TV + Internet di Kulkas

27, February, 2006

Egadge-smartzipel.jpgSemua barang yang di rumah tampaknya akan terhubung ke Internet. Contohnya kulkas buatan LG: GR-D267DTU, kulkas Internet pertama yang diumumkan pada Juni 2000 di Korea Selatan. Kini datang lagi kulkas serupa dari Samsung yang dinamai Smart Zipel (lihat foto). Istilah Zipel muncul pada 2001 untuk menyebutkan kulkas Internet buatan Samsung.

Berbeda dengan produk LG, kulkas Samsung terhubung dengan jaringan rumah secara nirkabel. Kulkas itu bisa mengakses televisi dan barang elektronik lain yang memiliki kompatibilitas dengannya. Memiliki layar berukuran diagonal 10,4 inci (sekitar 26 sentimeter), Smart Zipel merupakan kulkas dua pintu. Layar web pad terletak di pintu kanan. Kapasitas kulkas ini 756 liter. Samsung belum merilis spesifikasi detail dan harga produknya itu.

Advertisements

Horor bagi Hollywood

21, July, 2003

Begitu konsumen memegang kendali teknologi baru ini, Hollywood akan kesulitan merebutnya kembali.

SARAH Michelle Gellar tak perlu pontang-panting pulang hanya untuk menyaksikan program televisi kesayangannya. “Meski jadwal syutingku sangat ketat, tak berarti aku harus kehilangan program favoritku,” ujar pemeran utama film seri Buffy the Vampire Slayer ini.

Sarah tak perlu repot mengontak stasiun TV untuk meminjam rekaman tayangan itu. Ia hanya mengandalkan perekam video TiVo yang sebelumnya sudah dipasang dengan fasilitas Wishlist untuk merekam acara itu. Sebelum menikmatinya, ia juga bisa mengedit hasil rekamannya–misalnya dengan menyingkirkan iklan-iklan.

Namun, yang membuat aktris berusia 25 tahun kelahiran New York ini terpesona oleh TiVo adalah kemampuannya merekam film-film video sepanjang 80 jam. Setidaknya 30-35 judul film DVD (digital video disc) bisa disalin ke dalam TiVo, dan semua judul akan muncul dalam daftar di layar TV. “Jadi, tidak perlu lagi repot memasukkan atau mengeluarkan DVD ke player,” ujarnya.

Tahan dulu rasa takjub Anda. Selain TiVo–kini baru beredar di Amerika Serikat dan Inggris–juga ada Replay TV. Menurut The New York Times, TiVo sudah berhasil menggaet lebih dari 1,5 juta pembeli, sementara Replay baru meraih setengahnya.

Namun, di luar dugaan, ada pihak yang merasa terancam: Hollywood. Mengapa?

Perkembangan mutakhir jagat teknologi informasi bergulir amat cepat hingga tak bisa diantisipasi oleh kalangan industri seperti pusat industri film di Los Angeles itu. Kemudahan dari
sisi konsumen ternyata bisa mengundang kesulitan dari sisi produsen. Menurut Heather Green dalam Business Week, setidaknya ada empat terobosan teknologi yang membuat konsumen semakin mudah melakukan download, menyalin, dan berbagi film di internet: standar kompresi MPEG (moving picture experts group) 4, teknik penyimpan, peranti DVD dan perekam video pribadi, dan teknologi nirkabel kecepatan tinggi Wi-Fi (wireless fidelity).

Dari situlah ancaman berawal. Standar kompresi MPEG-4 mampu menyusutkan file audio dan video menjadi tiga kali lebih kecil. Program ini juga akan dimasukkan ke komputer, stereo, pemutar CD, dan DVD. “Sebuah MP3 video,” ujar analis Lou Latham dari Gartner Inc. Pada era 1990-an, MP3 berhasil membuat industri musik kelabakan karena mampu menyusutkan file audio menjadi sangat kecil sehingga bisa menyimpan hingga 250 lagu dalam satu keping CD dan bisa dibagi-bagi hanya dengan koneksi dial-up melalui fasilitas di situs-situs seperti Napster.

Jika film-film DVD dapat disusutkan ukurannya menggunakan standar MPEG-4, tentu setiap orang dapat pula membagi-bagikannya via internet–apalagi dengan menggunakan koneksi Wi-Fi. Penyimpanan yang makin murah dan kapasitas yang makin besar juga mendukung gagasan ini. Jangan lupa, TiVo bisa men-download-nya ke pesawat TV, dan konsumen bisa menikmati film sekualitas DVD tanpa harus punya pemutar DVD.

Untuk tahap awal, setidaknya tiga judul film DVD bisa disimpan dalam satu cakram DVD. Diperkirakan, perkembangan MPEG-4 berikutnya akan mampu menyusutkan file lebih kecil lagi, dan itu berarti jumlah film yang bisa disimpan dalam keping DVD menjadi semakin banyak pula.

Berbeda dengan pendahulunya, MPEG-1, yang hanya bisa jalan di CD-ROM, dan MPEG-2 pada pemutar DVD dan TV digital, MPEG-4 lebih luwes. Berbasiskan format file QuickTime, standar baru ini bisa dijalankan secara lebih luas (scalable delivery), mulai dari telepon seluler hingga TV satelit.

Itulah yang dikhawatirkan oleh Hollywood. Film-film terbaru dengan kualitas tinggi bisa dengan mudah disalin, disebarluaskan di internet, ataupun dijual dalam format DVD dengan beberapa buah judul sekaligus. Konflik kepentingan multidimensi pun akan terjadi: antara perusahaan teknologi, konsumen, dan Hollywood.

Menurut Heather, itulah kisah horor paling nyata bagi Hollywood. Karenanya, pusat perfilman ini harus bergegas mencari solusi yang dapat menyeimbangkan hak konsumen dan hak cipta sehingga tak ada yang dirugikan. “Begitu konsumen memegang kendali teknologi baru ini, Hollywood akan kesulitan merebutnya kembali,” ujarnya. Dan Sarah Michelle Gellar, boleh jadi, akan menjadi salah satu korbannya.

Budi Putra

TEMPO Edisi 030330-004/Hal. 74      Rubrik Teknologi Informasi

TV Digital yang Sangat Personal

10, September, 2002

Kunci untuk membayangkan televisi masa depan adalah memandangnya bukan sebagai televisi. Sejauh ini, TV sudah meraup keuntungan terbesar dari gagasan penyiaran dalam bentuk digital. “Siaran berita jam 6 bukan hanya dikirim ketika Anda menginginkannya, tetapi dapat diedit untuk Anda dan diakses secara acak oleh Anda,” ujar seorang peneliti multimedia. Pendeknya, TV masa depan adalah semacam PC yang tentulah sangat serbaguna dan bersifat interaktif.

Memang terjadi perubahan mendasar ketika kita menikmati program-program lewat TV digital dibanding TV analog sebagaimana yang lazim kita kenal selama ini.Fungsi remote control misalnya, bukan lagi sekadar untuk pindah saluran atau mengubah volume, tapi bisa digunakan menjadi semacam mouse yang bisa mengarahkan kursor untuk berbagai keperluan. Mulai dari mengubah ukuran tampilan layar, membuka situs-situs media, hingga mengecek surat elektronik.

Secara teknis, hal itu juga dimungkinkan oleh makin majunya kualitas layar TV. Sebelumnya dengan jumlah garis scan yang sangat terbatas pada TV biasa, jika menonton dalam jarak dekat, mata kita bisa perih. Kemudian muncul teknologi yang mengubah gagasan ihwal garis scan yang sebelumnya dibentuk per gambar seperti layar TV biasa, menjadi garis scan per inci seperti layar komputer modern.

Di negara-negara maju, tingkat konsumsi terhadap TV digital sudah cukup besar. Di AS misalnya, lebih dari 50 persen rumah tangga, kini sudah memiliki akses ke TV digital. Selain karena tingkat ekonomi, gaya hidup masyarakat di sana juga sangat berpengaruh. Hasil penelitian West LB di Düsseldorf misalnya, menunjukkan bahwa warga Jerman menghabiskan 37 persen waktu senggangnya di depan TV.

Namun, bagi konsumen di negara-negara berkembang kemampuan untuk memiliki TV digital masih jadi soal. Hal itu disebabkan harga pesawat TV digital masih sangat mahal yaitu US $4,500 hingga $15,000 atau dengan kurs 1 USD = Rp7000 setara dengan Rp31.500.000 hingga Rp105.000.000. Di beberapa negara, pada tahun 2003-2005 mendatang, harga ini diharapkan turun menjadi sekitar US$ 1,000 atau Rp.7.000.000. Namun demikian, evolusi TV digital jelas sangat dipengaruhi oleh pasar sehingga lambat laun harga tersebut akan turun. Dan jika siaran TV digital telah menjangkau secara nasional maka harga TV digital juga akan terjangkau masyarakat banyak.

Pada saat yang bersamaan, sebetulnya ada faktor lain yang membuat TV digital bisa laku keras, yakni keberadaan DVD. “Hal itu disebabkan DVD mampu menampilkan segala sesuatu yang dijanjikan TV digital – dari gambar sekualitas bioskop hingga interaktivitas internet tanpa perlu tambahan biaya untuk meng-upgrade jaringan kabel atau satelit Anda,” demikian tulis Wired, majalah teknologi terkemuka. Pasangan DVD-TV digital akan menghadirkan gambar sekualitas bioskop dan suara yang mempersona. Kualitas DVD memang sangat jauh di atas pendahulunya, VCD – yang relatif lebih banyak digunakan saat ini di Indonesia.

DVD hanyalah salah satu faktor yang ikut mendorong pertumbuhan TV digital. Yang jelas, “ketika Anda memiliki pemutar DVD plus TV digital, Anda akan tahu betapa transisi digital sedang terjadi,” ujar seorang juru bicara retailer DVD. Termasuk transisi yang evolutif dari teknologi analog menuju digital.

Mengapa perlu masa transisi? Alasan utama adalah melindungi puluhan juta pemirsa yang telah memiliki TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Selain itu juga untuk melindungi industri dan investasi operator TV analog yang telah ada.

Beberapa negara Asia Pasifik yang telah mulai menerapkan TV digital seperti Singapura dan Australia menggunakan teknologi DVB-T (Digital Video Broadcasting – Terrestrial) yang merupakan standar Eropa. Selain standar Eropa (DVB-T), untuk TV digital terdapat pula standar TV digital dari Jepang (DTTB) dan Amerika (ATSC). Hal ini merupakan kelanjutan dari tiga standar TV analog, yaitu PAL (Eropa), NTSC (Amerika) dan SECAM (Jepang). Walaupun demikian saat ini terdapat usaha-usaha untuk melakukan standarisasi teknologinya, sehingga memudahkan untuk diproduksi secara masal dan akhirnya membuat harga produksi menjadi murah.

Namun, para pemirsa tetap dapat menikmati siaran digital dengan memanfaatkan pesawat TV analog yang ada saat ini dengan menggunakan ‘set top box’ atau semacam dekoder. Harga per unit dekoder digital tersebut jauh lebih murah dari TV digital, yakni berkisar US$200 per unit atau setara dengan harga TV analog berwarna 14” saat ini.

TV digital jelas akan mengubah cara pandang kita dalam menikmati siaran yang disajikan. Dengan fasilitas on demand, Anda bisa memilih sendiri waktu dan program yang disukai. Kebanyakan program TV – kecuali pertandingan olahraga dan hasil pemilu – tidak perlu lagi disiarkan langsung, apalagi harus mengagendakannya dalam jadwal tayang yang ketat. Istilah jadwal tayang prime-time atau bukan, sudah tak relevan lagi. Setiap orang hanya akan menonton acara yang disukainya, kapan pun ia mau dan punya waktu.

Koran Tempo 01/Sep/2002  e-culture