalnya 021 untuk Jakarta, sedangkan seluler mengikuti kaedah penomoran seluler lainnya yakni awalan 08xx. Itu artinya, layanan FWA tidak bisa dibawa-bawa ke luar kota –kecuali sementara mau diganti nomor baru setempat, sedangkan layanan seluler bisa dibawa ke mana-mana sepanjang ada layanan dan jaringannya di situ.

Perbedaan lisensi ini juga berdampak pada tarif. Tarif CDMA FWA relatif murah mengikuti penarifan telepon biasa (fixed-line) (lihat tarif Flexi, Esia, StarOne), sedangkan CDMA seluler mengikuti tarif layanan GSM pada umumnya (lihat tarif Fren) — karena operator harus bayar BHP frekuensi dan lain sebagainya, sementara operator FWA tidak perlu.

Jadi Anda tinggal memilih. Kalau lebih banyak berada di dalam kota, sebaiknya pilih Flexi, Esia atau StarOne. Namun jika Anda sering ke luar kota, misalnya hampir tiap bulan, mungkin Fren lebih tepat untuk Anda.

Saya sendiri saat ini menggunakan Flexi (jatah dari kantor sih), tapi minggu depan mau segera ganti ke Esia. Bukan apa-apa. Bukan karena Esia lebih murah, tapi karena di rumah saya di Pondok Aren (berbatasan dengan Bintaro Jaya Sektor IX) sinyal Flexi sering hilang-hilang timbul.

Kenapa? Secara teknis, Esia yang nangkring di frekuensi 800 Mhz memang jauh lebih kuat sinyalnya dibanding Flexi yang menghuni frekuensi 1900 MHz (yang sebentar lagi juga sudah harus pindah karena frekuensi tersebut adalah jatahnya 3G GSM: W-CDMA/UMTS).

Namun, berbeda dengan rekan yang mengirim e-mail di atas, saya tidak mematikan nomor GSM saya — setidaknya untuk saat ini, tapi lebih sering saya gunakan untuk menerima telepon dan SMS saja. Soalnya nomor ini sudah terlanjur tersebar. [G!]